Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Santri Bajingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Santri Bajingan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2015

Cinta Tanah Air VS Nasionalisme

Cinta itu naluriah. Cinta pada tanah air itu bagian dari naluriah. Sama dengan cinta pada lawan jenis atau cinta pada harta. No problem. Sebab sesuatu yang naluriah itu bisa menjadi sebuah masalah hanya ketika ia disalurkan. Makanya Tuhan kasih kita aturan (agama), mengirimkan kepada kita Rasul. Untuk apa? Agar potensi masalah itu tidak kemudian benar-benar menjadi masalah. Lalu bagaimana dengan Nasionalisme??

Berbeda dengan cinta, nasionalisme bukanlah naluriah. Nasionalisme adalah sebuah doktrin yg mengharuskan adanya penyerahan kesetiaan tertinggi pada negara. Tentu tidak masalah juga kalau negara itu adalah negara baik-baik, dalam arti fungsi ke-negara-annya benar-benar hanya sebagai wadah bagi rakyatnya dalam mengapresiasi kesetiaannya pada Tuhan. Bagaimana jika sebaliknya. Negara justru menjadi kekuatan yg melarang rakyatnya untuk setia pada Tuhan??

Bah!! Dimana pula logikanya bahwa cinta tanah air adalah sebahagian dari iman??

Hebatkah membahas ini? Sebenarnya memang bukan hal hebat, tetapi penting diketahui agar kita tidak terjebak pada kesetiaan yang bukan semestinya, dan agar kita semua bisa mengambil bagian-sekecil apapun- dari upaya melepaskan kaum muslimin dari perbudakan ideologi-ideologi produk manusia.
Banyak diantara kita tidak menyadari bahwa sesunguhnya kita ini benar-benar telah keliru memahami banyak hal sebagai akibat dari opini-opini yang terus disosialisasikan para missionaris maupun media-media anti Islam. Missionaris yang bukan hanya dari non muslim tetapi justru dari kalangan muslim sendiri.

Penting! Muslim missionaris begini ini perlu dicerahkan. Perlu dicash otaknya. Mudah-mudahan batereinya masih bagus.

Ada yang bilang, sudahlah. Syukuri saja apa yang ada, yang penting damai, jangan saling membenci. Memang betul, bersyukur itu wajib, berkasih sayang itu harus, saling benci itu jauhkan. Tapi apa hanya dengan begitu tugas kehambaan kita jadi selesai?? Ternyata tidak. Setelah bersyukur, berkasih sayang dan tidak saling benci, kita juga wajib amar makruf nahi mungkar. Wajib dakwah. Wajib perang opini, wajib bilang benar yang benar dan bilang salah yang salah. Apa boleh buat, sudah seperti itulah jejak yang ditinggalkan Muhammad, dan kita sudah komitmen untuk mengikuti jejaknya, bukan??

Soal benar salah. Menurut siapa?? Standarnya mesti menggunakan benar salah versi Tuhan. Kalau nilai benar salah menggunakan standar menurutnya manusia pasti kacau. Manusia itu banyak. Fikiran, rasa, kemampuan dan seleranya juga beda-beda. Bahwa ada yang namanya suara mayoritas, okelah. Fakta manusia yang seperti inilah memang sehingga lahir konsep demokrasi yang katanya dari rakyat ke rakyat dan untuk rakyat itu. Persoalannya adalah, apakah ada jaminan bahwa keinginan suara mayoritas itu selalu baik dan selalu selaras dengan keinginan Tuhan?? Jawabnya pasti tidak. Kenapa? Faktanya sejak jaman pra sejarah, manusia-manusia itu hobbynya menantang aturan Tuhan. Uniknya lagi, jumlahnya selalu mayoritas. Nah, kalau manusia-manusia para penantang Tuhan yang jumlahnya selalu mayoritas itu berkehendak sesuatu yang menyelisihi apa kehendak Tuhan lantas kita pun yang mengakui diri beriman ini harus mengikutinya, apa itu bukan SALAH namanya??

Muhammad telah hadir membawa Islam yang sempurna. Islam yg tidak hanya memiliki aturan tentang hidup sebagai individu tetapi juga mengenai kemasyarakatan dan kenegaraan. Nah, kenapa pula Negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim mesti hambur-hambur uang agar rakyat memilih orang-orang biasa (legislator) sebagai pembuat undang-undang tandingan?? Coba kalau uang itu dipakai untuk mensejaterakaan rakyat. Mungkin acara fiknik bersama keluarga kita tidak lagi harus terganggu oleh rengekan para pengemis jalanan. Mungkin wanita-wanita ibu rumah tangga kita tidak lagi harus meninggalkan suami dan anak-anaknya keluar negeri menjadi pembantu rumah tangga, atau bahkan menjajakan tubuh-tubuhnya.

Kita sepakat, al-qur’an itu sudah final. Tujuan hidup itu adalah mengabdi pada pencipta, Allah. Syarat pengabdian itu apa?? Ikhlas semata karena-Nya, dan caranya harus sesuai dengan yang di contohkan Rasul-Nya. Jadi, sebuah aktivitas yang keluar dari salah satu syarat itu, misalnya membantu orang miskin agar mendapatkan suaranya dalam pemilu, tidak usahlah dirasa sebagai pengabdian. Tidak usahlah dikira sebagai ibadah. Mana pernah Muhammad mengajarkan shadaqah politik. Biasa sajalah, seperti halnya dulu kalau kita main kelereng semasa kanak-kanak. Tidak dosa tapi juga tidak dapat pahala. Netral. Mubah, bahasa gaulnya.

Makassar, 23 Maret 2014

Kamis, 12 Februari 2015

BAIK, AKU MASUK DALAM FIKIRANMU, LIBERALIS!

Serial Pemikiran Santri Bajingan - 8
26 September 2014

Terkadang kita duduk pejamkan mata, melihat diri di kelampauan 5, 10 atau 20 tahun lalu  yang perkasa, yang gagah dan bernyali luar biasa, lalu pada suatu ketika, ketika kita mendapati kedua tangan kita dengan kedua ibu jarinya menekan-menekan mata yang sedang khusyuk berpejam itu, bersiku diatas meja yang sekaligus berfungsi menopang berat kepala hingga tak sampai tersujud, kita temukan berbagai jawaban dari barisan pertanyaan panjang yang tak pernah bisa dijawab oleh buku, ijasah atau jasa konseling.

Mungkin. atau katakan sajalah iya.

Ah, kalau saja. Kalau saja apa?? Hempaskan lintasan itu sebelum menjelma menjadi kata. Sebab mungkin itu sudah pasti tak mungkin. Kau pikir waktu adalah seperti jam dinding yang kacanya bisa kau pecah lalu salah satu jarimu menyentuh dan memutar jarumnya sesuka putaran yang kau mau? Kau fikir dirimu seperti hikayat manusia goa yang terlelap hingga dinar yang digenggamnya tak lagi laku oleh karena musim beberapakali telah berganti? Tidak. Manusia-manusia seperti itu terlalu tak mungkin ada lagi di era nano teknologi ini. Era dimana penemuan sampah plastic berisi orok bayi telah hampir sama banyaknya dengan kardus-kardus kosong bekas tempat kondom yang dibagi gratis oleh ibu menteri. Era dimana fenomena cinta sesama jenis sebagaimana kaum Luth yang terbinasakan itu telah merengsek masuk ke parlemen oleh beberapa aktivis yang menyebut dirinya sebagai cendekiawan muslim.

Tak masalah, feminisme, human right, freedom of apa saja harus terus didengungkan oleh sebab kita adalah bangsa yang besar, beradab dan berpancasila sehingga oleh karena itu pula kita tak boleh terjebak pada klaim kebenaran pada hanya satu agama. Semua agama benar. Semua agama mengutuk ibu yang memasukkan bayi-bayinya kedalam tas kresek lalu membuangnya kepinggir jalan bercampur sampah kota. Semua agama mengutuk kekerasan apalagi bom bunuh diri.

Tetapi apakah semua agama juga membenarkan pembagia-bagian kondom gratis pada para pejantan yang kebelet bersenggama tetapi tak ingin spermanya membuahi sel telur sang peminim? Ya, semua agama membenarkan itu. Kita harus berkata begitu. Sekali lagi, jangan terjebak berkata tidak boleh atasnama agamamu  jika bagi agama-agama lain boleh.

Menggugat Tuhan atau memampang spanduk besar bertulis Tuhan telah membusuk, itu adalah hak asasi manusia. Hak Asasi Manusia juga jika menembak kepala seseorang yang sedang sholat kerena terlapor sebagai teroris. HAM juga jika lelaki dan lelaki atau wanita dan wanita hidup serumah layaknya sebagai sepasang suami istri. Menikahi gadis yang telah baligh dan sudah memiliki hasrat biologis tinggi tetapi masih berumur dibawah 18 tahun itu justru melanggar HAM.

Agama punya garis jelas berbudaya dengan hukum Halal dan Haram. Tetapi menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal kini semuanya boleh asal saja atas nama HAM.

Apakah HAM itu lebih tinggi dari agama? Ya, karena manusia itu sebagus-bagus ciptaan. Manusia kini lebih pintar dari penciptanya. Tuhan membuat aturan A, manusia membuat aturan B. Pencipta menyeru agar hukumnya diterapkan, ciptaan menghadangnya dengan Hak Asasi Manusia.

Dalam Negara Demokrasi, Tuhan tidak lagi mampu otoriter sebagaimana ketika mengusir iblis dari sorga. Suara Tuhan hanya satu. Pasti tak bisa mengalahkan voting, pemilihan langsung atau melalui Perwakilan Rakyat.

Beragamalah secara sederhana, tidak usah melaksanakan agama itu secara menyeluruh. Kenapa? Karena melaksanakannya secara menyeluruh pasti konsekwensinya berhadapan dengan konstitusi Negara. Negara kita suka pada rakyat yang beragama secara ruhaniah saja. Siritual saja. Standar-standar saja. Membawa-bawa agama pada soal bisnis apalagi politik itu hanya menjadi bahan tertawaan mereka yang merasa muslim moderat lantaran pemikiran-pemikirannya sejalan dengan buku-buku barat. Lihatlah betapa dianggap bar-bariannya kelompok Islam yang menentang maksiat, atau mereka yang mempersoalkan kepemimpinan Ahok yang non muslim.

Muslim itu banyak yang korup, mesum dan sebagainya. Kenapa harus mempersoalkan Ahok yang nasrani tetapi pemberani, ceplas-ceplos dan bersih? 

Akhlak orang-orang Islam itu bobrok. Dana haji disikat, bantuan sapi di embat, ustads-ustadsnya banyak yang cabul. Aturan-aturan sosial Islam itu adalah aturan yang gagal. Maka terkutuklah kalian FPI yang suka ambil pusing pada prilaku sakit masyarakat. Terkutuklah kalian kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan syariat Islam. Kenapa mesti menggunakan syariat Islam? Kenapa tidak ikut saja pada syariat demokrasi dan HAM? Milik agama apakah itu demokrasi, HAM dan kebebasan? Semua agama memilikinya? Semua Agama benar? Diantara yang benar, adakah yang paling benar, atau standar saja semua? Tidak penting lagi bicara itu.
Era kini adalah eranya pluralisme. Konon kita semua anak-anak Ibrahim. Ibu-bapak kitalah yang telah mengkotakkan-kotakkan kita menjadi Islam, Yahudi atau Nashrani. Anak-anak yang lahir tanpa diketahui siapa bapaknya memilikikah watak persaudaraan iman yang lebih baik? Betulkah begitu?

Ah, kalau saja. Kalau saja apa?? Hempaskan lintasan itu sebelum menjelma menjadi kata. Sebab mungkin itu sudah pasti tak mungkin.




SEJARAHNYA TELANJANG

Serial Pemikiran Santri Bajingan - 7
05 September 2014

Baru saja saya membaca beberapa ayat dari surah Al- A’raf (11-26), dan itu lalu menginspirasiku menulis tulisan dibawah ini. Mohon dikoreksi jika ada kalimat-kalimatku yang meluncur bebas dan keluar dari konteks tafsir semestinya.

**************
Dulu sekali, dalam ketenteraman dan kedamaian masyarakat penghuni langit, tiba-tiba pada malaikat, Tuhan berkata:

“Aku akan jadikan Adam (manusia) sebagai khalifah di muka bumi.

Para malaikat tercengang, terkejut, heran dan saling bertanya.

“Bumi itu apa?”

“Bumi adalah sebuah planet dimana disana dimungkinkan makhluk hidup berkembang biak”

“Mengerikan”

“Ya, mengerikan, namanya juga belum pernah terhuni”

“Apa Adam mampu? Dan kenapa pula bangsa manusia yang terpilih?”

“Kurang tepat jika soal mampu atau tidak, tetapi apa Adam rela, apa Adam tidak merasa terdzalimi? Bukankah kehidupan disini sudah sangat nyaman dan indah?”

Fenomena Adam pun menjadi ramai dibicarakan. Pro dan kontra terjadi, bahkan santer pula berita-berita miring tentang manusia terdengar. Kira-kira mirip-mirip negatif campaign atau black campaign dalam sistim pemilu demokrasi.

Tetapi Tuhan telah bulat dengan keputusannya. Pilihannya telah mantap pada Adam. Kepemimpinan adalah hal paling urgen untuk sebuah peradaban. Bagaimana mungkin masalah itu diserahkan begitu saja ke tangan suara mayoritas??

Malaikat, makhluk mulia yang khusus dicipta sebagai pesuruh-pesuruh Tuhan, makhluk pekerja yang menjunjung tinggi loyalitas dan profesionalisme, makhluk yang dicipta dari inti cahaya, makhluk yang tidak memiliki potensi negatif sedikitpun, pada akhirnya tak kuasa menahan diri dan melakukan protes. Tuhan pun pada posisi tergugat.

“Kenapa mesti Adam yang Engkau pilih sebagai khalifah fil ardhi, Tuhan? Bukankah tabiat mereka hanyalah dengki, perang, saling bantai, bunuh-bunuhan dan bertumpah darah?”

Menyikapi aksi protes itu, marahkah Tuhan? memintakah Dia pembuktian malaikat bahwasanya tuduhan pada bangsa manusia itu bukan sekadar fitnah. Tidak. Tuhan tidaklah marah atas sikap agresif malaikat itu. Menanggapinya, Tuhan hanya memberi komentar singkat.

“Aku lebih mengetahui apa yang kalian belum ketahui”. KataNya.

Mendengar jawaban-Nya yang amat sangat diplomatis itu, malaikat pun serempak bersimpuh seraya bersaksi:
“Maha suci Engkau ya Allah, tak setitikpun ilmu yang kami miliki kecuali semua atas ijin-Mu jua”.

Maka pada babak selanjutnya, sebagai konsekuensi atas penunjukan Adam sebagai khalifah, diajarkanNyalah padanya segala nama, Dia pinjamkanlah 99 asmaul husnah-Nya. Untuk apa? Agar kelak manusia juga bisa mencipta sebagaimana Dia adalah pencipta.

Dia ciptakan pula surga dan neraka, bukan untuk kesenangan atau kemarahan-Nya, tetapi begitulah cara Tuhan mengajari, bagaimana manusia-manusia itu kelak mampu mengelola bumi, mengelola binatang dan tumbuh-tumbuhan, sumber daya alam, tanah, laut dan udara, pun mengelola sumber daya sesama manusianya sendiri. Reward and Punishment.

Evolusi terus berjalan. Tibalah kini hari paling bersejarah dari seluruh sejarah kehidupan ini. Hari itu adalah hari penganugerahan manusia sebagai makhluk termulia. Pada hari itu, lewat dialog dan titah, Tuhan secara langsung hadir ditengah para hadirin.

“Wahai para malaikat, Bersujudlah kalian pada Adam!!” Suara Tuhan membuat langit bergetar.

Tanpa pikir panjang dan banyak tanya lagi, malaikat pun seluruhnya segera bersujud kecuali satu diantara mereka bernama Iblis. Berbeda dengan malaikat lainnya yang bergenetik cahaya, Iblis adalah makhluk bergenetik api. Sejarah pembangkangan pun dimulailah dari sini.

“Apakah yang menghalangimu tidak bersujud pada Adam, padahal Aku yang menyuruhmu, wahai Iblis?” Tanya Tuhan.

“Tuhan, bagaimana mungkin aku yang Engkau cipta dari api bersujud pada dia yang Engkau cipta dari tanah. Bukankah aku lebih muliia?” Jawab Iblis penuh percaya diri.

Diluar dugaan, betapa murkanya Allah atas logika konyolnya itu. Logika yang sebenarnya belum tentu salah, hanya saja substansi masalah disini bukan pada benar salahnya sebuah alasan, bukan soal bahwa berpendapat itu adalah hak asasi. Sujudlah disini adalah soal Tuhan dan Hamba. Perintah dan loyalitas. Menolaknya adalah sama dengan mengusik harga diri-Nya.

“Keluar! Keluar kamu dari sorga ini. Sungguh tidak layak kamu menyombongkan diri didalamnya. Ketahuilah, sejak hari ini kamu sesat dan hina”

Dalam catatan sejarah manapun, inilah kali pertama Tuhan murka. Murka yang benar-benar murka dan sekaligus menjawab spekulasi tauhidisme iblis, bahwa Tauhid tertinggi dan benar itu ternyata bukan semata ketidak tundukan pada apapun selain pada-Nya, tetapi juga bagaimana seorang hamba tahu menempatkan diri secara tepat, ditempat yang tepat.

Mendengar putusan Pengadilan Ilahi tersebut, Iblis tertunduk. Mungkin ia sedang meratapi nasibnya. Tuhan tak mungkin lagi menarik kata-katanya. Tak ada lagi harapan taubat. Inilah takdirnya yang harus ia jalani.

“Baik, inilah takdirku. Meski begitu, aku tak boleh pasrah begitu saja, aku tak boleh mati begitu saja, aku harus tetap hidup. Jika aku terus hidup, akan kujerumuskan ummat manusia menjadi pembangkang-pembangkang Tuhan. Akan kugiring mereka menemaniku ke neraka jahannam.  Akan kubujuk dan kugoda mereka untuk lebih cinta dan lebih takut kepada materi daripada kepada Tuhannya. Akan Akan kulumpuhkan keimanan mereka dengan pujian, derita sakit, kemiskinan, kemuliaan, kemewahan, seks dan kekuasaan.” Iblis terus membatin.

“Baik, riwayat keshalehanku telah tamat. Inilah garis tanganku. Tetapi aku harus mengajukan banding kepada Tuhan. Tuhan maha adil, tak mungkin Dia melukai rasa keadilanku sedikitpun. Aku akan bicara pada-Nya atas nama Hak Azasi. Ya, Hak Azasi Manusi, kelak issu HAM ini juga pasti akan kujadikan senjata penyesatan manusia untuk menjadikannya alasan menolak beberapa hukum Tuhan”

Setelah terdiam dan berfikir cukup lama, wajah kusut dengan dahi mengerut kencang itu kini kembali normal. Tiba-tiba wajah Iblis berseri-seri.

“Berilah aku kekekalan hidup hingga mereka dibangkitkan, Tuhan!” Iblis mengajukan permohonan.

“Baik. Permohonanmu Ku-kabulkan. Ajalmu akan Ku-tangguhkan sepanjang kehidupan ini masih berlangsung”. Tuhan menjawab.

“Terima kasih, Tuhan. Tetapi karena manusia telah menjadi penyebab-Mu menganugerahiku kesesatan, aku bersumpah sejak hari ini akan selalu menghalangi manusia dari syariat-Mu yang lurus. Aku akan datangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Akan kubuktikan, bahwa manusia yang Engkau telah istimewakan itu, adalah makhluk yang tidak tahu bersyukur”.

Mendengar manifesto sang Iblis, Tuhan pun sekali lagi berfirman. FirmanNya yang kemudian menjadi hukum alam selamanya.

“Sesungguhnya siapapun diantara manusia yang mengikuti propagandamu, niscaya akan Ku-jadikan mereka batu bara neraka jahanam”

Bagaimana pula dengan Adam? Adapun kepada Adam, Tuhan memberikannya segala kemewahan sorga dengan satu larangan. Tuhan berfirman.

“Wahai Adam, tinggallah kamu bersama perempuanmu itu di dalam sorga, lakukan apapun yang kamu suka. Nikmati segala apapun yang bisa membuat rasamu nyaman. Tapi ingat, jangan sekali-sekali kalian mendekati pohon ini. Pohon ini misterius, dan tidak usah kau mencoba menguaknya. Jika kau melampaui batasan-Ku, maka sungguh kamu telah menzalimi dirimu sendiri”.

Mendengar ultimatum Tuhan pada Adam, Iblis yang telah bersumpah menjadi penyesat manusia itu melihat kebijakan ini sebagai peluang emas. Konspirasi pun mulai dirancang.

“Aku akan mengawali karir missionarisku dari sini” Batinnya.

Iblis lalu membisikkan pada kedua manusia itu hasrat negatif untuk saling menampakkan aurat. Saling memandang dan mneyelami. Ketelanjangan adalah hal tak terpisahkan dari sebuah proses reproduksi dan regenarasi, bukan?

“Dekatilah pohon itu! Bujuk Iblis.

“Tuhanmu melarangmu mendekatinya hanya agar kalian tidak menjadi seperti malaikat atau agar kalian tidak tinggal selamanya didalam sorga ini. Bukankah sungguh sebuah derita jika tak lagi berada dalam sorga?” lakukanlah! Sungguh aku hanya ingin kalian bahagia” Lanjutnya.

Iblis, makhluk paling lihai berdiplomasi itu terus saja membujuk dan merayu keduanya. Pada akhirnya, pencitraannya sebagai teman terbaik yang memang telah dibangunnya selama ini berhasil meluluhkan hati keduanya. Iblis memahami betul bahwa trik paling ampuh untuk melumpuhkan mangsa adalah : Yakinkan!!

Maka tatkala keduanya mencicipi buah terlarang itu, lalu mendapati diri mereka masing-masing dalam kondisi tak berpakaian, sadarlah kedua insan itu. Mulailah mereka menutupi tubuhnya dengan dedaunan. Kini, betapa kemaluan telah benar-benar membuat mereka malu dihadapan-Nya.

Tuhan pun berseru: “Bukankah Aku telah melarangmu mendekati pohon itu? Bukankah aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan itu adalah musuh paling nyata bagi kalian berdua?”

Mereka tersungkur, menyesal dan meratap.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tak mengampuni dan memberi rahmat bagi kami, niscaya kami benar-benar adalah orang yang merugi”.
Tuhan berkata:

“Turunlah kalian ke bumi. Bumi adalah tempat dimana kalian akan bermusuhan satu sama lain. Disanalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang ditentukan. Di sanalah kamu hidup, disana kamu mati, dan dari sana pulalah kalian akan dibangkitkan kembali”

***************
Begitulah. Seperti halnya iblis yang harus menerima takdir kesesatannya sebagai akibat dari kepongahannya yang tidak mau bersujud pada Adam. Dengan berbagai rentetan peristiwa yang melingkupinya, Adam beserta isterinya (Manusia), pada akhirnya juga harus menerima takdir kekhalifahannya, sebagai akibat dari ‘ketelanjangannya’ karena tergoda bujuk rayu Iblis. Kausalitas.

Kini, makhluk istimewa bernama manusia itu, suka atau tidak, rela atau tidak, harus pula menerima takdirnya terlempar dari taman langit. Tak ada lagi kata terzalimi, sebab setelah anugerah cinta-Nya, anugerah kebebasan pun telah diberikan-Nya.

Takdir kepemimpinan, takdir kekhalifahan fil ardhi adalah sebuah proses politik panjang. Proses yang melibatkan kebebasan manusia untuk memilih dan menentukan. Proses yang harus disadari pula bahwa, meski semua itu melibatkan kita sebagai aktor didalamnya, juga hasil dari proses itu tidak akan pernah lepas dari skenario Allah. Bahkan mungkin, rekayasa Allah, Dzat yang maha kuasa, dzat penggenggam jiwa-jiwa kita semua.

Akal, anugerah istimewa Tuhan pada kita ummat manusia ini, bukan untuk digunakan sebagaimana iblis menggunakannya pada saat perintah sujud pada Adam. Bukan pula untuk digunakan sebagaimana Adam menggunakan kebebasannya pada saat memilih atau tidak mendekati pohon itu.

Jika saja kearifan para fisuf besar dunia terbukti mampu menjadi solusi atas segala problematika ummat manusia, maka tentu Tyghan tidak perlu lagi menurunkan wahyu-Nya. Tuhan telah melengkapi kita pedoman hidup berupa Alqur’an, dan Rasul telah mewarisi kita keteladanan.

Bahwa Allah telah menciptakan manusia sebagus-bagus ciptaan, maka tentu hanya Allah pula yang tahu, aturan sebagus-bagus aturan apa yang terbaik untuk makhluk terbaiknya itu.

Manusia ditakdirkan menjadi khalifah fil ardhi. Kita semua seharusnya adalah pemimpin.


Akankah kita masih mencari pedoman kepemimpinan lain selain yang dari-Nya??

Amin Rais, Terima Kasih Bapak Menyadarkanku untuk Anti Jokowi

Serial Pemikiran Santri Bajingan - 5
10 June 2014

Suatu malam entah kenapa, saya benar-benar merenungi nasib bangsa ini. Sebuah pertentangan hebat sedang terjadi pada batinku. Saya pun meng-aduh pada Tuhan.

Tuhan, sebetulnya Engkau lebih tahu apa isi hatiku. Tetapi baiklah, biar isi hatiku kulafazkan saja agar kalimat-kalimatku ini sekaligus adalah penegasanku bahwasanya hamba bukanlah manusia diam, pasrah dan bermasa bodoh dengan negeri ini. Negeri yang merupakan rumah terbesar pengikut Rasul-Mu, Muhammad.

Sejujurnya saya sedang galau dengan pilpres 2014 ini. Ada Jokowi yang orang bilang dia baik, sederhana dan merakyat. Ada Prabowo yang orang juga bilang bahwa dia baik, tegas dan pemberani. Kedua-duanya sedang meminang Ibu Pertiwi. Tetapi Tuhan, persoalannya justeru disini, meski saya memanglah bukan orang sholeh sebagaimana kriteria orang-orang sholeh yang ada dalam kitab suci-Mu, tetapi saya tetaplah sangat percaya bahwa suatu bangsa hanya akan menjadi bangsa yang berbahagia manakala bangsa itu taat pada hukum atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh-Mu, bukan pada aturan-aturan yang dibuat oleh sesamaku manusia apalagi oleh para legislator produk pemilu suap-menyuap itu.

Saya juga sangat percaya bahwa sebenarnya akar masalah dari seluruh problem bangsa ini adalah tidak pernahnya para penguasa negeri ini mau mengadopsi aturan-aturan-Mu dan menjadikannya sebagai hukum formal Negara secara menyeluruh.

Dan jujur saja, sampai hari ini saya pun belum menemukan referensi memadai bahwa kedua atau salah satu dari mereka itu adalah hamba-hamba yang benar-benar taat menghambakan diri hanya kepada-Mu, bukan hamba yang menduakan-Mu dengan yang lain. Lalu bagaimana saya memilih salah satu, Prabowo atau Jokowi??
Begitulah inti dari pergolakan batinku yang kukeluhkan pada Tuhan malam itu.
“Bodoh! Kalau menurutmu tidak ada yang layak, kenapa harus memilih? Bukankah tidak memilih adalah pilihan juga??”

Tiba-tiba ada suara menggema dalam diriku seolah membentakku. Kurasa itu bukanlah suara Tuhan. Tetapi saya juga tidak bisa memastikan apakah itu suara hati atau suara nalarku saja.

Bingung. Saya teringat pada seseorang. Tiba-tiba saja saya begitu rindu untuk curhat padanya. Tapi tidak, tidak mungkin saya bisa curhat lagi padanya. Saya pun kembali terdiam. Berfikir dan merenung berhari-hari.

*************
Kopi hitam adalah kawan paling dekatku. Kuteguk perlahan sambil menghempas lepas asap kretek 234. Hmm, merokok dapat membunuhmu. Kata iklan pemerintah. Disisi lain, pemerintah juga terus menggenjot pendapatan pajak dari korporasi-korporasi rokok raksasa. Edan, rakyat perokok rakyat bodoh. Negara rokok pembunuh rakyat bodoh.

Baik, apa kabar nurani? Bisa kau bantuku keluar dari masalah ini? Kucoba bertanya pada nuraniku. Lama tidak ada jawaban. Karena setiap kali ia akan menjawab, selalu saja disela oleh akalku yang sok.

“Jangan kau apatis, soal kau mencoblos atau tidak pada tanggal 9 juli nanti, itu soal lain. Bicaralah pada rakyat, sampaikan yang kau tahu, utarakan pendapatmu.” Setelah lama menunggu, akhirnya keluar juga jawabnya.

“Tepatkah begitu?” Tanyaku lagi.

“Jangan tambah bodoh! Ini adalah pemilu demokrasi yang didalamnya tidak bicara soal baik atau buruk. Kamu tahu itu, bukan? Bukankah demokrasi pada akhirnya hanya berpihak pada suara mayoritas?? Bukankah pada akhirnya siapapun yang terpilih sebagai presiden toh tidak akan menerapkan syariat islam dan masih saja akan menggunakan pancasila sebagai dasar dari seluruh undang-undang Negara? Lalu yang kau mau dapatkan, apa?”

Suara lain menyela. Mungkin nalarku, atau mungkin juga justeru itulah suara hati paling dalamku? Entah. Tetapi kali ini aku tak peduli lagi dengan suara barusan itu. Tiba-tiba kini saya telah menemukan keberanian untuk mengambil sebuah sikap.

“Iya, ini memang bukan tentang kita dapat apa, bukan tentang khilafah atau syariat Islam, tetapi ini mengenai bahwa sebagai anak bangsa yang toh harus tetap hidup bersama apapun keadaan bangsa ini, kita tak boleh diam. Kita tidak boleh golput, kita harus tetap berbuat sesuatu.” Jawabku mantap.

“Sudah kesimpulanmukah itu?? Kenapa, kau percaya dengan berita-berita di sosmed itu?? Bukankah itu hanyalah black campaign?

“Ya, sebahagian memang black campaign, fitnah. Tetapi jika kita amati seksama, jika kita mengaitkannya dengan beberapa informasi objektif sebelumnya, maka sebahagian dari apa yang kau sebut black campaign itu juga adalah informasi yang rasional, mengandung kebenaran dan hanya berusaha menyampaikan sisi lain dari Jokowi yang tiba-tiba telah menjadi nabi baru bagi hampir seluruh media. Koran, majalah, televisi bahkan juga oleh tulisan sosmed-sosmed picisan yang sebenarnya sama saja sebagai berita yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan itu, semua seragam bicara tentang kedewaan seorang Jokowi. Ada apa ini? Tidak! Ini bukan peristiwa alamiah biasa. Ini ada yang tidak wajar. Kamu faham dengan teori konspirasi, bukan??” Kuakhiri penjelasanku dengan sebuah pertanyaan penegasan. Suara itu pun kini kembali diam.

Dadaku sesak. Kepalaku berat. Kuteguk sekali lagi kopi hitamku. Kuhempas sekali lagi asap kretekku. Kurenung-renungkan sekali lagi apa saja buku-buku yang pernah kubaca. Kuingat-ingat sekali lagi apa saja kata-kata bijak yang pernah kudengar. Cukup lama.

Aku harus mengambil sikap. Aku tak boleh apatis. Benar kata suara pertama tadi. Aku harus bicara, aku harus menyampaikan apa yang kutahu. Aku harus mengutarakan pendapatku pada orang-orang. Pada siapa saja, pada rakyat Indonesia.

“Maaf, saya tidak akan mendukung Jokowi”

Tiba-tiba kalimat itu lepas begitu saja dari bibirku, dan anehnya kepalaku terasa ringan.
Sesaat hening malam kembali menyatu dengan diamku. Malam semakin dalam tetapi dialog dengan diriku itu semakin menghebat.

“Apakah kamu sudah benar-benar mempertimbngkannya secara matang” Suara itu kembali bertanya.

Begini, ingatkah kau beberapa waktu lalu, jauh sebelum ada wacana capres Jokowi? Saat itu tiada angin tiada hujan tiba-tiba Amin Rais membuat statemen kritis bahwa Jokowi itu biasa-biasa saja dan tak ada yang luar biasa? Waktu itu Jokowi pun menanggapi statemen Amin Rais tersebut dengan sangat kalem Amin Rais itu adalah guru saya. Kau ingat?? Betapa memukaunya memang lelaki kurus itu bagiku saat itu. Bahkan sempat saya berfikir bahwa apa Amin Rais ini sudah tidak punya kerjaan. Begitupun ketika Rhoma Irama mengangkat issu SARA jelang pilgub DKI lalu, diam-diam saya pun sinis pada raja dangdut itu. Menganggap bahwa issu yang dilemparnya tak lebih hanya sebagai propaganda kepentingan politik pilgub belaka. Pun betapa senangnya saya ketika Jokowi mampu mengalahkan Foke yang incumbent, lalu menjadi gubernur baru DKI Jakarta, ibu kota Negara Republik Indonesia itu.

“Lantas?”

Nah, seiring dengan wacana pilpres yang sebelumnya yang disana-sini hanya ada nama-nama lama dari para politisi lama yang memang sekian lama telah bekerja, lalu tiba-tiba muncul pendatang baru bernama Jokowi dan dimana-mana media merilis hasil survey yang menempatkan Jokowi sebagai urutan teratas, maka disitu saya mulai faham. Saya pun lalu manggut-manggut panjang tentang fragmen statemen Amin Rais tadi. Otakku kini telah mampu mencerna kenapa Amin Rais melakukan itu. Rupanya inilah yang dimaksud oleh Amin Rais. Ternyata posisi gubernur ini hanya batu loncatan. Kekagumanku pun yang pernah mulai pupus pada Amin Rais kembali tumbuh sebagaimana dulu kusangat mengaguminya.

“Berpengaruhkah pandangan-pandangan Amin Rais bagimu??”

Kenapa tidak? Masih jelas sekali dalam ingatanku. Saat semua orang tidak ada yang berani bicara terbuka menggugat kepemimpinan Soeharto, saat tidak seorang pun berani membongkar borok emas Papua (Freeport), Amin Rais lah satu-satunya publik figur yang berani bicara blak-blakan. Berani menghujat otoritarian orde baru yang menurutnya jika sampai dengan Tahun 1997 Soeharto tetap berkuasa maka Indonesia akan mengalami kehancuran total.

Tak ingatkah kau bagaimana sikap masyarakat Indonesia waktu itu? Amin Rais dianggap sebagai orang gila. Amin Rais hampir terbunuh dalam sebuah perjalanan ke daerah Jawa Timur karena dihadang oleh massa NU pro Soeharto. Kau ingat pesan seorang mufti besar NU di Makkah yang meminta agar melindungi Amin Rais karena anak itu adalah anak yang jujur?? Dan begitulah. Seiring dengan kegigihan seorang Amin meyakinkan rakyat, toh pada akhirnya rakyat sadar bahwa apa yang dikatakan seorang Amin itu memang benar dan oleh karena itu harus didukung, lalu lahirlah reformasi yang kemudiaan pada perjalanan selanjutnya menggiring Amin Rais menjadi ketua MPR dan langsung mengandemen beberapa fasal dalam UUD 45 terutama dalam masalah anggaran pendidikan dan sistim pemilihan serta masa jabatan presiden.

Lalu apa hubungannya dengan Jokowi??

Justeru sentilan ‘prematur’ Amin Rais terhadap Jokowi inilah kemudian yang membuatku semakin percaya pada kecepatan dan kecermatan analisa politik seorang Amin dalam menangkap fenomena-fenomena politik yang terjadi. Tidak salah predikat beliau sebagai pakar politik Internasional. Tidak salah predikat beliau sebagai tokoh perubahan. Sebagai seorang pemerhati sekaligus praktisi politik berpengalaman yang terheran-heran karena selama hidupnya belum pernah menemukan tokoh politik nusantara yang begitu lahir tiba-tiba bagai kilat langsung menjadi buah bibir rakyat mulai dari ibu kota Negara hingga ke pelosok-pelosok desa, seperti Jokowi, pantaslah beliau memberi sebuah sentakan opini tentang apa dan siapa sesungguhnya Jokowi. Pantaslah kecurigaan beliau dengan kepentingan apa yang tersembunyi dibalik kerja keras dan massif media-media sekuler nasional dan internasional itu.

Dan hasilnya pun jelas, rakyat Indonesia yang melek politik memang kemudian tersentak dari ketidak sadarannya akibat dari pengaruh hipnotis media yang baru saja dialaminya. Saya pun mulai tersedot oleh iklim kesadaran baru, fakta bahwa memang selalu ada kekuatan raksasa yang berkepentingan dan bermain pada setiap suksesi kepemimpinan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Saya pun benar-benar tersadar bahwa korporasi-korporasi asing yang saat ini mencengkeram kedaulatan ekonomi politik Indonesia pasti sedang bekerja mendorong Jokowi sebagai orang nomor satu dinegeri berpenduduk mayoritas Islam ini. Kenapa harus pada Jokowi, karena mereka tahu bahwa Prabowo adalah seorang patriot pemberani yang gandrung pada kedaulatan dan harga diri bangsanya.

Dari ketersentakan itu pulalah kemudian memunculkan kembali file-file lama yang masih tersimpan dalam memoriku. Bahkan beberapa file yang sudah terdelete sekalipun. Teringatlah saya dengan informasi-informasi yang pernah kuterima mengenai fenomena maskot pilpres 2004, SBY-JK sepuluh tahun lalu. Bukankah paket fenomenal SBY-JK ketika itu juga tidak lepas dari polesan asing?? Bukankah paket itu tidak lepas dari karya tangan-tangan dingin korporasi kapitalis, kelompok pemilik modal yang ingin menguasai sumber daya kekayaan Indonesia?

Akankah terulang lagi hal diluar dugaan dimana di balik ketakutan rakyat akan bayang-bayang militer dan orde baru kala itu, ternyata sang Jenderal SBY telah berhasil merekrut demonstran-demonstran 98 yang notabene adalah dedengkot anti orde baru semacam Andi Arief, Hery Sembayang dan Aam Sapulete yang lalu bekerja sedemikian rupa melakukan pencitraan massif melalui Tim Jaringan Nusantaranya untuk sang capres produk orde baru itu?

Telah berhasilkah para aktivis-aktivis sosialis kiri yang dulu pernah mencuci otakku bermimpi Negara tanpa kelas ala Rusia itu menjadikan PDIP sebagai rumah perjuangannya?? Kenapa Amerika Serikat sang pengusung kapitalisme itu justeru tidak menjadikan PDIP sebagai musuh ideologisnya? Disinikah rupanya peran seorang James Riady yang berkebangsaan China komunis tetapi sangat dekat dengan para elit-elit kapitalis New York??
“Tetapi itu baru sekadar asumsi kamu saja, bukan?”

“Ya, ini memang baru asumsi, tetap saya akan terus mencari lagi jawaban-jawaban atas pertanyaan demi pertanyaan ini. Saya harus lebih giat lagi membaca dan menganilasa setiap peristiwa-peristiwa actual sosial, ekonomi, budaya dan politik yang terjadi. Saya harus menaganilasanya secara seksama, mengaitkannya dengan pengalaman-pengalaman sejarah silam, tentang sejarah pergerakan merebut kemerdekaan, tentang sejarah perumusan dasar Negara, tentang substansi Piagam Jakarta, mengaitkannya dengan agenda-agenda besar ideologi dunia, agenda-agenda imperialisme ekonomi negara-negara maju, terlebih dengan kait-mengaitnya agenda Zionisme internasional.

“Tidak terlalu berlebihankah itu?”

“Dalam era globalisasi dimana dunia hanya sebesar bola kasti serta posisi Indonesia yang sangat strategis, sangat kaya raya dan sekaligus negara berpenduduk muslim terbesar ini, apanya yang berlebihan. Tidak maukah kita belajar dari tragedi negeri-negeri muslim kaya di semenanjung timur tengah, mesir dan afghanistan. Bukankah tragedi-tragedi itu terjadi karena keserakahan AS akan minyak dan sumber-sumber energi bumi lainnya yang ada pada negeri-negeri muslim itu?”.

Dan akhirnya semua memang kutemukan jawabannya. Jokowi pada akhirnya memang menjadi petugas Partai dari PDIP untuk menjadi penguasa negeri ini. Keyakinanku pun bertambah ketika ternyata kubu PDIP-Jokowi menjatuhkan pilihan pada politisi kaliber alternative, Jusuf Kalla sebagai cawapres. Kenapa saya menyebutnya sebagai tokoh nasional alternative? Karena takdirnya adalah orang bugis dan bukan orang jawa. Memilik trah Jawa adalah syarat sosial politik untuk menjadi presiden di Indonesia.

JK adalah seorang muslim taat, jujur, sukses, cerdas dan tidak diragukan lagi kemampuan lobi-lobinya. JK yang seorang tokoh muslim populer tetapi sekaligus telah teruji cukup permisif pada kepentingan asing di era 2004-2009 lalu, tentu sangat elok jika dijadikan lagi sebagai kunci kemenangan, sebagaimana dulu yang telah terbukti dalam paket SBY-JK tahun 2004.


Wallahu a’lam

Jika Saya Presiden, Gelarku Bapak Lokalisasi

Serial Pemikiran Santri Bajingan - 4
19 April 2014

Lobi-lobi Partai Islam untuk membentuk Koalisi Indonesia Raya gagasan Prof. Dr Amin Rais sedang berlangsung. Adapun makna Indonesia Raya menurut pengagasnya adalah sebuah konsep kenegaraan yang bisa bangkit memperbaiki diri. Indonesia raya itu bukan Indonesia yang lemah dan terbelakang, tapi Indonesia yang raya seperti yang kita gaungkan dalam lagu Indonesia raya, kata Pak Amien. Pun koalisi ini bisa tak hanya terbatas pada parpol Islam, tapi juga merangkul parpol nasionalis.

Memang, Islam dan Nasionalis adalah dua issu strategis yang selalu mengemuka disetiap jelang perhelatan suksesi kepemimpinan Indonesia. Kenapa? Karena embrionya memang telah lahir sejak sehari setelah proklamasi kemerdekaan. Tanggal 18 Agustus 1945 atau lebih populer dengan nama Piagam Jakarta, semestinya ditetapkan sebagai hari kecelakaan sejarah nasional . Sebab hari itulah, Islam sebagai sebuah ideologi lenyap dan berganti sekulerisme, dan terus menjadi ‘dendam’ bagi sebagian ummat Islam sampai hari ini.

Adapun istilah Partai Islam, sebenarnya itu hanyalah penamaan saja, toh Islam disini tidaklah berarti anggaran daras dar partai-partai itu menjadikan Islam sebagai metode, ideologi, atau minimal sebagai sebuah cita-cita kenegaraan. Artinya, baik partai Nasionalis maupun partai Islam sebenarnya sama saja sebagai ‘penganut’ sekulerisme. Dengan demikian, mengharapkan ke-Islam-an dari koalisi Indonesia Raya tidaklah tepat. Tetapi bahwa bangsa ini wajib dijaga dari cengkeraman negara asing melalui orang baik bernama Jokowi, itu saya sepakat.

Perubahan adalah jualan utama semua calon presiden. Dan itu adalah penegasan bahwa kehidupan di negara ini memang sedang tidak baik, sehingga memang mutlak ada perubahan. Gerakan Perubahan. Songsong Indonesa Baru. Jargon yang selalu menjadi headline setiap pemberitaan media massa.  Benar, setiap lima tahun memang terjadi perubahan. Sayangnya bukan kemajuan, tetapi Indonesia baru yang lebih buruk.
Sebenarnya apa akar masalah dari bangsa ini??

Saya ingin memberi illustrasi begini; Kalau manusia-manusia Indonesia ini kita analogikan sebagai mobil, maka mobil-mobil tersebut adalah mobil-mobil dari berbagai merek dengan tingkat kerusakan yang sudah sangat parah. Maka, satu-satunya cara secvice yang tepat adalah kembali mematuhi buku petunjuk yang sebenarnya sejak awal telah diterbitkan oleh pabrik masing-masing merek. Mobil-mobil bermerek Islam misalnya, sepatutnya kembalikanlah mereka kepada buku petunjuknya, Syariat Islam. Kalau mobil-mobil Islam itu dipaksakan harus di service oleh bengkel merek demokrasi sekuler misalnya, ya tambah hancurlah itu mobil. Nah disinilah sebenarnya kesalahan fatalnya para pengambil kebijakan di negeri ini. Mobil-mobil rusak yang mayoritas bermerek Islam itu kok malah tidak boleh diservis berdasarkan buku petunjuknya, Alquran.  Sebaliknya jika ada yang berani bicara Syariat Islam, justru dijerat dengan undang-undang teroris.

Olehnya itulah, berangkat dari fakta kesalahan service seperti diatas, jika SAYA PRESIDEN, maka program utama saya cuma satu: MENUMBUH KEMBANGKAN LOKALISASI.

Caranya, mulai dari ibu kota negara, provinsi, kabupaten/kota, serta kecamatan dan desa, wilayah administrasi pemerintahan negara ini akan kubagi menjadi dua wilayah defacto dengan nama lokalisasi sekuler dan lokalisasi Islam.

Untuk lokalisasi sekuler, anggaran infra strukturnya bisa sedikit efisien dengan memanfaatkan ribuan lokalisasi-lokalisasi PSK yang sudah ada dan sangat memadai ditiap ibu kota provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan. Toh kalau harus membangun infrastruktur baru paling-paling hanya ditingkat pedesaan atau beberapa kecamatan yang belum sempat terbangun.

Lokalisasi-lokalisasi PSK yang sudah ada tadi ini tinggal kukembangkan menjadi lokalisasi sekularisme yang lebih luas. Didalam lokalisasi inilah nantinya masyarakat dari berbagai agama akan hidup dan diatur oleh Undang-Undang Negara Sekuler sebagaimana yang telah berlangsung selama ini.

Adapun lokalisasi defacto kedua yang akan saya bangun adalah lokalisasi yang khusus kusiapkan bagi kaum muslimin yang merindukan kehidupan islam secara kaffah. Didalamnya tentu saja akan berlaku syariat Islam secara menyeluruh pula, termasuk sistim dan struktur pemerintahannya.

Adapun persoalan siapa wakil presiden, sejarah akan mencatat bahwa saya pulalah presiden Indonesia pertama yang memiliki dua orang wakil presiden sekaligus. Mesti dua, karena setiap lokalisasi adalah wilayah defacto yang harus ada penanggung jawab pemerintahannya masing-masing.

Sebelum saya menetapkan siapa yang akan menjadi wakil presidenku, tentu saja telah kuturunkan lembaga survey. Hasilnya,  JK atau Mahfud MD cukup layak sebagai wakil presiden untuk mengurusi lokalisasi-lokalisasi sekuler, sementara Anis Matta saya gadang-gadang sebagai wakil presiden untuk mengurusi lokalisasi-lokalisasi Islam.

Saya berkeyakinan bahwa dengan mekanisme pemerintahan seperti ini, persoalan “Piagam Jakarta” barulah akan berakhir, begitupun issu Nasionalis dan Islam tidak lagi menjadi polemik berkepanjangan disetiap jelang pemilihan presiden.

Dengan demikian pula, kelak negara pasti akan memberi saya gelar, BAPAK LOKALISASI.