Serial Pemikiran Santri Bajingan - 5
10 June 2014
Suatu malam entah kenapa, saya benar-benar merenungi nasib bangsa ini. Sebuah pertentangan hebat sedang terjadi pada batinku. Saya pun meng-aduh pada Tuhan.
Tuhan, sebetulnya Engkau lebih tahu apa isi hatiku. Tetapi baiklah, biar isi hatiku kulafazkan saja agar kalimat-kalimatku ini sekaligus adalah penegasanku bahwasanya hamba bukanlah manusia diam, pasrah dan bermasa bodoh dengan negeri ini. Negeri yang merupakan rumah terbesar pengikut Rasul-Mu, Muhammad.
Sejujurnya saya sedang galau dengan pilpres 2014 ini. Ada Jokowi yang orang bilang dia baik, sederhana dan merakyat. Ada Prabowo yang orang juga bilang bahwa dia baik, tegas dan pemberani. Kedua-duanya sedang meminang Ibu Pertiwi. Tetapi Tuhan, persoalannya justeru disini, meski saya memanglah bukan orang sholeh sebagaimana kriteria orang-orang sholeh yang ada dalam kitab suci-Mu, tetapi saya tetaplah sangat percaya bahwa suatu bangsa hanya akan menjadi bangsa yang berbahagia manakala bangsa itu taat pada hukum atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh-Mu, bukan pada aturan-aturan yang dibuat oleh sesamaku manusia apalagi oleh para legislator produk pemilu suap-menyuap itu.
Saya juga sangat percaya bahwa sebenarnya akar masalah dari seluruh problem bangsa ini adalah tidak pernahnya para penguasa negeri ini mau mengadopsi aturan-aturan-Mu dan menjadikannya sebagai hukum formal Negara secara menyeluruh.
Dan jujur saja, sampai hari ini saya pun belum menemukan referensi memadai bahwa kedua atau salah satu dari mereka itu adalah hamba-hamba yang benar-benar taat menghambakan diri hanya kepada-Mu, bukan hamba yang menduakan-Mu dengan yang lain. Lalu bagaimana saya memilih salah satu, Prabowo atau Jokowi??
Begitulah inti dari pergolakan batinku yang kukeluhkan pada Tuhan malam itu.
“Bodoh! Kalau menurutmu tidak ada yang layak, kenapa harus memilih? Bukankah tidak memilih adalah pilihan juga??”
Tiba-tiba ada suara menggema dalam diriku seolah membentakku. Kurasa itu bukanlah suara Tuhan. Tetapi saya juga tidak bisa memastikan apakah itu suara hati atau suara nalarku saja.
Bingung. Saya teringat pada seseorang. Tiba-tiba saja saya begitu rindu untuk curhat padanya. Tapi tidak, tidak mungkin saya bisa curhat lagi padanya. Saya pun kembali terdiam. Berfikir dan merenung berhari-hari.
*************
Kopi hitam adalah kawan paling dekatku. Kuteguk perlahan sambil menghempas lepas asap kretek 234. Hmm, merokok dapat membunuhmu. Kata iklan pemerintah. Disisi lain, pemerintah juga terus menggenjot pendapatan pajak dari korporasi-korporasi rokok raksasa. Edan, rakyat perokok rakyat bodoh. Negara rokok pembunuh rakyat bodoh.
Baik, apa kabar nurani? Bisa kau bantuku keluar dari masalah ini? Kucoba bertanya pada nuraniku. Lama tidak ada jawaban. Karena setiap kali ia akan menjawab, selalu saja disela oleh akalku yang sok.
“Jangan kau apatis, soal kau mencoblos atau tidak pada tanggal 9 juli nanti, itu soal lain. Bicaralah pada rakyat, sampaikan yang kau tahu, utarakan pendapatmu.” Setelah lama menunggu, akhirnya keluar juga jawabnya.
“Tepatkah begitu?” Tanyaku lagi.
“Jangan tambah bodoh! Ini adalah pemilu demokrasi yang didalamnya tidak bicara soal baik atau buruk. Kamu tahu itu, bukan? Bukankah demokrasi pada akhirnya hanya berpihak pada suara mayoritas?? Bukankah pada akhirnya siapapun yang terpilih sebagai presiden toh tidak akan menerapkan syariat islam dan masih saja akan menggunakan pancasila sebagai dasar dari seluruh undang-undang Negara? Lalu yang kau mau dapatkan, apa?”
Suara lain menyela. Mungkin nalarku, atau mungkin juga justeru itulah suara hati paling dalamku? Entah. Tetapi kali ini aku tak peduli lagi dengan suara barusan itu. Tiba-tiba kini saya telah menemukan keberanian untuk mengambil sebuah sikap.
“Iya, ini memang bukan tentang kita dapat apa, bukan tentang khilafah atau syariat Islam, tetapi ini mengenai bahwa sebagai anak bangsa yang toh harus tetap hidup bersama apapun keadaan bangsa ini, kita tak boleh diam. Kita tidak boleh golput, kita harus tetap berbuat sesuatu.” Jawabku mantap.
“Sudah kesimpulanmukah itu?? Kenapa, kau percaya dengan berita-berita di sosmed itu?? Bukankah itu hanyalah black campaign?
“Ya, sebahagian memang black campaign, fitnah. Tetapi jika kita amati seksama, jika kita mengaitkannya dengan beberapa informasi objektif sebelumnya, maka sebahagian dari apa yang kau sebut black campaign itu juga adalah informasi yang rasional, mengandung kebenaran dan hanya berusaha menyampaikan sisi lain dari Jokowi yang tiba-tiba telah menjadi nabi baru bagi hampir seluruh media. Koran, majalah, televisi bahkan juga oleh tulisan sosmed-sosmed picisan yang sebenarnya sama saja sebagai berita yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan itu, semua seragam bicara tentang kedewaan seorang Jokowi. Ada apa ini? Tidak! Ini bukan peristiwa alamiah biasa. Ini ada yang tidak wajar. Kamu faham dengan teori konspirasi, bukan??” Kuakhiri penjelasanku dengan sebuah pertanyaan penegasan. Suara itu pun kini kembali diam.
Dadaku sesak. Kepalaku berat. Kuteguk sekali lagi kopi hitamku. Kuhempas sekali lagi asap kretekku. Kurenung-renungkan sekali lagi apa saja buku-buku yang pernah kubaca. Kuingat-ingat sekali lagi apa saja kata-kata bijak yang pernah kudengar. Cukup lama.
Aku harus mengambil sikap. Aku tak boleh apatis. Benar kata suara pertama tadi. Aku harus bicara, aku harus menyampaikan apa yang kutahu. Aku harus mengutarakan pendapatku pada orang-orang. Pada siapa saja, pada rakyat Indonesia.
“Maaf, saya tidak akan mendukung Jokowi”
Tiba-tiba kalimat itu lepas begitu saja dari bibirku, dan anehnya kepalaku terasa ringan.
Sesaat hening malam kembali menyatu dengan diamku. Malam semakin dalam tetapi dialog dengan diriku itu semakin menghebat.
“Apakah kamu sudah benar-benar mempertimbngkannya secara matang” Suara itu kembali bertanya.
Begini, ingatkah kau beberapa waktu lalu, jauh sebelum ada wacana capres Jokowi? Saat itu tiada angin tiada hujan tiba-tiba Amin Rais membuat statemen kritis bahwa Jokowi itu biasa-biasa saja dan tak ada yang luar biasa? Waktu itu Jokowi pun menanggapi statemen Amin Rais tersebut dengan sangat kalem Amin Rais itu adalah guru saya. Kau ingat?? Betapa memukaunya memang lelaki kurus itu bagiku saat itu. Bahkan sempat saya berfikir bahwa apa Amin Rais ini sudah tidak punya kerjaan. Begitupun ketika Rhoma Irama mengangkat issu SARA jelang pilgub DKI lalu, diam-diam saya pun sinis pada raja dangdut itu. Menganggap bahwa issu yang dilemparnya tak lebih hanya sebagai propaganda kepentingan politik pilgub belaka. Pun betapa senangnya saya ketika Jokowi mampu mengalahkan Foke yang incumbent, lalu menjadi gubernur baru DKI Jakarta, ibu kota Negara Republik Indonesia itu.
“Lantas?”
Nah, seiring dengan wacana pilpres yang sebelumnya yang disana-sini hanya ada nama-nama lama dari para politisi lama yang memang sekian lama telah bekerja, lalu tiba-tiba muncul pendatang baru bernama Jokowi dan dimana-mana media merilis hasil survey yang menempatkan Jokowi sebagai urutan teratas, maka disitu saya mulai faham. Saya pun lalu manggut-manggut panjang tentang fragmen statemen Amin Rais tadi. Otakku kini telah mampu mencerna kenapa Amin Rais melakukan itu. Rupanya inilah yang dimaksud oleh Amin Rais. Ternyata posisi gubernur ini hanya batu loncatan. Kekagumanku pun yang pernah mulai pupus pada Amin Rais kembali tumbuh sebagaimana dulu kusangat mengaguminya.
“Berpengaruhkah pandangan-pandangan Amin Rais bagimu??”
Kenapa tidak? Masih jelas sekali dalam ingatanku. Saat semua orang tidak ada yang berani bicara terbuka menggugat kepemimpinan Soeharto, saat tidak seorang pun berani membongkar borok emas Papua (Freeport), Amin Rais lah satu-satunya publik figur yang berani bicara blak-blakan. Berani menghujat otoritarian orde baru yang menurutnya jika sampai dengan Tahun 1997 Soeharto tetap berkuasa maka Indonesia akan mengalami kehancuran total.
Tak ingatkah kau bagaimana sikap masyarakat Indonesia waktu itu? Amin Rais dianggap sebagai orang gila. Amin Rais hampir terbunuh dalam sebuah perjalanan ke daerah Jawa Timur karena dihadang oleh massa NU pro Soeharto. Kau ingat pesan seorang mufti besar NU di Makkah yang meminta agar melindungi Amin Rais karena anak itu adalah anak yang jujur?? Dan begitulah. Seiring dengan kegigihan seorang Amin meyakinkan rakyat, toh pada akhirnya rakyat sadar bahwa apa yang dikatakan seorang Amin itu memang benar dan oleh karena itu harus didukung, lalu lahirlah reformasi yang kemudiaan pada perjalanan selanjutnya menggiring Amin Rais menjadi ketua MPR dan langsung mengandemen beberapa fasal dalam UUD 45 terutama dalam masalah anggaran pendidikan dan sistim pemilihan serta masa jabatan presiden.
Lalu apa hubungannya dengan Jokowi??
Justeru sentilan ‘prematur’ Amin Rais terhadap Jokowi inilah kemudian yang membuatku semakin percaya pada kecepatan dan kecermatan analisa politik seorang Amin dalam menangkap fenomena-fenomena politik yang terjadi. Tidak salah predikat beliau sebagai pakar politik Internasional. Tidak salah predikat beliau sebagai tokoh perubahan. Sebagai seorang pemerhati sekaligus praktisi politik berpengalaman yang terheran-heran karena selama hidupnya belum pernah menemukan tokoh politik nusantara yang begitu lahir tiba-tiba bagai kilat langsung menjadi buah bibir rakyat mulai dari ibu kota Negara hingga ke pelosok-pelosok desa, seperti Jokowi, pantaslah beliau memberi sebuah sentakan opini tentang apa dan siapa sesungguhnya Jokowi. Pantaslah kecurigaan beliau dengan kepentingan apa yang tersembunyi dibalik kerja keras dan massif media-media sekuler nasional dan internasional itu.
Dan hasilnya pun jelas, rakyat Indonesia yang melek politik memang kemudian tersentak dari ketidak sadarannya akibat dari pengaruh hipnotis media yang baru saja dialaminya. Saya pun mulai tersedot oleh iklim kesadaran baru, fakta bahwa memang selalu ada kekuatan raksasa yang berkepentingan dan bermain pada setiap suksesi kepemimpinan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Saya pun benar-benar tersadar bahwa korporasi-korporasi asing yang saat ini mencengkeram kedaulatan ekonomi politik Indonesia pasti sedang bekerja mendorong Jokowi sebagai orang nomor satu dinegeri berpenduduk mayoritas Islam ini. Kenapa harus pada Jokowi, karena mereka tahu bahwa Prabowo adalah seorang patriot pemberani yang gandrung pada kedaulatan dan harga diri bangsanya.
Dari ketersentakan itu pulalah kemudian memunculkan kembali file-file lama yang masih tersimpan dalam memoriku. Bahkan beberapa file yang sudah terdelete sekalipun. Teringatlah saya dengan informasi-informasi yang pernah kuterima mengenai fenomena maskot pilpres 2004, SBY-JK sepuluh tahun lalu. Bukankah paket fenomenal SBY-JK ketika itu juga tidak lepas dari polesan asing?? Bukankah paket itu tidak lepas dari karya tangan-tangan dingin korporasi kapitalis, kelompok pemilik modal yang ingin menguasai sumber daya kekayaan Indonesia?
Akankah terulang lagi hal diluar dugaan dimana di balik ketakutan rakyat akan bayang-bayang militer dan orde baru kala itu, ternyata sang Jenderal SBY telah berhasil merekrut demonstran-demonstran 98 yang notabene adalah dedengkot anti orde baru semacam Andi Arief, Hery Sembayang dan Aam Sapulete yang lalu bekerja sedemikian rupa melakukan pencitraan massif melalui Tim Jaringan Nusantaranya untuk sang capres produk orde baru itu?
Telah berhasilkah para aktivis-aktivis sosialis kiri yang dulu pernah mencuci otakku bermimpi Negara tanpa kelas ala Rusia itu menjadikan PDIP sebagai rumah perjuangannya?? Kenapa Amerika Serikat sang pengusung kapitalisme itu justeru tidak menjadikan PDIP sebagai musuh ideologisnya? Disinikah rupanya peran seorang James Riady yang berkebangsaan China komunis tetapi sangat dekat dengan para elit-elit kapitalis New York??
“Tetapi itu baru sekadar asumsi kamu saja, bukan?”
“Ya, ini memang baru asumsi, tetap saya akan terus mencari lagi jawaban-jawaban atas pertanyaan demi pertanyaan ini. Saya harus lebih giat lagi membaca dan menganilasa setiap peristiwa-peristiwa actual sosial, ekonomi, budaya dan politik yang terjadi. Saya harus menaganilasanya secara seksama, mengaitkannya dengan pengalaman-pengalaman sejarah silam, tentang sejarah pergerakan merebut kemerdekaan, tentang sejarah perumusan dasar Negara, tentang substansi Piagam Jakarta, mengaitkannya dengan agenda-agenda besar ideologi dunia, agenda-agenda imperialisme ekonomi negara-negara maju, terlebih dengan kait-mengaitnya agenda Zionisme internasional.
“Tidak terlalu berlebihankah itu?”
“Dalam era globalisasi dimana dunia hanya sebesar bola kasti serta posisi Indonesia yang sangat strategis, sangat kaya raya dan sekaligus negara berpenduduk muslim terbesar ini, apanya yang berlebihan. Tidak maukah kita belajar dari tragedi negeri-negeri muslim kaya di semenanjung timur tengah, mesir dan afghanistan. Bukankah tragedi-tragedi itu terjadi karena keserakahan AS akan minyak dan sumber-sumber energi bumi lainnya yang ada pada negeri-negeri muslim itu?”.
Dan akhirnya semua memang kutemukan jawabannya. Jokowi pada akhirnya memang menjadi petugas Partai dari PDIP untuk menjadi penguasa negeri ini. Keyakinanku pun bertambah ketika ternyata kubu PDIP-Jokowi menjatuhkan pilihan pada politisi kaliber alternative, Jusuf Kalla sebagai cawapres. Kenapa saya menyebutnya sebagai tokoh nasional alternative? Karena takdirnya adalah orang bugis dan bukan orang jawa. Memilik trah Jawa adalah syarat sosial politik untuk menjadi presiden di Indonesia.
JK adalah seorang muslim taat, jujur, sukses, cerdas dan tidak diragukan lagi kemampuan lobi-lobinya. JK yang seorang tokoh muslim populer tetapi sekaligus telah teruji cukup permisif pada kepentingan asing di era 2004-2009 lalu, tentu sangat elok jika dijadikan lagi sebagai kunci kemenangan, sebagaimana dulu yang telah terbukti dalam paket SBY-JK tahun 2004.
Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar