Mari kubawa kau jalan-jalan ke Vatican. Disana akan kukenalkan kau dengan Robert Langdon, ahli sejarah Harvard, murid dari Dan Brown, novelis kontraversial itu. OK?
oOo
Langit pagi menjelang siang masih digayuti awan tebal ketika kami tiba-tiba telah berada di puncak Koliseum Roma.
“Tidak ada hotel yang paling cocok di seluruh Roma selain yang ini”. Kata Robert, sesaat ketika kami telah keluar dari area hotel lalu meluncur diatas jalan-jalan Roma menuju Vatikan. Hotel Bernini, simbol kemewahan dunia masa lalu itu berdiri megah menghadap ke Air Mancur Triton karya Bernini.
“Beri kesempatan pada kawan muslim kita ini melihat-lihat keajaiban masa Renaissance, Mr. Robert.” Kata Tuan Imajinasi disela obrolan mereka yang tiada putus. Mereka tampak sangat akarab.
“Oh, tentu”. Dengan ramah sahabat Tuan Imajinasi itu berbalik dan menyapaku.
“Mari nikmati keindahan kota suci ummat Kristiani ini, Mr. Moslem”
“Terima kasih” Kataku mengangguk hormat.
“Vatikan adalah negera terkecil di dunia tetapi mampu mempengaruhi kebijakan, bahkan mengendalikan seluruh konstelasi spiritual dan politik negara-negara raksasa kapitalis di seluruh muka bumi ini. Bukan begitu, pak Prof?” Tuan Inajinasi membuka obrolan.
Robert tersenyum senang. “Begitulah kira-kira”.
Aku sendiri sedikit miris. Mr. Robert memanggilku Mr. Moslem, padahal tadi aku telah memperkenalkan namaku dengan jelas.
Menyaksikan sepanjang jalan Vatikan, dalam hatiku tak henti berdecak kagum. Seluruh bangunan-bangunan gedung memancarkan pesona seni tinggi tak tertandingi. Mulai dari Basilika Santo Petrus, Kapel Sistina, Borgia Courtyard, Kantor Paus, Kantor Garda Swis, Taman-taman, Passeto, Kantor Pos Pusat, Balairung Kepausan, hingga Istana Pemerintahan Vatikan semua kami lalui. Sekilas aku teringat dengan keindahan arsitektur bangunan-bangunan lama peninggalan kejayaan Islam di Andalusia.
Dari obrolan mereka berdua, aku tahu bahwa kehadiran Mr. Robert ke Vatikan adalah dalam rangka menghadiri jamuan khusus Paus terkait dengan reaksi keras ummat Islam atas dugaan penistaan al-Qur’an oleh seorang China Nasrani di Indonesia. Ia datang bersama kekasihnya, Victoria.
Victoria adalah putri peraih Nobel Fisika, Leonardo Vetra atas jasa besarnya sebagai perintis teknologi Anti Materi. Para ilmuwan menyebut penemuan itu sebagai keajaiban Fisika Teologis.
Beberapa tahun lalu, sebagai akibat dari penemuan teknologi itu, empat orang kardinal dan Leonardo Vetra sendiri tewas secara tragis dalam sebuah tragedi ke-kristen-an terparah sepanjang abad ini. Seluruh media di muka bumi ini mengumumkan bahwa Kelompok Teroris Timur Tengah sebagai dalangnya. Tetapi berkat kerja keras Robert dan Kekasihnya itu, akhirnya terungkap bahwa pelaku aksi biadab itu adselah Kelompok Illuminati. Berkat Robert Langdonlah, sehingga terungkap dalang sesungguhnya dan situasi berhasil kembali pulih.
“Pernah dengar kata Illuminti?” Tanya Robert padaku tiba-tiba. Kami kini berada dalam sebuah ruangan mewah di Museum Vatikan.
“Pernah.” Kataku. “Tapi aku lebih mengakrabinya dengan istilah konspirasi, persekongkolan rahasia”.
“Kata Illuminati berarti mereka yang tercerahkan. Itu adalah nama sebuah persaudaraan kuno.” Robert, meneruskan apa yang ingin diuraikannya.
“Nama yang identik dengan simbol-simbol misterius yang konon adalah logo mata uang Dolar AS itu?” Tanyaku repleks. Mata Tuan Imajinasi melotot memandangku.
“Kisah tentang lambang Illuminati merupakan legenda dalam simbologi modern; Dan walaupun ambigram sering terlihat di berbagai simbol seperti pada swastika, yin yang, bintang Yahudi, dan salib sederhana.belum ada ilmuwan yang betul-betul mampu menyingkapnyanya” Kata Robert lagi.
“Jadi, siapakah orang-orang Illuminati itu?” tanyaku mendesak.
“Sejak awal peradaban modern,” jelasnya, ”sebuah jurang dalam telah terbentuk di antara ilmu pengetahuan dan agama. Ilmuwan- ilmuwan yang berani bicara seperti Copernicus”
“Hmm, ia menyebut masa Copernicus sebagai awal peradaban” Batinku. ”Dibunuh oleh gereja karena mereka menguak kebenaran ilmiah, bukan?” Tanyaku kemudian pada Robert.
”Ya. Pada tahun 1500-an, sebuah kelompok di Roma melawan gereja. Beberapa orang Italia yang sangat terpelajar, seperti para ahli fisika, matematika, dan ahli astronomi, diam-diam mulai mengadakan pertemuan untuk berba gi keprihatinan terhadap pengajaran gereja yang tidak benar. Mereka takut kalau monopoli gereja pada ’kebenaran’ akan mengancam pencerahan ilmuwan di seluruh dunia. Mereka mendirikan sebuah think tank, lembaga pemikir pertama di dunia, dan menyebut diri mereka sendiri sebagai ’orang-orang yang tercerahkan.”
”Kelompok Illuminati itu?”
”Ya,” sahut Tuan Imajinasi. ”Orang-orang paling pandai di Eropa ... mengabdi untuk mencari kebenaran ilmiah.”
Aku terdiam. Tuan Imanjinasi memandangiku. Sebuah senyum simpul disodorkannya sebagai tanda perdamaian. Aku mengerti.
”Tentu saja kelompok Illuminati itu diburu dengan kejam oleh Gereja Katolik. Hanya karena mereka dapat bersembunyi dengan baik, mereka bisa selamat. Pemikiran mereka pun tersebar ke seluruh ilmuwan bawah tanah, dan persaudaraan Illuminati berkembang serta melibatkan seluruh ilmuwan di seluruh Eropa. Para ilmuwan itu mengadakan pertemuan secara teratur di Roma di sebuah markas yang sangat dirahasiakan yang mereka sebut Gereja Illuminati.” Jelas Robert selanjutnya.
Aku menyimak. Diam-diam aku kagum pada Tuan Imajinasi yang memiliki banyak kolega dan hebat-hebat.
”Beberapa anggota kaum Illuminati,” lanjut Robert, ”ingin melawan tirani gereja dengan kekerasan, tetapi anggota yang paling mereka hormati membujuk mereka untuk tidak melakukan itu. Dia adalah orang yang cinta damai dan seorang ilmuwan yang paling ternama dalam sejarah.”
“Aku yakin kamu tahu nama ilmuwan itu”. Kata Tuan Imajinasi kepadaku. “Bahkan orang awam pun mengenali seorang ahli astronomi yang bernasib malang kerana ditangkap dan dihukum oleh gereja karena mengatakan bahwa matahari, dan bukan bumi, adalah pusat tata surya. Walau fakta yang dikemukakannya itu tidak dapat disangkal, ahli astronomi tersebut tetap di hukum berat karena secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuhan menempatkan manusia di tempat lain selain di pusat semesta -Nya.”
”Galileo?” Kataku. Tuan Imajinasi mendongak. ”Galileo Galilei”
”Ya. Galileo adalah seorang Illuminatus. Dan dia juga seorang Katolik yang taat. Dia berusaha untuk memperlunak pemikiran gereja terhadap ilmu pengetahuan dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengecilkan keberadaan Tuhan, tetapi malah memperkuatnya. Dia pernah menulis ketika dia memerhatikan planet-planet yang berputar melalui teleskopnya, dia dapat mendengar suara Tuhan dalam musik alam semesta. Dia meyakinkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukanlah musuh, tetapi rekanan—dua bahasa berbeda yang menceritakan sebuah kisah yang sama, kisah tentang simetri dan keseimbangan ... surga dan neraka, malam dan siang, panas dan dingin, Tuhan dan setan. Ilmu pengetahuan dan agama keduanya bergembira bersama dalam simetri Tuhan ... pertandingan tak pernah berakhir antara terang dan gelap.” Langdon berhenti sejenak lalu menghentakkan kakinya supaya tetap hangat.
Celakanya,” Sergah Tuan Imajinasi, ”penggabungan ilmu pengetahuan dan agama tidak diinginkan gereja.”
“Tentu saja tidak,” sela Robert. ”Pengabungan itu akan menghancurkan apa yang sudah dikatakan gereja sebagai satu-satunya kendaraan yang dapat digunakan manusia untuk mengerti Tuhan. Jadi gereja mengadili Galileo sebagai orang yang sesat, diputus bersalah dan dijatuhi hukuman tahanan rumah seumur hidup”.
Sebuah pemahaman baru bagiku soal illuminaty dan kaitannya dengan gereja,” kataku berbisik pada Tuan Imajinasi. “tetapi itu sudah terjadi berabad-abad yang lalu. Apa hubungannya dengan penistaan Agama oleh sang gubernur itu?”
“Aku faham, tapi simpan dulu”. Kata Tuan Imajinasi sambil melirik Robert yang nampak tidak
menghiraukan polemik kecil kami.
”Penangkapan Galileo membuat kaum Illuminati bergejolak. Tapi mereka membuat kesalahan sehingga gereja dapat mengenali empat orang anggota Illuminati. Mereka kemudian ditangkap dan diinterogasi. Tetapi keempat ilmuwan itu tidak mengatakan apa-apa walaupun mereka disiksa.”
”Disiksa?
Robert mengangguk. ”Mereka dicap hidup-hidup di dada mereka dengan simbol salib.”
“Lalu?”
”Setelah itu para ilmuwan dibunuh dengan sadis, mayat mereka di buang di jalan-jalan Roma sebagai peringatan bagi yang lainnya supaya tidak bergabung dengan kaum Illuminati. Karena serangan gereja yang begitu gencar, anggota Illuminati yang masih tersisa akhirnya melarikan diri dari Italia.”
Robert berhenti sesaat. Dia memandang mataku seperti mencari sesuatu dibaliknya. ”Sejak itu, kaum Illuminati bergerak di bawah tanah dan mulai bergabung dengan para pelarian lainnya yang berusaha menyelamatkan diri dari aksi pembersihan yang dilakukan gereja. Mereka adalah para penganut aliran mistik, ahli kimia, pengikut ilmu gaib, dan orang-orang Yahudi…”
“Dan beberapa diantaranya adalah Yahudi-Muslim”. Lanjut Tuan Imajinasi.
“Yahudi Muslim, katamu? Yang benar saja”. Tanyaku heran beraduk penasaran. Aku benar-benar baru pertama kali mendengar istilah itu.
“Iya, muslim yang bukan muslim sungguhan. Mereka mata rantai dari kelompok Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam pada jaman Khalifah Utsman bin Affan untuk menciptakan konflik internal dalam tubuh kaum muslimin dengan menebar fitnah antara pengikut Ali dengan pendukung Muawiyah. Ibnu Saba’, nama lengkapnya Abdullah bin Saba’, adalah seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam. Ia merupakan provokator yang berada di balik pemberontakan terhadap Khalifah Ustman bin Affan. Ibnu Saba’ melakukan semuanya itu didasarkan motivasi dirinya untuk meruntuhkan dasar-dasar Islam yang telah dipegang teguh oleh umat Islam. Niatnya masuk Islam hanyalah sebagai kedok belaka untuk merongrong kewibawaan pemerintahan Khalifah Ustman. Pengaruhnya, muncullah kerusuhan yang terjadi di berbagai wilayah kekuasaan Islam seperti Mesir, Irak dan Madinah. Pengikut-pengikut kelompok Ibnu Saba’, si Yahudi-Muslim itu kemudian terus tersebar seiring dengan penyebaran Islam di wilayah Eropa. Tujuannya tetap sama; melemahkan kaum muslimin dari dalam.” Jelas Tuan Imajinasi.
“Maksudnya?”
“Yahudilah yang paling memahami bahwa; manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Yahudi harus mewujudkan “hasrat alami” manusia ini. Hal ini disusupkan secara pelan-pelan pada sistem budaya, pendidikan, pemerintahan dan kekuasaan negeri-negeri muslim. Ketika kaum muslimin menjadi bejat dan perlahan-lahan menanggalkan aturan agamanya satu demi satu, itulah target mereka. Bagi mereka, Yahudi adalah ummat terbaik, dan untuk itu perlu menjadikan bangsa atau umat-umat lain sebagai pengikut. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang Muslim-Yahudi atau Kristen yahudi, kalian tidak perlu murtad secara formal dari agama asalmu.”
Robert terlihat serius menyimak kalimat-kalimat Tuan Imajinasi. Namun tanpa komentar, Robert membali melanjutkan kisahnya tentang Illuminati.
“Selama bertahun-tahun, Illuminati menambah anggotanya. Sebuah Illuminati baru pun muncul. Kelompok Illuminati yang lebih gelap. Kelompok Illuminati yang sangat anti -Kristen. Mereka menjadi begitu kuat, mengadakan upacara -upacara misterius, kerahasiaan yang sangat tertutup, dan bersumpah untuk bangkit lagi pada suatu hari untuk membalas dendam pada Gereja Katolik. Kekuatan mereka berkembang sehingga gereja menganggap mereka sebagai suatu gerakan anti-Kristen yang paling berbahaya di bumi ini. Vatikan mengolok mereka sebagai persaudaraan Shaitan.”
”Shaitan?’
”Itu istilah dalam bahsa Inggris. Artinya ’musuh’ ... musuh Tuhan. Gereja sengaja memilih nama dari istilah Islam karena itu adalah bahasa yang mereka anggap kotor.” Langdon meneruskan dengan ragu- ragu. ”Shaitan adalah asal kata untuk kata bahasa Inggris ... Satan.”
Robert mondar-mandir dalam ruangan itu untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat.
”Kelompok Illuminati memang memuja setan. Tetapi tidak dalam pengertian modern.” Robert lalu menjelaskan bagaimana umumnya orang menggambarkan para pemuja setan sebagai pemuja iblis. “Secara historis para pemuja setan adalah orang-orang yang terpelajar yang melawan gereja. Shaitan. Kabar angin tentang kekuatan gaib hitam, pengorbanan hewan dan ritual pentagram hanyalah kebohongan yang disebarkan oleh gereja sebagai kampanye kotor melawan musuh-musuh mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, para penentang gereja itu juga ingin menyamai kaum Illuminati. Kelompok itu mulai memercayai kebohongan yang disebarkan oleh gereja dan bertindak sesuai dengan apa yang mereka percayai. Maka, lahirlah kelompok pemuja setan modern”.
Aku berdehem. ”Itu semua sejarah kuno. Aku ingin tahu bagaimana simbol itu memproklamirkan eksistensinya dalam dunia modern kini” Desakku.
Robert Langdon menarik napas panjang. ”Simbol itu sendiri diciptakan oleh seorang seniman Illuminati yang tidak diketahui namanya pada abad keenam belas sebagai penghormatan bagi kecintaan Galileo akan simetri —semacam logo sakral Illuminati. Persaudaraan itu menjaga kerahasiaan simbol tersebut. Konon mereka berencana untuk memperlihatkannya hanya ketika mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk muncul kembali dan mewujudkan tujuan utama mereka.”
Aku mulai tidak mengerti. ”Tetapi kemunculan simbol itu di beberapa tempat menandakan persaudaraan Illuminati tetap ada, bukan?”
Robert Langdon mengerutkan keningnya. ”Menurut banyak ahli, itu tidak mungkin. Ada satu bab dari sejarah Illuminati yang belum kujelaskan.”
”Jelaskan padaku.” Suaraku terdengar tegas.
Langdon menghirup udara dingin sebelum melanjutkan dengan cepat. ”Penghapusan ajaran Katolik merupakan tujuan utama mereka. Persaudaraan itu yakin kalau dogma takhayul yang disebarkan oleh gereja merupakan musuh terbesar manusia. Mereka khawatir kalau agama terus menyebarkan mitos kesalehan sebagai kenyataan absolut, maka kemajuan ilmu pengetahuan akan terhenti, dan manusia akan musnah karena peperangan abadi di masa mendatang yang amat sangat konyol itu.”
”Seperti yang kita lihat saat kini”. Langdon mengerutkan keningnya. “Terorisme masih menjadi berita utama sampai sekarang. Keadilan masih seperti misteri planet Mars Tampaknya selalu ada kemiripan antara umat yang taat dengan pasukan yang siap berperang.
”Lanjutkan,” kataku.
Langdon mengumpulkan pemikirannya lalu melanjutkan. “Kaum Illuminati berkembang menjadi semakin kuat di Eropa dan mulai memandang Amerika sebagai pemerintahan yang belum berpengalaman. Banyak dari pemimpin bangsa Amerika adalah anggota kelompok Mason, seperti George Washington dan Benjamin Franklin. Mereka adalah orang-orang yang jujur, taat kepada Tuhan tapi tidak menyadari cengkeraman kuat Illuminati dalam diri mereka. Kaum Illuminati mengambil keuntungan dari penyusupan itu dan berhasil mendirikan bank, berbagai perguruan tinggi, dan membangun industri untuk mendanai tujuan utama mereka.” Langdon berhenti sejenak.
”Tujuan mereka adalah dunia yang bersatu, semacam konsep New World Order atau Tata Dunia Baru yang sekuler. Ya! Sekulerisme itulah yang diyakini oleh Illuminati sebagai jalan tengah antara gerja dan ilmuwan”
Aku tercengang. “Jadi sekularisme itu adalah hasil dari kompromi antara illuminati dengan gereja ortodoks?”
”Sebuah Tata Dunia Baru,” Langdon mengulangi, ”berdasarkan pencerahan ilmiah. Mereka menyebutnya Doktrin Luciferian. Gereja menegaskan bahwa Lucifer adalah sebuah kata yang mengacu pada setan. Tetapi persaudaraan itu menegaskan bahwa Lucifer berasal dari bahasa Latin yang berarti sang pembawa cahaya. Atau Illuminator.
Tuan Imajinasi mendesah, tetapi tak lama setelahnya menjadi tenang. ”Pak Robert, duduklah.”
Robert duduk di atas sebuah kursi yang membeku karena suhu sangat dingin. Tuan Imajinasi menggeser kursinya agar dapat lebih mendekat. Akupun menggeser kursi tempat aku duduk. Sebuah siku-siku segi tiga menjadi bentuk formasi kami bertiga.
”Aku tidak yakin kalau aku memahami semua yang baru saja kamu katakan padaku, Pak Robert. Lucifer?” Lirihku.
“Iya, aku memahaminya. Menemukan bukti ilmiah tentang Illuminati sepertinya memang tidak mungkin.” Desis Robert.
Alis Tuan Imajinasi naik. ”Apa maksud Anda? Anda tidak mau—”
Robert terdiam. Aku sendiri cukup familiar dengan kata Lucifer itu. Seorang kawanku, aktivis komunis Rusia, berkali-kali memberiku informasi tentang istilah ini.
“Konspirasi global jaringan the Luciferians Internasional sudah puluhan tahun menggarap Indonesia untuk dipecah belah menjadi 17 negara merdeka. Dimulai lepasnya Propinsi Timor Timur, Penguatan Otonomi Daerah, pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua secara rutin setiap tanggal 1 Desember, kemenangan rakyat Aceh yang menempatkan calon Independen dari GAM menjadi Gubernur, penguatan eksistensi RMS hingga tampil mengibarkan bendera di depan presiden RI pada acara Hari Keluarga Nasional 27 Juli 2007 di Ambon, dan lain-lain. Begitu data yang ada pada kami, Tuan Imajinasi”. Kata Robert.
“Data anda sedikit subyektif. Aceh punya latar belakang sejarah yang berbeda” Koreksiku. Dan seolah tidak terlalu menarik data Robert, Tuan Imajinasi berpaling padaku dan menanyakan sesuatu. Suaranya setengah berbisik, nyaris tak terdengar oleh Robert. “Bukankah pola seperti itu juga yang mereka lakukan pada Khilafah Utsmani Turki sebelum tahun 1924 itu?”
“Ya, konspirasi berhasil memisahkan persudaraan bangsa Arab dan bangsa Turki lewat propaganda sentimen nasionalisme”. Jawabku.
“Bukan hanya sebatas itu. Bahkan Illuminatilah yang kemudian menyiapkan pemimpin di kedua
bangsa itu. Mustafa Kamal untuk Turki dan Ibnu As-Saud untuk bangsa Arab”. Sambung Robert. Rupanya ia mendengar bisik-bisik kami.
“Bukannya Inggris dan Prancis?” Tanya Tuan Imajinasi.
”Tuan Imaji,” Langdon mencondongkan tubuhnya ke arah Tuan Imajinasi dan merasa tidak yakin bagaimana membuatnya mengerti tentang hal yang akan dikatakannya. ”Aku memang belum menyelesaikan penjelasanku. Tapi aku sangat yakin kalau Illuminati itu memang ada meski keberadaan mereka sudah tidak dapat dibuktikan sejak lebih dari setengah abad yang lalu, serta hampir semua ilmuwan Amerika sepakat kalau Illuminati sudah bubar sejak lama, aku tetap percaya. Kelompok Illuminti itu masih ada.”
Kata-kata ilmuwan Harvard itu membuatku gembira. Keyakinanya akan Illuminati sama dengan keyakinanku tentang konspirasi.
”Simbol,” kata Langdon, ”menurut para ahli tidak dapat memastikan keberadaan si pencipta simbol yang asli.”
”Apa maksud Anda?”
”Ketika filosofi terorganisir seperti Illuminati itu punah, simbol mereka akan tetap ada dan dapat digunakan oleh kelompok lain. Itu disebut transfer simbol. Hal itu sangat biasa dalam dunia simbologi. Nazi mengambil lambang swastika dari agama Hindu, orang-orang Kristen mengambil bentuk salib dari bangsa Mesir”.
Ketika aku mengetik kata Illuminati pada google search di handphone ku, aku menemukan banyak sekali referensi baru. “Sepertinya masih banyak orang yang berpikir kalau kelompok ini masih aktif.” Kataku.
“Itu hanya para penggemar teori konspirasi,” sahut Robert. la selalu terganggu oleh teori konspirasi berlebihan yang beredar di dalam budaya pop modern. Media menampilkan berita utama yang mengejutkan, dan dengan sok tahu membuat berita kalau Illuminati masih ada dan mampu mengelola Tata Dunia Baru dengan baik. New York Times pernah melaporkan tentang hubungan antara kelompok Mason dengan beberapa orang terkenal, seperti Sir Arthur Conan Doyle, Duke of Kent, Peter Seller, Irving Berlin, Prince Phillip, Louis Armstrong dan beberapa pengusaha dan bankir terkenal lainnya”.
”Tapi ada satu penjelasan yang jauh lebih masuk akal. Mungkin saja ada organisasi lainnya yang mengambil alih lambang Illuminati dan menggunakannya untuk tujuan mereka sendiri.”
”Justru sebaliknya. Hampir seluruh organisasi merasa telah bekerja untuk tujuannya sendiri, tetapi jarang menyadari bahwa konspirasi ada didalam mereka dan telah membelokkan tujuan mereka menjadi tujuan Illuminati.”
“Anda yakin seperti itu Tuan Robert?”
“Hampir”
“Termasuk kelompok-kelompok Teroris?
“Bahkan merekalah yang membentuk kelompok-kelompok teroris itu”
“Aku rasa tidak.” Sela Tuan Imajnasi. “Kelompok Illuminati mungkin saja ingin menghilangkan agama, tetapi mereka menjalankan tidak dengan kekerasan melainkan melalui sarana politis dan keuangan, bukan melalui tindakan terorisme.” Robert terdiam. Tuan Imajinasi terlihat antusias menunggu jawaban Robert.
“Dalam sebuah dokumen rahasia Yahudi yang dikenal dengan Protocol Zion, beberapa point jelas-jelas menulis bahwa perang dan terror adalah bagian dari agenda mereka. Bukan begitu, Pak Robert?” Aku mengambil alih, ingin meyakinkan Tuan Imajinasi.
Robert Langdon terlihat sedikit kaget. “Anda punya bocoran itu, Pak Muslim?”
“Hmm, kebetulan Pak Robert” Jawabku sedikit enteng. Dalam hatiku tertawa. Dia masih memanggilku Pak Moslem. Sejak menyentil logo Dollar AS tadi, intuisiku berkata bahwa ada ketidak senangan dari orang Harvard ini. Aku memaklumi. Bagaimanapun, rasa superioritas orang Amerika tentu kurang lebih sama, tak peduli ia seorang ilmuwan. Rasa nasionalismenya akan muncul manakala Negaranya dipojokkan. Apalagi jika menyangkut boroknya yang mereka yakin negara-negara yang dianggap jajahannya seperti Indonesia, tidak mengetahuinya. Aku tak peduli. Biar saja ia berusan dengan Tuan Imajinasi.
“Cepat katakan, kawan! Aku ingin mendengarnya”. Tuan Imajinasi mulai sedikit provokatif. Aku faham maksudnya.
“Baik. Beberapa diantara agenda itu adalah: Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak sehingga memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya. Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini. Dan pemerintahan bentukan konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa lain. Konspirasi……”.
“Cukup, Pak Muslim” Potong Robert tiba-tiba. “Selebihnya aku sudah tahu”. Lanjutnya.
Aku memahami kenapa Robert tak ingin aku melanjutkannya. Beberapa point yang aku sebutkan itu tak lain adalah strategi-strategi terselubung yang telah dimainkan Amerika serikat dalam paket-paket kebijakan luar negerinya.
Dahi Tuan Imajinasi berkerut. Ia terlihat tak suka pada sikap Robert. “Mr. Robert! Kita telah bersahabat cukup lama. Kau adalah satu-satunya Ilmuwan Amerika yang aku kenal obyektif dan jujur. Katakan padaku apa yang katamu sudah tahu itu”.
Suara Tuan Imajinasi meninggi. Karakter mengintimidasi seperti ini adalah ciri khasnya dalam setiap diskusi. Positifnya, ia sendiri memang sangat sportif dan terbuka.
“Baik, sahabatku,” Robert tersenyum dipaksakan. “Pada point tiga belas menyatakan, konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1000 orang non-Yahudi sebagai balasannya. Point delapan belas, terorisme harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi ini. Point sembilan belas, konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga ditingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar”. Robert kembali diam. Nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Dan tanpa disadarinya, ia tidak lagi menggunakan kata Illuminati tetapi konspirasi
.
“Ayo, sahabat.. katakan semuanya” Desak Tuan Imajinasi. Robert tampak kikuk, dan aku yang melanjutkannya.
“Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia. Dengan demikian, penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan”.
“Caranya?”
“Meletuskan perang lalu memberi atau menjual senjata yang paling mematikan pada mereka. Cara ini diyakini akan mempercepat penguasaan suatu negeri yang tinggal dihuni oleh fakir miskin, dan sebuah rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya”
“Jika cara itu berhasil?”
“Pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggung-jawab atas terjadinya kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka. Krisis ekonomi yang akan sengaja dibuat memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan”.
Aku memperhatikan, raut muka Robert sedikit memerah. Dalam hatiku berkata. Maaf, aku menghapal luar kepala ke dua puluh lima point itu. Meski tidak kusebutkan semuanya. Aku hanya menyebutkan point-point yang terkait dengan perang. Agenda satu abad yang dibuat pada tahun 1930 ini ditargetkan akan tercapai semuanya pada tahun 2025 nanti. Lima tahun sebelum genap 100 tahun. Secara garis besar, ada tiga langkah besar yang mereka gunakan. Menguasai Media, menguasai lembaga-lembaga keungan dunia semisal IMF dan bank-bank raksasa, dan Menguasai Perdagangan senjata.
Robert Langdon mulai salah tingkah. Namun sebagai seorang Profesor yang sudah terbiasa menghadapi multi diskusi, Mr. Robert segera mampu mengembalikannya seperti sedia kala. Genius, hangat, dan super simpatik. Dan sejelek-jeleknya tabiat Tuan Imajinasi padaku, khususnya dalam hal arogansi intelektualnya ketika diskusi empat mata denganku, aku tahu, ia belum sekalipun mengecewakanku ketika berhadapan dengan kaum liberalis. Ia adalah teman spesial terbaik untuk hal satu ini.
ooOoo
Matahari musim semi mulai terbenam di balik Basilika Santo Petrus, dan bayangan besar gereja tersebut membentang dan menelan piazza di hadapannya. Ketika kami bermaksud pamit, tiba-tiba Pak Robert memanggilku. “Mr. Inkart” Kali ini ia menyebut namaku. Ia tidak lagi memanggilku dengan Mr. Moslem. “Bisa anda menjelaskan pesan apa yang ingin disampaikan presiden anda pada dunia dengan diplomasi meja makannya?” Aku terdiam. Aku tak langsung bisa menebak jawaban apa yang Robert inginkan. Aku lalu sedikit membungkuk sembari menyentuh lengan Robert. “Maaf, Mr. Robert, boleh aku tidak bicara apa-apa tentang politik di negeriku?”
“Hehe, tak masalah Mr. Inkart. Aku hanya tergelitik dengan Mie Pangsit yang dibawa oleh si Ibu gempal itu”. Aku faham apa maksud Mr. Robert tetapi aku tetap tak tergoda menanggapinya.
Ketika kami melintasi tempat terbuka yang luas di Lapangan Santo Petrus, Mr. Robert mengajak kami berbelok hingga kami meyaksikan karya-karya para seniman besar yang menandai puncak kejayaan Reneissance.
Robert Langdon, sahabat Tuan Imajinasi itupun mulai bercerita banyak tentang kebangkitan dunia barat.
“RENAISSANCE berasal dari bahasa Perancis yang berarti "lahir kembali" Jadi, dengan kata lain Renaissance sebenarnya adalah lahirnya kembali orang Eropa untuk mempelajari ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Kuno yang ilmiah dan rasional. Pencetus Renaissance adalah para humanis, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang pemikiran dan budaya klasik Yunani dan Romawi”. Papar Robert penuh antusias.
“Pertanyaannya, pengaruh dari peradaban manakah sehingga pengetahuan Yunani dan Romawi kuno itu dapat mengemuka kembali”. Akupun meresponnya tak kalah antusias.
“Aku tahu kemana arah pertanyaan anda. Jujur saja, meski rekan-rekan sejarawan barat lainnya berusaha menyamarkannya, tapi aku tak bisa seperti mereka. Islamlah yang memicu kebangkitan itu” Jujur Robert.
“Sebelum Renaissance, bangsa Eropa mengalami jaman kegelapan atau The Dark Age. Dalam jaman itu gereja berkuasa mutlak, ajaran gereja menjadi sesuatu yang tidak boleh dibantah. Pada saat yang sama, bangsa-bangsa lain justru sedang berada dalam puncak peradabannya dibawah sistim pemerintahn Islam.
“Adanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pihak gereja yang sudah sangat melampaui batas telah menyebabkan terjadi reformasi gereja. Bukan begitu, pak Robert?”
“Anda betul. Tokoh-tokoh seperti Martin Luther, Johannes Calvin, Erasmus Desiderius, Zwingli, John Knox, John Wycliff sangat berperan penting dalam reformasi gereja. Reformasi gereja menumbuhkan benih-benih demokratisasi politik, kesadaran individual akan pentingnya hak-hak politik, kebebasan individu, keberanian rakyat untuk selalu melakukan kontrol terhadap kekuasaan”.
“Dan pengaruhnya sangat spektakuler melanda negeriku, Tuan Robert. Anda tahu, aktifis-aktifis muslim liberal di negeriku kini juga sedang berjuang melegalkan pernikahan sejenis”. Kata Tuan Imajinasi tiba-tiba setelah lama terdiam.
Robert tertawa. Tuan Imajinasi berhasil membangun sebuah keterbukaan yang jujur antara kami bertiga. “Renaissance yang bermula di Itaia kemudian menyebar ke berbagai negara Eropa lainnya. Negara Eropa pertama yang mendapat pengaruh renaissance Italia ialah Jerman. Adanya kekaguman terhadap renaisans Italia telah mengundang banyak raja dan penguasa Eropa untuk mengambil istri dari penguasa Italia. Seperti yang dilakukan oleh raja Hungaria dan Polandia serta kaisar Jerman dan Prancis yang menikahi putri-putri dari penguasa Italia.”
“Anda bukan melecehkan para aktivis liberal negeriku karena sama sekali tak ada hubungan geneologis dengan ningrat-ningrat Italia itu, bukan?” Goda Tuan Imajinasi.
“Begini,” Kata Robert. “Umumnya ketika pindah ke negeri suami-suami mereka, putri-putri tersebut membawa pengiring dan pelayan. Para pelayan itu kebanyakan adalah para artis, seniman, dan cendikiawan humanis. Para pelayan itulah yang secara tidak langsung menyebarkan virus Reinassance ke wilayah-wilayah Eropa lainya, khususnya tempat sang permaisuri-permaisuri itu berdomisili”.
“Hubungannya dengan negeri kami?” Serempak aku dan Tuan Imajinasi bertanya.
“Kuat kemungkinan, inspirasi Renaissance para aktivis secular liberal negeri kalian itu diperoleh dari para seniman atau cendekiawan keturunan para pelayan putri-putri raja tadi”. Mimik Robert tampak serius.
“Artinya?”
“Demi uang adalah lumrah jika watak pelayan itu masih melekat pada mereka. Menjilat dan merangkak dibawah pantat majikan, tetapi..”
“Tetapi apa, Mr. Robert?”
“Congkak dan merasa lebih pintar kerena menganggap bahwa sekulerisme itu sesuatu yang hebat”’.
oooOooo
Cuaca dingin Roma membuatku benar-benar menggigil, Otakku yang belakangan ini selalu panas setiap kali melihat berita di Metro TV juga terasa mulai dingin. Ketika mobil yang kami tumpangi kembali memasuki area hotel Bernini lalu sesaat setelahnya seorang perempuan cantik ramping telah berdiri di depan loby melambai-lambaikan tangannya. Aku tahu bahwa wanita itu adalah Victoria, kekasih Mr. Robert.
“Mari silahkan masuk, Tuan-Tuan. Kami telah menyiapkan segala sesuatunya”.
Suara Victoria menggetarkan hatiku. Aku tahu aku lemah dalam hal satu ini. Sambil berjalan, Victoria terus menyamankanku dengan basa-basi manja berkelasnya, aku mulai terbuai dan terus mengikut saja kemana ia melangkah. Aku tak melihat lagi keberadaan Mr. Robert, pun Tuan Imajinasi. Ah, bodoh amat, aku terus berjalan di sisi Victoria. Sebuah ruangan penuh bunga berwarna-warni mulai tampak di balik mini bar yang kami lalui. Viktoria kini manggamit lenganku. Tarikannya cukup terasa walau pelan, semakin lama kekuatan tarikan itu semakin terasa….
Pak! Pak! Bapaaaakk!! Bangun...sudah siaaaang! Antarka ke sekolah!!
Aku mengucek-ngucek mataku. E’laksyiimpe'nale! Rupanya Si Giang, anak laki-laki sermata wayangku yang baru kelas 3 sekolah dasar itu, terus menarik-narik selimutku dan mengguncang-guncang tubuhku dengan keras.
Tinta-tinta telah ditumpahkan dan warna-warna hanyalah jelman belaka...... Masihkah perlu kata ketika warna-warna itu telah mengungkap segala rahasia?? Iqra' bismirabbik....Tuhan yang telah mencipta segala.......
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Februari 2017
Minggu, 22 Februari 2015
CINTAKU ORDE BARU
Namaku Anita. Umurku 39 Tahun, tinggal di kota Bogor. Alhamdulillah saya dikaruniahi rumah tangga yang bahagia. Saya sangat bahagia dan nyaris tak kekurangan apapun. Dalam segala hal, saya dan suamiku selalu saling jujur dan terbuka. Satu-satunya yang sampai hari ini belum bisa saya jujur padanya adalah bahwa saya diam-diam masih mencintai seorang lak-laki lain. Saya masih sangat merindukannya. Hingga suatu masa……………
Ceritanya begini:
Saya dan laki-laki lain yang saya maksud itu adalah sama-sama jurnalis kampus pada kampus kami masing-masing. Dinamika pergerakan mahasiswa menggiring kami saling kenal. Kami lalu saling jatuh hati. Sangat saling cinta. Namun karena suatu keadaan yang tidak memungkinkan, tiba-tiba saja kami berpisah dan kurang lebih 15 tahun tak pernah lagi ada kabar berita.
Kami berpisah tak lama setelah terpilihnya kembali pak Harto pada pemilu 1997.
Pasca reformasi, Tahun 1999 saya masih sempat membaca sebuah tulisan cerpennya di sebuah koran harian Jakarta. Cerpen itu bercerita tentang kisah cinta kami yang amat rumit akibat situasi pergerakan mahasiswa di Jogja kala itu.
Dia lelaki tampan, aktivis sejati. Seorang Idealis tulen. Namanya Abraham, kupanggil dia Mas Bram.
Suatu hari saya bermaksud berkunjung kerumah ayah di sebuah desa yang cukup jauh dari kotaku. Jika perjalanan lancar biasanya jarak tempuh dari kotaku ke desa itu membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Dalam perjalanan ini, bus yang kutumpangi terpaksa jalan memutar karena jalan poros yang biasa dilaluinya terhadang oleh demo besar-besaran. Dimana-mana mahasiswa menuntut pembatalan kenaikan bbm.
Masya Allah, setelah satu jam lebih perjalanan, betapa bergetarnya hatiku ketika bus itu melewati sebuah rumah tua yang masih begitu akrab dalam kenanganku. Sungguh tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ya! Tidak salah lagi itu adalah rumah orang tua Mas Bram. Lelaki yang bertahun-tahun pernah bersamaku dalam suka dan duka.
“Pak, pak! Saya turun disini saja”.
Tanpa fikir panjang tiba-tiba saja saya meminta pak sopir untuk berhenti.
Didepan pintu rumah tua itu, beberapa menit saya sempat mematung. Sekilas terbayang wajah teduh suami dan canda tawa anak-anakku dirumah. Ya Allah! Bimbing dan lindungi hambamu ini!
Saya lalu mengetuk pintu beberapa kali.
“Assalamu alaikum, assalamu alaikum!!
Seorang ibu tua lalu muncul membuka pintu. Diamatinya sekujur tubuhku sambil keningnya berkerut. Mungkin mencoba mengingat-ingatku.
“Ka..ka..mu Anita??
“Iya bu, saya Nita” Langsung saja kuraih tangan ibu tua itu, kucium, dan kupeluk. Air mataku tak terbendung. Sungguh kuharu rasanya dengan pertemuan ini. Belasan tahun lalu, baru kali ini lagi bisa berjumpa. Ibu tua ini, serasa seperti dengan ibu kandungku. Kasih sayangnya padaku tak bedanya seperti pada anaknya sendiri.
Lama saya hanya terdiam. Lidahku benar-benar kaku. Air mataku juga tak henti menganak sungai. Kenangan itu satu demi satu berloncatan seperti baru kemarin sore saja rasanya.
“Dia masih seperti dulu, di kepalanya hanya negara dan negara. Dia tidak mau menikah. Waktu ibu desak, katanya dia tidak mau menikah karena sudah pernah janji sama kamu, Dia masih menunggumu, Nak!” Ibu Mas Bram yang mulai bicara.
Tubuhku lunglai. Saya tahu betul bagaimana komitnya lelaki itu jika telah berjanji. Andai bisa, sungguh ingin rasanya kuputar waktu. Di kursi kayu antik tempat ibunya duduk saat ini, disitulah dulu Mas Bram selalu duduk sembari membakar semangatku dengan fatwa-fatwa pergerakannya.
“Dik! Saya kurang setuju dengan pola Amin Rais. Reformasi terlalu lambat!” Katanya penuh semangat.
“Tapi yang dilakukan Bang Bintang itu juga konyol, Mas. Soeharto terlalu kuat, Nita takut Mas! Tulisan-tulisanmu di media sudah terlalu garang. Nita tidak mau Mas Bram bernasib sama dengan anak-anak PRD itu, entah bagaimana nasib mereka kini. Mungkin sudah mati”
Nadaku memelas. Saya benar-benar merasa cemas jika nasib naas sewaktu-waktu akan menimpa lelaki yang sangat kusayangi itu.
“Hehe, mati katamu? Diculik atau tidak, itu hanya soal nasib buruk dan baik. Semua telah tertulis dilangit sana, bukan?” Suara mas Bram santai tapi tegas.
“Ketahuilah dik! Pergerakan tidak akan pernah mati. Ia akan selalu tumbuh di setiap tirani, sebab yang menggerakkannya adalah nur, cahaya dari langit. Lanjutkan tulisanmu itu dik, kita memang tidak bisa hanya mengandalkan mahasiswa. Seluruh elemen rakyat harus di gerakkan!” Lanjutnya.
Mas Bram bukannya berfikir dengan kata-kataku barusan. Adrenalinnya malah terpicu dan justru semakin menyemangatiku. Saya memang sedang menulis tentang pentingnya petani dan buruh mengorganisir diri. Tulisan itu sekaligus adalah skripsiku yang rencananya akan kuseminarkan tak lama lagi.
“Iya, saya faham mas, tapi kita juga harus memikirkan masa depan kita. Kamu kini jadi target utama. Tulisan-tulisanmu telah dianggap sebagai tindakan subversib! Saya sungguh takut kamu juga akan di bunuh!” Sekali lagi kuutarakan kekhawatiranku.
“Dik, lihat mataku. Percayalah! aku tidak akan mati sebelum rezim keparat ini tumbang! Dan dengarlah sumpahku untukmu. Demi Allah, aku tidak akan pernah menikah kecuali denganmu. Tetapi akupun tidak akan meminangmu sebelum perjuangan ini berhasil. Bersabarlah! Target kita 1998 sudah tak lama lagi.
Ya Allah, semuanya masih sangat jelas. Kubayangkan mata bulat Mas Bram menyala-nyala. Tak pernah kulihat sedikitpun rasa takut dimatanya. Aku sangat merindukannya. Sungguh tak kuasa lagi kumenahannya. Bagaimana ini?
“Ayo diminum dulu nak!” Sacangkir teh hangat yang disodorkan ibu Mas Bram menghentakku dari lamunan.
“Sudahlah, Nak! Masmu juga tidak pernah menyalahkanmu atas keputusan yang kamu ambil. Sedari kecil ibu sudah tanamkan padanya bahwa ajal, rezki dan jodoh itu bukan kuasa kita. Cintailah suamimu sepenuh jiwa. Dialah yang menurut Tuhan terbaik untukmu” Katanya.
Suaranya sedikit bergetar ketika mengucap kalimat-kalimat itu. Sungguh perih hati ini mendengarnya.
“Maafkan Nita, bu. Nita benar-benar tak tahu harus berbuat apa ketika orang tua Nita terus mendesakku segera menikah waktu itu. Mas Bram tak mungkin mau melakukan itu sebelum perjuangannya tercapai, bukan?”.
“Ibu mengerti, nak!” Lirihnya.
Tangannya yang mulai keriput tak henti mendekap tubuhku dan mengusap kepalaku. Sungguh kurasakan seperti belaian almarhumah ibuku ketika saya sedang gundah.
Tak terasa dua jam sudah saya mengobrol dengan ibu Mas Bram. Tepatnya bernostalgia. Jam sudah menunjuk angka empat lewat sepuluh menit. Tujuan perjalananku terpaksa kubatalkan.
Sekali lagi mataku manyapu seluruh ruang rumah tua itu. Tak ada yang berubah. Sebuah puisi yang dulu kutulis berdua dengan Mas Bram juga masih terpampang rapi dalam bingkai di sudut ruang tamu. Lama ku termangu. Rindu sungguh aku rindu.
“O ya bu, hari sudah sore. Nita harus segera pulang. Ini nomorku, tolong dikasih ke mas Bram jika suatu hari menelpon ibu” Secarik kertas kutitip padanya. Sekali lagi kupeluk dan kucium ibu itu.
“Nita sungguh menyayangi ibu. Assalamu alaikum” Tak lupa kuselipkan beberapa lembar uang kertas merah.
*******
Semenjak peristiwa itu, sedetik pun hampir tak pernah pikiranku meleset dari keseluruhan Mas Bram. Saya bisa merasakan betapa nelangsanya hidupnya selama ini. Hidup sendiri tanpa seorang wanita yang mendampinginya.
Sedang diriku? Seberusaha-berusahanya ku cintai suamiku sepenuh hati, tak dapat kupungkiri bahwa Mas Bram masih saja selalu ada disi hatiku yang lain.
Ah Tuhan, menjadi istri yang taat, patuh, setia, memberi pelayanan terbaik pada suami, Engkau telah melihatnya, bukan? Semua itu telah kulakukan semaksimal mungkin untuk Kak Mujib, suamiku.
Tapi Mas Bram, lelaki yang dingin., apa adanya, jujur, tegas, tak pernah bisa diam jika melihat kedzaliman, sebuah karakter yang sungguh kukagumi. Mas Bram seorang petarung, sedang kak Mujib lelaki sholeh yang lembut. Hampir tak ada sama sekali keburukan yang kutemukan dalam dirinya. Dia begitu santun dan pengertian. Ibadahnya bagus. Sungguh adalah sosok pengayom bagi biduk rumah tangganya.
Astaghfirullah, mengapa pula saya mulai membanding-bandingkan suamiku dengan lelaki lain?
Parahnya, beberapa bulan terakhir ini, perhatian dan kasih sayang suamiku padaku semakin hari semakin besar saja rasanya. Tanpa kuminta, segala sesuatu yang kusukai seringkali telah disiapkannya.
Tak lama berselang membeli untukku beberapa novel pergumulan ideologi kesukanku, Hari ini tiba-tiba suamiku memberikan lagi hadiah beberapa film dokumenter. Film-film mengenai beberapa revolusi besar dunia. Dia pun kini semakin romantis. Ada apa dengan perubahan suamiku?
Selama ini segala kebutuhan dan keinginanku memang selalu dipenuhinya, tetapi perhatian-perhatian seperti novel dan film itu nyaris tak penah dilakukannya.
“Wahai suamiku, terima kasih tak terhinggaku. Engkau semakin memahamiku saja. Maafkan istrimu yang belum bisa mencintaimu seutuhnya ini” Batinku terus bergolak. Ada sesak menghimpit dada. Betapa berdosa dan bersalahnya diriku. Seorang istri yang tidak bisa melupakan sosok lelaki lain dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.
“Insya Allah, suatu hari cinta ini akan utuh untukmu, kak”. Begitu tekadku dalam hati.
******
Kurang lebih empat bulan sejak pertemuanku dengan ibunya. Mas Bram benar-benar menghubungiku. Hari ini adalah hari kelima setelah kami setiap hari berkomunikasi lagi.
“Kalau kau rindu padaku, aku pasti tahu itu seperti apa. Aku pun sungguh rindu berjumpa denganmu, bercanda, berbagi cerita, bahkan betapa inginku seperti dulu lagi.
Tapi, bila kau tanya cintakah kau padaku? Sungguh aku tak ingin kau bertanya begitu. Bagaimana mungkin sesuatu yang jelas telah kau tahu lalu kau pertanyakan lagi? Belum cukupkah aku membuktikannya?
Kau tahu? Aku takkan menyia-nyiakan sekecil apapun kesempatan untuk bersamamu lagi. Bahkan jika takdirku, kenapa tidak kau akan menjadi milikku. Tapi percayalah, Bram tetaplah seperti dulu. Lebih baik sakit daripada menyakiti. Aku tak mungkin menyakiti hati lelakimu, apalagi hatimu”
Subhanallah, sekali lagi kubaca bbm Mas Bram. Betapa sederhanya kalimat-kalimat itu. Tapi saya benar-benar percaya bahwa sedikitpun tak ada canda disitu. Mas Bram serius. Mas Bram sungguh-sungguh, dan Mas Bram selalu yakin dengan apa yang dikatakannya.
“Ya Allah, beri hamba petunjuk. Hamba benar-benar gamang” Disetiap sujudku, tak henti ku bermunajat pada-Nya.
Beruntung, hari ini ayahku datang mengunjungiku. Kebetulan sebentar sore suamiku juga berencana kerumah orang tuanya di luar kota. Mungkin karena itu ayahku datang. Suamiku memang kerap meminta ayah menemaniku jika dia harus menginap karena sebuah hajatan diluar kota.
Mendung menyelimuti kota Bogor. Nampaknya akan turun lagi hujan deras. Saya lalu membuat dua cangkir kopi. Satu untuk suamiku dan satunya lagi untuk ayah.
“Nita, kemarilah, Nak. Sesuatu yang amat penting ingin ayah sampaikan padamu” Sapa ayah pagi itu.
Tumben, ada apa mimik ayah seserius ini, fikirku.
Saya kemudian duduk tepat di depan ayah. Tak lama kak Mujib pun datang dan duduk di sisi kanan ayah. Sejenak kami semua terdiam. Ayah kemudian melanjutkan bicaranya.
“Mujib, Nita, kalian adalah sama-sama anak ayah. Tak ada yang ayah bedakan. Kalian telah berumah tangga selama 15 Tahun. Ayah bersyukur kalian selalu rukun, berkecukupan, juga sepasang putra-putri kalian yang sehat dan lucu….”
Tiba-tiba ayah berhenti bicara. Sepertinya ada sesuatu yang sangat berat diucapkannya. Matanya pun kini berkaca-kaca. Apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, ayah? Kak Mujib, ada apa??”
Kupandangi wajah ayah dan suamiku bergantian. Keduanya hanya diam. Kesedihan terlihat pada raut wajah keduanya. Mereka tertunduk.
“Kak Mujib, kak Mujib, ada apa??” Tanpa sadar ku guncang-guncang tubuh suamiku. Kugenggam kedua tangan ayahku.
“Ayah! Ada apa??”
Hari Jum’at Pukul 11.00. Suara Masjid sudah mulai bersahut-sahutan pertanda waktu sholat Jum’at sebentar lagi akan tiba. Semua itu menjadi saksi.
“Nita, hari ini Mujib telah resmi menceraikanmu, Nak”
“Apa??? Ayah bicara apa barusan????”
Seperti disambar petir disiang bolong. Kalimat ayah berusan benar-benar membuatku shock. Ku tatap mata Kak Mujib dengan tajam. Ingin kutemukan jawaban darinya. Kulihat kak Mujib seberusaha mungkin menenangkan dirinya.
“Ayah benar, dik! Sejak pertemuan ini saya bukan lagi suamimu. Saya men-talak-mu” Belum sempat kak Mujib melanjutkannya saya kembali memotong.
“Apa maksud dari semua ini, kakkk?? Suaraku meninggi, tangisku pun meledak sudah.
“Tenangkan dirimu, dik. Dengarlah baik-baik. Dua bulan belakangan ini, kakak bersama Mas Bram sudah mengkonsultasikan segala sesuatunya dengan ayah. Kakak terpaksa memutuskannya seperti ini. Kakak fikir jalan inilah yang terbaik. Benar katamu, cinta tak dapat dipaksakan”
Saya kini mulai memahami apa yang terjadi. Saya pun teringat, karena inikah kak Mujib tak henti-henti memeluk dan menciumiku seusai menjalankan ‘sunnah’ tadi malam?
Ya Allah, Tuhan pemilik takdir. Kuatkan hatiku. Kuatkan hati Kak Mujib.
Apa yang bisa kulakukan?? Saya hanya bisa menangis. Menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan semua kesalahanku selama ini, kak” Tak henti ku memelas dan bersimpuh dihadapan kak Mujib.
Begitulah. Seperti mimpi saja rasanya. Semua terjadi begitu cepat. Tak lama selepas masa iddah perceraianku dengan kak Mujib, Mas Bram pun meminangku.
Kini setahun telah berlalu, di rumahku, bersama kedua anakku dari kak Mujib, kami sedang menunggu lahirnya buah cintaku dengan Mas Bram. Tujuh bulan sudah terus bergerak-gerak didalam rahimku. Tak henti-henti kami mengucap syukur. Cinta oh cinta. Ia memang sungguh anugerah Tuhan yang paling indah.
*********
Ahad, 22 Pebruari 2015
“Mama, mama, sini cepat! Lihat, ada papa tuh di TV” Sorak si bungsu kegirangan.
Saya lalu mendekat memperhatikan berita yang ditunjukkan oleh si bungsu. Suara TV ku besarkan.
Benar, di bundaran Hotel Indonesia, dihadapan ribuan pengunjuk rasa, lelaki sederhana itu sedang membakar gelora perlawanan.
Mas Bram kembali turun ke jalan, berdiri diatas sebuah mobil, memegang microphone, suaranya membahana, menggema-gema diatas langit Jakarta.
“Pergerakan tidak akan pernah mati. Ia akan selalu tumbuh di setiap tirani, sebab yang menggerakkannya adalah nur, cahaya dari langit.
Sadara-saudaraku…!! Dan kepada siapapun yang masih memiliki nurani, mari selamatkan KPK dari konspirasi para maling negeri ini.
Merdeka, Merdeka!!”
**************** Sekian
Cerpen ini kudedikasikan untuk Abraham Samad dan seluruh pegiat anti korupsi di negeri ini.
Jumat, 20 Februari 2015
Juwita, In Memoriam of Candu
Tiba-tiba ingin sekali kumenulis. Pasti tentangmu, melibatkanku juga, atau lebih luasnya tentang kehidupan. Bukankah kamu adalah kehidupan? Kehidupanku. Setidaknya kamu pernah ada dan hadir dikehidupanku. Apakah karena kita tak lagi ada dalam sebuah persinggungan kehidupan lalu tiba-tiba tak lagi kuanggapmu ada? Tidak. Pasti tidak.
Bahkan kini aku ada paling depan diantara kerumunan orang yang berdoa dan menangis untukmu.
Kau tahu? Perjumpaan kita adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Perjumpaan yang sejak awal sepenuhnya kusadar bahwa segala sesuatu memang kembali berakhir, pasti getir dan bakal meninggalkan jejak sepi rindu yang panjang, tapi aku tak pernah merasa bahwa mengenalmu adalah luka yang harus kutangisi.
Benar katamu. Hidup adalah wadah untuk belajar setiap waktu. Ya, aku memang terus belajar. Belajar dari semua rentetan peristiwa yang sambung menyambung tanpa pernah kurencanakan ini.
Belajar dari betapa kehadiran sesaatmu itu telah memporak-poranda hatiku sedemikian rupa. Kehadiranmu yang memang seharusnya membuatku kian tegar, kokoh bagai karang dihempas gelombang.
Tapi tidak, kau bukan sekedar ombak. Kau benar-benar meluluh lantak hatiku. Atau jika kau ombak, aku ternyata bukanlah karang. Aku rapuh. Aku tak setegar dan sekokoh yang kau duga. Mungkin hanya terlihat seperti kokoh dan tegar.
Ah, betapa indah ketika di malam amal itu kau bacakan puisimu.
“Puisi ini adalah karyaku sendiri, ingin kupersembahkan pada siapa yang damba mendamba” Prolog pendekmu.
Kaupun membacakannya dengan gaya santai namun penuh dengan penghayatan. Kata-katamu tidaklah terlalu puitis, tetapi terlihat sekali bahwa kalimat-kalimatmu adalah janin kata yang lahir dari kedalaman rahim hatimu.
CINTA DIAM
Saya mencintaimu diam-diam.
Kamu tidak akan tahu karena memang tak perlu kamu tahu.
Cinta adalah soal rasa seperti halnya rasa lain; benci, rindu, marah, senang, dan seterusnya.
Cinta itu tinggi, bahkan sangat tinggi kedudukannya.
Cinta adalah anugrah pertama Tuhan dalam kehidupan ini.
Adam, moyang kita, tahu pasti hal itu.
Cintalah yang membuatnya ada dan untuk itu diciptakan sorga sebagai istana tempat dia mengekspresikan seluruh rasa-rasanya, termasuk cintanya.
Rindu pada kehadiran seorang wanita sebagai pelengkap dari rasa tak utuhnya adalah manifestasi cinta-Nya jua. Diciptakanlah Hawa sebagai tempat dimana ia dapat menumpahkan rasa tak utuhnya itu……….
Cinta itu tinggi kedudukannya.
Sayangnya ia tak bisa berdiri sendiri, ia tak cukup kuat untuk tidak tidak didampingi oleh rasa yang lain seperti rindu, marah, cemburu, sedih, senang dan seterusnya.
Apakah karena rindu, marah, cemburu, sedih dan senangku engkau tak pernah bisa yakinkan dirimu bahwa sesungguhnya aku mencintaimu???
Apakah karena rindu, marah, cemburu, sedih dan senangmu itu juga sehingga kamu seolah survive dalam kegamanganmu???
Ah, Aku tak akan pernah memberi tahumu, dan memang tak perlu kamu tahu.
Biar saja semua berjalan tanpa ada yang tahu.
Karena aku sungguh-sungguh mencintaimu.
Mencintaimu secara diam-diam.
“Terima kasih”
“Puisinya buat siapa tuh, Mbak?? Betapa berbahagianya lelaki itu”
Belum juga kamu sempat duduk, telah kukirim sms ku.
“Dengar aja nanti MC-nya bilang apa?” balasmu
“Hadirin !! Ada sesuatu yang terlupa oleh pembawa puisi tadi. Kepada siapakah ditujukan puisi itu? Tak ada sebuah nama, bukan? Tetapi hadirin! Kita akan segera mengetahuinya. Menurutnya, puisi itu ditujukan kepada siapa saja yang pertamakali bertanya tentangnya. Dan untuk itu, kita akan periksa hand phone mbak Juwita. Benarkah ada yang bertanya??”
Dengan gaya jenaka, sang MC pun menghipnot para pengunjung sambil berjalan menuju kursi tempatmu berada.
Aku segera memandang ke arahmu. Sekilas kita pun beradu pandang, dan kau senyum-senyum tersipu.
“Hadirin!! Adapun lelaki beruntung itu adalaah.....??”
Sang MC baru saja akan menyebutkan namanya, tetapi tiba-tiba kamu berdiri meminta microphone, berjalan menuju panggung lalu menggantikan posisi sang MC.
“Hadirin! Jujur saja, malam ini seorang lelaki bertanya padaku, Puisinya buat siapa tuh?? Betapa berbahagianya lelaki itu?”
Kaimatmu sambil membuka dan mengangkat handphonemu menghadapkannya kepada para hadirin.
“Tetapi oleh karena puisi tadi adalah puisi cinta diam, maka demi untuk tidak keluar dari konteks ke-diam-annya, dengan berat hati terpaksa tak dapat kusebutkan namanya. Tetapi satu hal, kuharap lelaki itu benar-benar berbahagia, seperti katanya sendiri”
Suara tepuk tangan menggelagar memenuhi gedung kesenian itu. Dengan anggun kau pun melangkah turun sambil menyalami uluran jabat tangan beberapa pengunjung. Sungguh aku terpesona melihatmu.
Ah, mbak Juwita, menurutku kamulah gadis paling beruntung di kota ini. Cantik, kulit putih, hidung mancung, tinggi 167, berat 57, dosen muda, gemar mendaki gunung, kolumnis di beberapa koran, serta digilai oleh banyak lelaki ganteng dan mapan. Tetapi kenapa kamu masih saja sendiri? Aku terus memikirkanmu.
Bagaimana aku tak mengenalmu luar dan dalam? Ayahmu dan ibuku masih saudara. Bahkan aku menjadi lelaki ganteng begini, itu juga berkah dari ASI ibumu. Di keluarga kita semua tahu bahwa kita adalah saudara.
Aku memanggilmu mbak, karena usiaku 2 tahun lebih muda darimu. Tapi tahukah kamu bahwa hingga diusiaku yang sudah 24 ini belum juga mengagumi seorang wanita pun selain dirimu? Ah mbak Juwita! Bagamana ini?? Aku sangat menghormatimu, tetapi aku juga merindukanmu.
“Kok tidak sebut nama sih, Mbak?” Kembali kubertanya via sms.
“Cinta adalah hal yang sulit disembunyikan. Meski begitu, Ia akan lebih indah jika tidak terkatakan tetapi mampu terfahami dengan baik” Balasmu.
Acara pun usai, sungguh aku bersyukur kamu tak langsung pulang. Kudekati, dan aku langsung duduk disampingmu. Kira-kira dua meter dari kita, Mbak Yuli dan Tante Nola juga masih asyik mengobrol.
“Ini semua maksudnya apa, mbak?” Renggekku penasaran.
Hanya senyummu renyah. Nampak gigimu yang berbaris putih disela bibirmu yang ranum bak delima itu.
“Hmm…ceritanya panjang, Ndrong. Kalau kuurai semuanya, kamu bisa menulisnya menjadi beberapa novel” Jawabmu kalem.
Kamu lebih suka memanggilku Ndrong. Rambutku memang gonrong. Kalau duduk bersama Anggun C. Casmi, lalu orang melihatnya dari belakang, pasti memang dikira pinang dibelah dua.
“Tapi gerak hati, selain harus terimplementasikan dengan laku, ia juga harus terlafadzkan toh, mbak?” Desakku lagi.
“Kau meminta mbakmu melafadskannya, Ndrong?
Subhanallah, tiba-tiba matamu bagai embun pada dedaunan saat matahari beranjak naik. Air yang tak jadi menetes karena menguap lalu berkumpul bersama awan. Pernyataanmu barusan, sungguh menjadi pertanyaan yang menari-nari dibenakku.
“Alamak, apa maksud dari pertanyaanmu itu? Hatiku berbunga. Benarkah puisimu itu untukku?” Batinku
“Dalam hidup ini memang kerap kali kita menjumpai hal-hal diluar dari apa yang semestinya. Tapi apapun itu, hidup ini harus disyukuri” Desahmu kemudian.
“Betul, ketika kita berbuat baik, tulus, ikhlas, sebenarnya Allah Yang Maha Rahman Rahim itu seolah membebani dirinya dengan kebaikan kita. Dia seolah berhutang ke kita, begitu kan, mbak?”
Aku kembali mengulang perkataanmu sendiri yang dulu pernah kau bilang padaku.
“Dan bayangin aja kalau Tuhan yang melunasi hutang nya, Ndrong”
“Tentu bukan cara biasa kan?”
“Maka itu kenapa mbak memilih mencintainya sepenuh jiwa, tapi dengan diam”
“Sungguh tak perlu terlafadskan, Mbak?” Desakku sekali lagi.
Kamu tak lagi menjawabnya. Tiba-tiba pandanganmu kosong. Aku lalu berdiri meninggalkanmu menuju toilet. Tak tega kumelihat matamu hampa seperti itu.
Duhai Juwita, sesungguhnya aku teramat merindukanmu, menginginkanmu. Tetapi sekali lagi, kamu adalah mbakku. Apa mungkin?” Batinku terus bergejolak.
“Ndrong, Memang hati itu kodratnya bolak balik, juga karena cinta Tuhan bisa dalam bentuk ujian, termasuk ketika kamu pun tak mampu melafadskannya” Katamu lagi. Dan itu benar-benar membuat lidahku kaku. Sungguh tak kuasa lagi kuberkata-kata.
Malam itu rasa-rasanya nya aku seperti sedang menemukan seorang gadis belasan tahun. Gadis kecil yg bersembunyi pada ketiak waktu yang mungkin sedang patah hati ditinggal kekasih, mungkin dia yatim, atau mungkin sedang lari dari rumahnya. Betapa aku iba dan ingin mencium keningnya, atau sekedar memberinya selimut ketika ia tidur.
“Balik yuk, Wit! Kamu anterin mbakmu ya, Ndrong!”
Tiba-tiba tante Nola dan mbak Yuli telah berdiri didepan kita mengajak pulang. Mereka pasti tidak tahu bahwa dua anak manusia didepannya ini sedang resah melawan rasanya masing-masing.
Dua sahabatmu itu kemudian meninggalkan gedung dan berjalan menuju mobil mereka masing-masing. Kita pun ikut beranjak.
“Mobilnya diparkir dimana, Mbak””
“Disana tuh, depan Kantor Pos Besar”
Kita pun lalu berjalan beriring. Tanganmu menuntun tanganku. Duh, rasanya kita benar-benar seperti sepasang kekasih.
“Kehidupan ini seperti lalu lintas, Ndrong. Kita hanyalah seorang pengendara yang berkelana di jalan iti. Pada gang-gang sempit, jalan raya, trotoar atau mungkin pada pematang sawah. Apakah kita akan melalui jalan raya, lorong atau pematang sawah, apakah pada perempatan jalan raya itu kita akan kekanan, kiri, lurus, melanggar lampu merah atau apa, kitalah yang memilih. Hidup itu pilihan!” Katamu sambil terus menggegngam tanganku.
“Tetapi, semua telah tertulis di langit sana, bukan??” Sambungku
“Hehehe, Iya! Kadang-kadang memang kita bertemu razia polisi atau sesorang yang menyeberang tanpa tengok kekiri dan kekanan” Ujarmu penuh canda sembari dengan lembut mengaca-ngacak rambutku.
Kota Jogja malam itu sepi, angin sedikit kencang disertai hawa dingin. Rintik hujan pelan membasahi jalan. Saat melepas tanganmu ketika mesin telah kau nyalakan, hatiku berdebar-debar, tiba-tiba rasa was-was memenuhi seluruh batinku. Malam minggu menjelang pagi begini, jalan utama menuju rumahmu ramai oleh balapan liar. Tiba-tiba aku takut sesuatu terjadi padamu.
Kau tahu? Betapa enggan kumelepasmu berjalan sendiri. Sebenarnya ingin sekali aku berjalan mengiringimu. Tetapi aku terlanjur berjanji untuk menjemput seseorang di bandara. Seorang gadis yang belakangan ini cukup dekat denganku. Gadis itu adalah Eda yang menurutmu dia itu baik buatku.
Duhai, betapa inginnya ku kecup keningmu malam itu. Betapa inginku kau rasa ketulusan hati ini mengagumimu. Betapa inginnya ku hadir temanimu dalam tidur lelapmu.
“Hati-hati nyetirnya, mbak” Hanya itu yang kukatakan.
“Iya, kamu juga jaga diri baik-baik, Jangan terlalu banyak begadang, kurangi merokok. Sampai jumpa, ya!” Nadamu tetap ceria, tetapi matamu sayu. Itulah kalimat terakhirmu.
Di pagi buta tak lama setelah pertemuan itu, ketika baru saja kami keluar dari pintu gerbang bandara menuju kota, tiba-tiba tante Nola menelponku.
“Kamu ke rumah sakit sekarang. Doakan! Mbakmu kecelakaan”
Begitulah. Enam belas tahun telah berlalu. Masih jelas sekali kata-katamu. “Kehidupan itu seperti lalu lintas, Ndrong. Kita hanyalah seorang pengendara yang berkelana di jalan raya itu”.
Ya! Kita berencana, Tuhan pun berencana. Kebahagiaanku adalah mengenangmu. Mengenang kebersamaan ajaib kita yang hari ini tinggallah air mata yang memata air didasar gundukan tanah gersang.
Inilah kisahmu, tepatnya kisah kita. Kisah yang selalu segar seperti segarnya bunga-bunga yang baru saja kutabur diatas kedua nisan ini.
Selamat Jalan, sayang….
Sungguh aku rindu ingin menemuimu.
Di setiap purnama, membaca sms ini di depan pusaramu, sungguh telah menjadi candu bagiku.
“Mbak mencintaimu. Teramat merindukanmu…..
Juwita 10 Mei 02.17” (Malam itu, SMS Terakhirmu)
Pangkep, 10 October 2014 | 03:3467 44
Bahkan kini aku ada paling depan diantara kerumunan orang yang berdoa dan menangis untukmu.
Kau tahu? Perjumpaan kita adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Perjumpaan yang sejak awal sepenuhnya kusadar bahwa segala sesuatu memang kembali berakhir, pasti getir dan bakal meninggalkan jejak sepi rindu yang panjang, tapi aku tak pernah merasa bahwa mengenalmu adalah luka yang harus kutangisi.
Benar katamu. Hidup adalah wadah untuk belajar setiap waktu. Ya, aku memang terus belajar. Belajar dari semua rentetan peristiwa yang sambung menyambung tanpa pernah kurencanakan ini.
Belajar dari betapa kehadiran sesaatmu itu telah memporak-poranda hatiku sedemikian rupa. Kehadiranmu yang memang seharusnya membuatku kian tegar, kokoh bagai karang dihempas gelombang.
Tapi tidak, kau bukan sekedar ombak. Kau benar-benar meluluh lantak hatiku. Atau jika kau ombak, aku ternyata bukanlah karang. Aku rapuh. Aku tak setegar dan sekokoh yang kau duga. Mungkin hanya terlihat seperti kokoh dan tegar.
Ah, betapa indah ketika di malam amal itu kau bacakan puisimu.
“Puisi ini adalah karyaku sendiri, ingin kupersembahkan pada siapa yang damba mendamba” Prolog pendekmu.
Kaupun membacakannya dengan gaya santai namun penuh dengan penghayatan. Kata-katamu tidaklah terlalu puitis, tetapi terlihat sekali bahwa kalimat-kalimatmu adalah janin kata yang lahir dari kedalaman rahim hatimu.
CINTA DIAM
Saya mencintaimu diam-diam.
Kamu tidak akan tahu karena memang tak perlu kamu tahu.
Cinta adalah soal rasa seperti halnya rasa lain; benci, rindu, marah, senang, dan seterusnya.
Cinta itu tinggi, bahkan sangat tinggi kedudukannya.
Cinta adalah anugrah pertama Tuhan dalam kehidupan ini.
Adam, moyang kita, tahu pasti hal itu.
Cintalah yang membuatnya ada dan untuk itu diciptakan sorga sebagai istana tempat dia mengekspresikan seluruh rasa-rasanya, termasuk cintanya.
Rindu pada kehadiran seorang wanita sebagai pelengkap dari rasa tak utuhnya adalah manifestasi cinta-Nya jua. Diciptakanlah Hawa sebagai tempat dimana ia dapat menumpahkan rasa tak utuhnya itu……….
Cinta itu tinggi kedudukannya.
Sayangnya ia tak bisa berdiri sendiri, ia tak cukup kuat untuk tidak tidak didampingi oleh rasa yang lain seperti rindu, marah, cemburu, sedih, senang dan seterusnya.
Apakah karena rindu, marah, cemburu, sedih dan senangku engkau tak pernah bisa yakinkan dirimu bahwa sesungguhnya aku mencintaimu???
Apakah karena rindu, marah, cemburu, sedih dan senangmu itu juga sehingga kamu seolah survive dalam kegamanganmu???
Ah, Aku tak akan pernah memberi tahumu, dan memang tak perlu kamu tahu.
Biar saja semua berjalan tanpa ada yang tahu.
Karena aku sungguh-sungguh mencintaimu.
Mencintaimu secara diam-diam.
“Terima kasih”
“Puisinya buat siapa tuh, Mbak?? Betapa berbahagianya lelaki itu”
Belum juga kamu sempat duduk, telah kukirim sms ku.
“Dengar aja nanti MC-nya bilang apa?” balasmu
“Hadirin !! Ada sesuatu yang terlupa oleh pembawa puisi tadi. Kepada siapakah ditujukan puisi itu? Tak ada sebuah nama, bukan? Tetapi hadirin! Kita akan segera mengetahuinya. Menurutnya, puisi itu ditujukan kepada siapa saja yang pertamakali bertanya tentangnya. Dan untuk itu, kita akan periksa hand phone mbak Juwita. Benarkah ada yang bertanya??”
Dengan gaya jenaka, sang MC pun menghipnot para pengunjung sambil berjalan menuju kursi tempatmu berada.
Aku segera memandang ke arahmu. Sekilas kita pun beradu pandang, dan kau senyum-senyum tersipu.
“Hadirin!! Adapun lelaki beruntung itu adalaah.....??”
Sang MC baru saja akan menyebutkan namanya, tetapi tiba-tiba kamu berdiri meminta microphone, berjalan menuju panggung lalu menggantikan posisi sang MC.
“Hadirin! Jujur saja, malam ini seorang lelaki bertanya padaku, Puisinya buat siapa tuh?? Betapa berbahagianya lelaki itu?”
Kaimatmu sambil membuka dan mengangkat handphonemu menghadapkannya kepada para hadirin.
“Tetapi oleh karena puisi tadi adalah puisi cinta diam, maka demi untuk tidak keluar dari konteks ke-diam-annya, dengan berat hati terpaksa tak dapat kusebutkan namanya. Tetapi satu hal, kuharap lelaki itu benar-benar berbahagia, seperti katanya sendiri”
Suara tepuk tangan menggelagar memenuhi gedung kesenian itu. Dengan anggun kau pun melangkah turun sambil menyalami uluran jabat tangan beberapa pengunjung. Sungguh aku terpesona melihatmu.
Ah, mbak Juwita, menurutku kamulah gadis paling beruntung di kota ini. Cantik, kulit putih, hidung mancung, tinggi 167, berat 57, dosen muda, gemar mendaki gunung, kolumnis di beberapa koran, serta digilai oleh banyak lelaki ganteng dan mapan. Tetapi kenapa kamu masih saja sendiri? Aku terus memikirkanmu.
Bagaimana aku tak mengenalmu luar dan dalam? Ayahmu dan ibuku masih saudara. Bahkan aku menjadi lelaki ganteng begini, itu juga berkah dari ASI ibumu. Di keluarga kita semua tahu bahwa kita adalah saudara.
Aku memanggilmu mbak, karena usiaku 2 tahun lebih muda darimu. Tapi tahukah kamu bahwa hingga diusiaku yang sudah 24 ini belum juga mengagumi seorang wanita pun selain dirimu? Ah mbak Juwita! Bagamana ini?? Aku sangat menghormatimu, tetapi aku juga merindukanmu.
“Kok tidak sebut nama sih, Mbak?” Kembali kubertanya via sms.
“Cinta adalah hal yang sulit disembunyikan. Meski begitu, Ia akan lebih indah jika tidak terkatakan tetapi mampu terfahami dengan baik” Balasmu.
Acara pun usai, sungguh aku bersyukur kamu tak langsung pulang. Kudekati, dan aku langsung duduk disampingmu. Kira-kira dua meter dari kita, Mbak Yuli dan Tante Nola juga masih asyik mengobrol.
“Ini semua maksudnya apa, mbak?” Renggekku penasaran.
Hanya senyummu renyah. Nampak gigimu yang berbaris putih disela bibirmu yang ranum bak delima itu.
“Hmm…ceritanya panjang, Ndrong. Kalau kuurai semuanya, kamu bisa menulisnya menjadi beberapa novel” Jawabmu kalem.
Kamu lebih suka memanggilku Ndrong. Rambutku memang gonrong. Kalau duduk bersama Anggun C. Casmi, lalu orang melihatnya dari belakang, pasti memang dikira pinang dibelah dua.
“Tapi gerak hati, selain harus terimplementasikan dengan laku, ia juga harus terlafadzkan toh, mbak?” Desakku lagi.
“Kau meminta mbakmu melafadskannya, Ndrong?
Subhanallah, tiba-tiba matamu bagai embun pada dedaunan saat matahari beranjak naik. Air yang tak jadi menetes karena menguap lalu berkumpul bersama awan. Pernyataanmu barusan, sungguh menjadi pertanyaan yang menari-nari dibenakku.
“Alamak, apa maksud dari pertanyaanmu itu? Hatiku berbunga. Benarkah puisimu itu untukku?” Batinku
“Dalam hidup ini memang kerap kali kita menjumpai hal-hal diluar dari apa yang semestinya. Tapi apapun itu, hidup ini harus disyukuri” Desahmu kemudian.
“Betul, ketika kita berbuat baik, tulus, ikhlas, sebenarnya Allah Yang Maha Rahman Rahim itu seolah membebani dirinya dengan kebaikan kita. Dia seolah berhutang ke kita, begitu kan, mbak?”
Aku kembali mengulang perkataanmu sendiri yang dulu pernah kau bilang padaku.
“Dan bayangin aja kalau Tuhan yang melunasi hutang nya, Ndrong”
“Tentu bukan cara biasa kan?”
“Maka itu kenapa mbak memilih mencintainya sepenuh jiwa, tapi dengan diam”
“Sungguh tak perlu terlafadskan, Mbak?” Desakku sekali lagi.
Kamu tak lagi menjawabnya. Tiba-tiba pandanganmu kosong. Aku lalu berdiri meninggalkanmu menuju toilet. Tak tega kumelihat matamu hampa seperti itu.
Duhai Juwita, sesungguhnya aku teramat merindukanmu, menginginkanmu. Tetapi sekali lagi, kamu adalah mbakku. Apa mungkin?” Batinku terus bergejolak.
“Ndrong, Memang hati itu kodratnya bolak balik, juga karena cinta Tuhan bisa dalam bentuk ujian, termasuk ketika kamu pun tak mampu melafadskannya” Katamu lagi. Dan itu benar-benar membuat lidahku kaku. Sungguh tak kuasa lagi kuberkata-kata.
Malam itu rasa-rasanya nya aku seperti sedang menemukan seorang gadis belasan tahun. Gadis kecil yg bersembunyi pada ketiak waktu yang mungkin sedang patah hati ditinggal kekasih, mungkin dia yatim, atau mungkin sedang lari dari rumahnya. Betapa aku iba dan ingin mencium keningnya, atau sekedar memberinya selimut ketika ia tidur.
“Balik yuk, Wit! Kamu anterin mbakmu ya, Ndrong!”
Tiba-tiba tante Nola dan mbak Yuli telah berdiri didepan kita mengajak pulang. Mereka pasti tidak tahu bahwa dua anak manusia didepannya ini sedang resah melawan rasanya masing-masing.
Dua sahabatmu itu kemudian meninggalkan gedung dan berjalan menuju mobil mereka masing-masing. Kita pun ikut beranjak.
“Mobilnya diparkir dimana, Mbak””
“Disana tuh, depan Kantor Pos Besar”
Kita pun lalu berjalan beriring. Tanganmu menuntun tanganku. Duh, rasanya kita benar-benar seperti sepasang kekasih.
“Kehidupan ini seperti lalu lintas, Ndrong. Kita hanyalah seorang pengendara yang berkelana di jalan iti. Pada gang-gang sempit, jalan raya, trotoar atau mungkin pada pematang sawah. Apakah kita akan melalui jalan raya, lorong atau pematang sawah, apakah pada perempatan jalan raya itu kita akan kekanan, kiri, lurus, melanggar lampu merah atau apa, kitalah yang memilih. Hidup itu pilihan!” Katamu sambil terus menggegngam tanganku.
“Tetapi, semua telah tertulis di langit sana, bukan??” Sambungku
“Hehehe, Iya! Kadang-kadang memang kita bertemu razia polisi atau sesorang yang menyeberang tanpa tengok kekiri dan kekanan” Ujarmu penuh canda sembari dengan lembut mengaca-ngacak rambutku.
Kota Jogja malam itu sepi, angin sedikit kencang disertai hawa dingin. Rintik hujan pelan membasahi jalan. Saat melepas tanganmu ketika mesin telah kau nyalakan, hatiku berdebar-debar, tiba-tiba rasa was-was memenuhi seluruh batinku. Malam minggu menjelang pagi begini, jalan utama menuju rumahmu ramai oleh balapan liar. Tiba-tiba aku takut sesuatu terjadi padamu.
Kau tahu? Betapa enggan kumelepasmu berjalan sendiri. Sebenarnya ingin sekali aku berjalan mengiringimu. Tetapi aku terlanjur berjanji untuk menjemput seseorang di bandara. Seorang gadis yang belakangan ini cukup dekat denganku. Gadis itu adalah Eda yang menurutmu dia itu baik buatku.
Duhai, betapa inginnya ku kecup keningmu malam itu. Betapa inginku kau rasa ketulusan hati ini mengagumimu. Betapa inginnya ku hadir temanimu dalam tidur lelapmu.
“Hati-hati nyetirnya, mbak” Hanya itu yang kukatakan.
“Iya, kamu juga jaga diri baik-baik, Jangan terlalu banyak begadang, kurangi merokok. Sampai jumpa, ya!” Nadamu tetap ceria, tetapi matamu sayu. Itulah kalimat terakhirmu.
Di pagi buta tak lama setelah pertemuan itu, ketika baru saja kami keluar dari pintu gerbang bandara menuju kota, tiba-tiba tante Nola menelponku.
“Kamu ke rumah sakit sekarang. Doakan! Mbakmu kecelakaan”
Begitulah. Enam belas tahun telah berlalu. Masih jelas sekali kata-katamu. “Kehidupan itu seperti lalu lintas, Ndrong. Kita hanyalah seorang pengendara yang berkelana di jalan raya itu”.
Ya! Kita berencana, Tuhan pun berencana. Kebahagiaanku adalah mengenangmu. Mengenang kebersamaan ajaib kita yang hari ini tinggallah air mata yang memata air didasar gundukan tanah gersang.
Inilah kisahmu, tepatnya kisah kita. Kisah yang selalu segar seperti segarnya bunga-bunga yang baru saja kutabur diatas kedua nisan ini.
Selamat Jalan, sayang….
Sungguh aku rindu ingin menemuimu.
Di setiap purnama, membaca sms ini di depan pusaramu, sungguh telah menjadi candu bagiku.
“Mbak mencintaimu. Teramat merindukanmu…..
Juwita 10 Mei 02.17” (Malam itu, SMS Terakhirmu)
Pangkep, 10 October 2014 | 03:3467 44
JURNAL CINTA JANUARI
Aku menerawang. Kau tahu apa yang sedang kuingat??
Malam tahun baru Januari 1998, kuucap cinta pertama kali padamu.
“Selamat tahun baru, dan aku mau bilang, AKU CINTA PADAMU”
Sekilas kau menatapku lekat, tanpa kata, tanpa ekspresi. Aku tak peduli, tetapi sejak itu kita dekat, dan hatiku terus berbunga-bunga.
Mei 1998, disela gempita demonstrasi reformasi, aku bertanya padamu. Ingin kudengar kata tegasmu.
“Bagaimana dengan kata cinta yang pernah kuucap??”.
“Cinta apa, kepada siapa?” Kau justru balik bertanya.
“Lho?? Aku cinta padamu, bukankah dengan tegas kukatakan itu di malam tahun baru??”
“Demi Allah, aku tak mendengarnya. Suara terompet dan petasan terlalu bingar malam itu”
“Lalu kedekatan ini kau anggap apa selama ini??”
“Seperti saudara. Tak lebih”. Katamu.
Alamak!! Aku kaget bukan main. Rupanya kau tak mendengar kalimat sakralku malam itu.
……..Aku terdiam, udara Jogja tiba-tiba terasa gerah bukan main……..
“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih kau telah baik padaku”. Egoku serasa kau tampar.
Sebagai laki-laki Bugis, serindu-rinduku padamu, pantang diriku terlihat rapuh. Aku hendak beranjak, tetapi kau menahanku. Air matamu pun mulai mengalir. Tahukah kau rasaku waktu itu?? Ibarat pengembara tersesat, air matamu kulihat laksana mata air di tengah terik gurun.
“Kenapa kau menangis??” Kau diam cukup lama, dadamu berguncang, dan kurasa kau sedang bertarung dengan rindu yang menggulungmu.
“Sungguh aku pun inginkanmu, berharap kau selalu ada bersamaku, tetapi…..”
“Tetapi apa??”
“Aku takut sungguh aku takut”
“Kenapa??”
“Semua bilang kamu adalah lelaki bajingan”
“Itu urusan mereka. Menurutmu sendiri!?”
“Bajingan juga manusia, dan setiap manusia punya hati. Benar begitu, bukan??” Tatapmu menembus sukmaku.
“Pasti, dan itu yang ingin kubilang padamu. Tahukah kau bahwa kerinduanku pada wanita kali ini membuatku pula terseret pada kerinduan yang pada-Nya, dan wanita itu adalah kamu??”
Terpaksa kupaksa kau meyakiniku. Dan kau memang mengangguk lalu tengadah.
“Aku pegang kata-katamu, pegang pula kata-kataku. Kutunggu kuliahmu selesai, aku janji akan mendampingi hidupmu sepanjang hayat”.
Waktu terus berjalan, liku nasib tak ada yang tahu. Januari 1999, hubungan kita putus. Kau pulang ke tanah Minang kampungmu, aku pulang ke tanah Bugis, kampungku. Selamat tinggal Yogyakarta. Kota yang manisnya tak terlukis oleh kata.
Hari berganti, bulan berlalu, tak lagi ada kabar darimu, pun dariku. Hatiku gundah, hari-hariku hanyalah sepi dan kehampaan. Benar, rezeki, jodoh dan ajal, Allah yang atur. Mimpi itu tinggal kenangan.
Tetapi atas kehendak siapa pulakah ketika tiba-tiba kembali terjalin warta antara kita dijelang abad millennium itu??
Januari Tahun 2000. Didepan penghulu dan mereka yang dicinta dan mencintai kita, bersaksi langit-langit Al-Markaz, kuucaplah hakikinya aksara cinta, Ijab Kabul.
Aku sepenuhnya, kau sepenuhnya, telah hilang lalu lebur menjadi KITA. Sejak itu, persetubuhan jiwa, pun persejiwaan tubuh kita dimulai. Hari-hari kita pun menjadi suka, tawa dan bahagia. Kita memang telah sepakat untuk tidak menangis, bukan??
Tetapi kenapa masih juga kerap kudapati kau menagis, sayang??
********
Januari 2013, kembali kau bertanya padaku.
“Cinta apa, kenapa, cinta pada siapa??”
“Aku cinta padamu. Bukankah dengan tegas telah kukatakan itu 13 tahun lalu??”
“Tidak!! Kini kembali kuragukanmu, nyatanya kau memang seorang bajingan………..” Makimu disela isak tangismu.
Berhari-hari, berbulan-bulan tak pernah kujawabnya. Dan memang tak perlu kujawab. Bukankah kata cukup sekali terlafaz, dan aku telah melafazkannya???
******
Dinihari, Januari 2014, sesaat ketika Desember baru saja pergi, aku ingin mengatakannya. Ingin kujawab pertanyaan tentang cinta tahun lalumu itu.
“Sssttt….” Tetapi tiba-tiba kau letakkan telunjukmu dibibirku. Kau kedipkan sebelah matamu, dan tentu saja kufaham maksudmu.
“Matikan saja lampu itu biarkan gelap, biar hanya bunyi nafas kita yang terdengar, biar saja tetes embun pagi cemburu”.
“Ssssst, jangan disini sayang, nanti anak-anak kita terbangun”.
Hawa dingin menyusup menembus pori-pori. Lantunan ayat-ayat suci dari masjid di sekeliling rumah kita pun mulai berdendang bertalu-talu. Waktu shubuh sebentar lagi akan tiba.
Dan…………Tubuhku tubuhmu, nafasku nafasmu, masih saja lebur jadi satu. Lenyap, senyap………
Amboi, indah nian hidup ini.
“Ya Allah, Tuhan pemilik segala cinta. Lindungi dan ridhoi cinta kami selalu”
*********
Ah, istriku, sungguh aku sedang rindu!!
Selamat, untuk 14 Tahun kesabaranmu.
Pangkep, 20 January 2014
Malam tahun baru Januari 1998, kuucap cinta pertama kali padamu.
“Selamat tahun baru, dan aku mau bilang, AKU CINTA PADAMU”
Sekilas kau menatapku lekat, tanpa kata, tanpa ekspresi. Aku tak peduli, tetapi sejak itu kita dekat, dan hatiku terus berbunga-bunga.
Mei 1998, disela gempita demonstrasi reformasi, aku bertanya padamu. Ingin kudengar kata tegasmu.
“Bagaimana dengan kata cinta yang pernah kuucap??”.
“Cinta apa, kepada siapa?” Kau justru balik bertanya.
“Lho?? Aku cinta padamu, bukankah dengan tegas kukatakan itu di malam tahun baru??”
“Demi Allah, aku tak mendengarnya. Suara terompet dan petasan terlalu bingar malam itu”
“Lalu kedekatan ini kau anggap apa selama ini??”
“Seperti saudara. Tak lebih”. Katamu.
Alamak!! Aku kaget bukan main. Rupanya kau tak mendengar kalimat sakralku malam itu.
……..Aku terdiam, udara Jogja tiba-tiba terasa gerah bukan main……..
“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih kau telah baik padaku”. Egoku serasa kau tampar.
Sebagai laki-laki Bugis, serindu-rinduku padamu, pantang diriku terlihat rapuh. Aku hendak beranjak, tetapi kau menahanku. Air matamu pun mulai mengalir. Tahukah kau rasaku waktu itu?? Ibarat pengembara tersesat, air matamu kulihat laksana mata air di tengah terik gurun.
“Kenapa kau menangis??” Kau diam cukup lama, dadamu berguncang, dan kurasa kau sedang bertarung dengan rindu yang menggulungmu.
“Sungguh aku pun inginkanmu, berharap kau selalu ada bersamaku, tetapi…..”
“Tetapi apa??”
“Aku takut sungguh aku takut”
“Kenapa??”
“Semua bilang kamu adalah lelaki bajingan”
“Itu urusan mereka. Menurutmu sendiri!?”
“Bajingan juga manusia, dan setiap manusia punya hati. Benar begitu, bukan??” Tatapmu menembus sukmaku.
“Pasti, dan itu yang ingin kubilang padamu. Tahukah kau bahwa kerinduanku pada wanita kali ini membuatku pula terseret pada kerinduan yang pada-Nya, dan wanita itu adalah kamu??”
Terpaksa kupaksa kau meyakiniku. Dan kau memang mengangguk lalu tengadah.
“Aku pegang kata-katamu, pegang pula kata-kataku. Kutunggu kuliahmu selesai, aku janji akan mendampingi hidupmu sepanjang hayat”.
Waktu terus berjalan, liku nasib tak ada yang tahu. Januari 1999, hubungan kita putus. Kau pulang ke tanah Minang kampungmu, aku pulang ke tanah Bugis, kampungku. Selamat tinggal Yogyakarta. Kota yang manisnya tak terlukis oleh kata.
Hari berganti, bulan berlalu, tak lagi ada kabar darimu, pun dariku. Hatiku gundah, hari-hariku hanyalah sepi dan kehampaan. Benar, rezeki, jodoh dan ajal, Allah yang atur. Mimpi itu tinggal kenangan.
Tetapi atas kehendak siapa pulakah ketika tiba-tiba kembali terjalin warta antara kita dijelang abad millennium itu??
Januari Tahun 2000. Didepan penghulu dan mereka yang dicinta dan mencintai kita, bersaksi langit-langit Al-Markaz, kuucaplah hakikinya aksara cinta, Ijab Kabul.
Aku sepenuhnya, kau sepenuhnya, telah hilang lalu lebur menjadi KITA. Sejak itu, persetubuhan jiwa, pun persejiwaan tubuh kita dimulai. Hari-hari kita pun menjadi suka, tawa dan bahagia. Kita memang telah sepakat untuk tidak menangis, bukan??
Tetapi kenapa masih juga kerap kudapati kau menagis, sayang??
********
Januari 2013, kembali kau bertanya padaku.
“Cinta apa, kenapa, cinta pada siapa??”
“Aku cinta padamu. Bukankah dengan tegas telah kukatakan itu 13 tahun lalu??”
“Tidak!! Kini kembali kuragukanmu, nyatanya kau memang seorang bajingan………..” Makimu disela isak tangismu.
Berhari-hari, berbulan-bulan tak pernah kujawabnya. Dan memang tak perlu kujawab. Bukankah kata cukup sekali terlafaz, dan aku telah melafazkannya???
******
Dinihari, Januari 2014, sesaat ketika Desember baru saja pergi, aku ingin mengatakannya. Ingin kujawab pertanyaan tentang cinta tahun lalumu itu.
“Sssttt….” Tetapi tiba-tiba kau letakkan telunjukmu dibibirku. Kau kedipkan sebelah matamu, dan tentu saja kufaham maksudmu.
“Matikan saja lampu itu biarkan gelap, biar hanya bunyi nafas kita yang terdengar, biar saja tetes embun pagi cemburu”.
“Ssssst, jangan disini sayang, nanti anak-anak kita terbangun”.
Hawa dingin menyusup menembus pori-pori. Lantunan ayat-ayat suci dari masjid di sekeliling rumah kita pun mulai berdendang bertalu-talu. Waktu shubuh sebentar lagi akan tiba.
Dan…………Tubuhku tubuhmu, nafasku nafasmu, masih saja lebur jadi satu. Lenyap, senyap………
Amboi, indah nian hidup ini.
“Ya Allah, Tuhan pemilik segala cinta. Lindungi dan ridhoi cinta kami selalu”
*********
Ah, istriku, sungguh aku sedang rindu!!
Selamat, untuk 14 Tahun kesabaranmu.
Pangkep, 20 January 2014
Nestapa BlackBarry
Seusai melakukan safari reuni Makasar-Jogja, aku kembali ke rumah. Berangkat tanggal 15 Desember dan kembali Tanggal 15 Januari. Tepat sebulan.
Hari pertama, suasana rumahku masih diliputi kerinduan satu sama lain. Malamnya, ketika anak-anak telah tidur, dengan bangga kuperlihatkan foto-foto reuni pada istriku. Dia pun terlihat ceria menikmatinya. Foto-foto yang kusimpan dalam sebuah file laptop itu memang semuanya bernuansa ceria. Bagaimana tidak, pertemuan kembali dengan teman-teman pesantrenku baru pertama kalinya setelah lebih dari 20 tahun.
Hari kedua, seharian penuh belum ada kegiatan kecuali menemani anak-anakku bermain di rumah. Usai makan malam, kembali aku dan istriku bercengkerama diberanda rumah.
“Ma, sebentar malam bangunin ya, aku mau sholat lail”
“Hehe, tumben, apa tidak salah dengar nih, Pa? Sholat lail??”
“Ya, ini berkah reuni kali, Ma” Dengan senang kujawab sembari mengecup keningnya.
Soal sholat lail, istriku pasti memang heran. Wajarlah, karena selama ini memang hampir tak pernah kulakukan. Jangankan sholat lail, sholat 5 waktu saja sudah syukur kalau bisa tepat waktu.
Lalu kenapa tiba-tiba aku mulai suka bangun malam, sholat dan mengaji?? Ceritanya sedikit panjang, setidaknya berproses puluhan hari, sebulanlah kira-kira. Kisahnya pun agak unik dan sedikit dialektis.
Sekadar prolog kecil, kebiasaan bangun malam dan mengaji itu kulakukan atas nasihat seseorang yang kukenal saat reuni kemarin itu. Dia seorang ibu rumah tangga yang kebetulan pernah mondok juga walau tidak lama. Mirip-miriplah diriku yang juga meninggalkan pondok sebelum tamat.
Suatu hari via telepon, entah kenapa tiba-tiba saja ku percayainya dan menjadikannya tumpahan segala keluh kesahku. Anehnya, dia pun meresponnya dengan sangat baik. Padahal sejak di pondok dulu, baru kali itulah kami bertemu. Memang, pondok kami terpisah antara santri putra dan santri putri.
Perempuan lettingku itu sungguh berkesan bagiku. Hal paling berkesan adalah support dan motivasinya yang luar biasa. Dia membalikkan nalarku, memapah kepercayaanku, bahwa jalan yang menurutku tak bisa kulalui, menurutnya justru amat layak dan sangat pantas kulalui. Dia meyakinkanku, bahwa dengan rajin membaca Qur’an serta sholat malam, semua masalah akan bisa teratasi. Aku pun seperti menemukan cahaya kebenaranku kembali. Cahaya yang sesungguhnya telah hampir redup dalam gelegak darahku. Gairah yang dulu pernah meledak-ledak dalam diriku. Gairah yang dulu kuyakini sebagai spirit orang-orang-orang besar. Spirit para pemimpin.Gairah Originalku.
*******
Pukul 3.00, aku terbangun.
“Jam berapa, Ma? Sudah jam berapa??” Istriku hanya diam tak menjawab.
“Jam berapa, Ma?”
Sambil mengucek-ngucek mataku, kembali kubertanya. Istriku tetap membisu. Matanya menelusuriku tajam, seperti memendam selidik.
“Ada gerangan apa??” Batinku mulai bertanya-tanya.
Aku segera bangun, sekali lagi aku bertanya. Kali ini nada suaraku agak tinggi.
“Ma! Ini sudah jam berapa??
Tiba-tiba kedua matanya telah berada tepat didepan kedua bola mataku.
“Papa masih mimpi??”
Suaranya seperti sedang menahan beban yang sangat berat.
“Mimpi gimana? Aku tidak sedang mimpi, Ma!”
Sungguh ku tercengang dengan perubahan sikap istriku yang tiba-tiba ini. Sebelum tidur tadi, semua biasa-biasa saja, tak ada masalah sedikitpun.
“Pembohong kamu, Pa!! Kamu telah menyia-nyiakan kepercayaanku! Kamu tidak usah bohong! Kamu tidak bisa membohongiku! Aku ini istrimu. Aku bisa merasakannya. Hatimu tidak disini lagi. Dia hadir dalam tidurku. Hatimu telah ke lain hati”
Bersamaan dengan itu tangisnya pun meledak, Seluruh tubuhnya berguncang. Aku mulai faham apa yang terjadi. Apakah dalam tidurku tadi aku mengigau?
Tiba-tiba wanitaku itu menarik lenganku menuju meja. Sebuah laptop disana telah terbuka.
“Lihat ini!!! Hati dan fikiranmu seluruhnya ke perempuan ini, bukan?? Sungguh tega kamu lakukan itu padaku,Pa?!” Kini dia benar-benar menangis sejadi-jadinya. Tangisan sembilu, tangis yang sungguh menyayat hati.
Subhanallah. Bukankah foto yang ditunjukkannya itu memang benar adalah foto wanita yang telah mencuri hatiku itu? Bagaimana mungkin istriku tahu. Ya Allah, bagaimana mungkin?? Sungguh sebuah ketidakwajaran dan sungguh tak mampu kujangkau dengan nalar.
Aku lalu memeluknya, mendekapnya, kubenamkan wajahnya didadaku.
“Sudah Ma, tenangkan dulu dirimu. Itu semua tidak benar. Kamu hanya mimpi. Apa bijaksana jika secepat itu kau buat kesimpulan? Sudah ya! Kamu harus rasional dong. Itu cemburu buta namanya. Masa sama mimpi cemburu? Sudah ya, biar aku sholat dulu, mumpung belum subuh”
Aku terus membujuknya. Masih saja dia terisak. Kupeluk lebih erat lagi. Kucium keningnya tak henti-henti.
Seusai aku sholat. Meski masih dalam isaknya, istriku terlihat mulai tenang. Mungkin kemarahannya benar-benar habis. Mungkin juga sedang insropeksi diri. Bukankah memang tidak bijak jika membangun kesimpulan hanya dengan rasa?
Disisi lain, hatiku terus dan tak henti bertanya, mimpikah perempuanku ini, atau aku yang mimpi lalu mengigau? Setajam itukah firasat seorang istri?
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dinihari. Aku kembali menyempurnakan sholat malamku dengan witir Dalam doaku kutumpahkan semua sesak dadaku pada-Nya. Kutepis semua rasa malu-maluku lantaran selama ini jarang aku berdoa.
Ya Rabb, begitu banyak sudah dosaku selama ini. Ampunkan ya Allah. Bimbinglah, berikan petunjuk-Mu ….. Sungguh hatiku nestapa, ya Rabb……
Ya Allah, jika hati ini tiba-tiba saja tercolek oleh keanggunan perempuan lain, berdosakah aku?? Bukankah aku telah berusaha untuk melawan rasa itu? Bukankah rasa itu datangnya dari-Mu jua? Ya Allah beri aku petunjuk, kumohon padamu, jangan jadikan reuniku ini bencana! Jadikan ia berkah!!
Aku berdoa penuh khusyuk, mataku basah oleh tetes-tetes air yang tiba-tiba saja mengalir tak terbendung. Tumpahlah. Mengalir sajalah. Sungguh memang sudah lama baru kurasakan lagi kehangatan tetes-tetes seperti ini.
Azan subuh berkumandang. Kulihat istriku juga telah siap untuk sholat. Kami lalu melaksanakan sholat berdua, berdoa cukup lama, kemudian berpelukan penuh rindu.
*******
Keesokan harinya, suasana dalam rumah kembali normal seperti hari-hari biasanya. Bahkan hubungan kami semakin mesra rasanya. Tetapi sekali lagi diluar dugaanku, saat aku terbangun hendak melaksanakan sholat lail malam berikutnya, kejadian malam sebelumnya terulang lagi. Kudapati kembali istriku sedang menagis hebat. Lidahku kini kelu, logikaku buntu, dan sepertinya nuraniku sedang didebat oleh nurani yang lain. Dualisme nurani sedang melandaku. Semua benar dalam persepsi dan perspektifnya masing-masing. Aku mungkin bersalah. Ya! Tetapi sesungguhnya belumlah sejauh itu ku terjatuh. Semua masih dalam batas qodrat dan manusiawiku. Tapi istriku, masyaa Allah?? Hatiku sungguh menjerit.
Aku hanyalah lelaki lelah yang sesaat ingin bersantai di ketiak waktu. Tidak lebih. Karena aku tahu.
Aku hanyalah lelaki yang kau pilih dan memilihmu. Pengantin kita pengantin pilihan……
“Sayang!! Apa yang membuatmu begitu pilu?”
“Benarbenar pembohong kamu, Pa!! Tiba-tiba suaranya menggelegar pecahkan malam.
“Katamu Novel padahal tulisan itu adalah luapan emosi hatimu. Aku telah membaca semuanya. Terus terang saja. Hatimu memang tak dirumah ini lagi. Pergiii!! Pergi!!”
Astaghfirullah. Tersadar aku kini dengan kejadian tadi siang. Inilah kenapa istriku begitu mesra dan terus membujuk-bujukku mengajarinya menggunakan blackberry. Sungguh tak ada kecurigaanku sama sekali. Bukankah selama ini istriku tak pernah peduli dengan dunia sosmed?
Yang kutahu, istriku seorang guru, setiap hari ke sekolah, mengajar, dan setelah itu mengurusi segala tetek bengek anak-anaknya. Tak pernah lebih dari itu. Istriku gaptek. Begitulah kesimpulanku. Sungguh diluar kalkulasiku akan rencananya. Kubiarkan saja semua dokumen tetap tersaving disana. Apa boleh buat, malapetaka terjadi sudah.
Semalaman pasti dia tidak tidur dan telah melihat semua isi dokumen smartphone itu. Obrolan bbm, foto, puisi, cerpen, percakapan, bahkan beberapa rekaman suara perempuan itu. Aku menyerah. Tak bisa kumengelak lagi.
Dan diatas dari seluruh kebodohan yang pernah ada dalam sejarah laki-laki, aku mengakuinya. Aku berterus terang bahwa aku memang merindukan wanita lain itu. Aku berfikir, bahwa dengan keterus teranganku tentangnya, istriku bisa memaafkanku. Tetapi??
“Tidak!! Aku tak lagi percaya padamu. Kau telah menghianati keagungan ikrar suci kita, sumpah kesetiaan aqad nikah kita. Berani kau bersumpah atas nama Allah?? Berani?? Kamu tidak berani, kan?? Istriku terus berteriak-teriak. Matanya menyala-nyala.
Sumpah atas nama Allah??
Ya ampun, tentu saja aku tak berani kalau sumpah itu mengenai pembelotan rasaku saat ini. Bukankah wanita lain itu memang sedang ada mengisi bagian lain sisi hatiku. Benar, aku merindukanya. Demikian batinku.
“Brruaak!!” Sebuah kursi melayang nyaris menimpa wajahku. Tanganku sempat tergores.
“Urusi anak-anakmu!! Ceraikan Aku besok!!”
Mendengar kalimat itu, nafasku seolah berhenti. Aku tahu betul karakter perempuan minang yang telah bersamaku belasan tahun itu. Dia tidak main-main.
Kini aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ternyata hidup berumah tangga belasan tahun tak juga membuatku faham sejatinya wanita. Wanita memang tidak layak dijujuri.
Ku akui aku bersalah, tetapi didasar hatiku juga tersimpan kecewa. Benarkah kejujuran tidak lagi punya arti? Benarkah sejatinya wanita memang harus dibohongi??
“Duhai perempuanku! Tidakkah kau yakini lagi apa yang sejak dulu telah kau yakini dan kau buktikan?
Cintaku bukanlah kau melihat fatamorgana, sayang. Cintaku adalah kau sedang berenang di telaga bening nan dalam itu. Cintaku adalah awan putih yang sedang kau terbangi. Kamu hanya lelah seperti aku lelah”
Bukan kita yang menghapus dan menetapkan apa yang Dia Kehendaki. Cinta kita tak mampu menjangkau Lauhun Mahfuzh.
Kaukah yang memilih dilahirkan sebagai perempuan?? Bukan. Sebagaimana juga tak pernah aku memilih dilahirkan sebagai laki-laki.
Saat kau melihatku dan kau jatuh hati padaku, kaukah yang memilih?? Begitulah pulalah denganku”
“Aku tak pernah merekayasa hatiku untuk jatuh. Tenangkan dululah hatimu, sayang…” Sekali lagi berusaha ku membujuknya.
“Tetapi kau suamiku. Bahwa ragamu, bahwa kau milikku..bahwa kau menafkahiku lahir batin, itu tak kupungkiri. Tetapi seharusnyalah aku juga memiliki hatimu. Karena kaulah aku ada disini. Karena kaulah semua keindahanku kutinggalkan. Aku tak rela kau bebagi” Nada suaranya kembali tinggi. Tetapi dibalik itu, kurasakan betapa terpukul hatinya. Ribuan duka telah kami lewati bersama, tetapi aku belum pernah melihatnnya berduka seduka sekarang ini. Nampak sekali kesesdihan itu diwajahnya. Memelas seperti perempuan muda yang baru saja ditinggal mati suaminya.
Duhai istriku……
Dan langit telah di tinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan agar kamu tidak merubah keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kau merubah keseimbangan itu (55.7-9)
Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar dilautan bagai gunung-gunung. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55.24-25)
Ketahuilah, sayang…………….
Cinta itu langit. Dan kita hanyalah seperti kapal-kapal itu.
Bukankah Tuhan telah membiarkan dua laut yang mengalir yang keduannya lalu bertemu sedang
diantara keduanya ada batas-batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing??
Begitulah sepenggal kisah yang sedang kau cemburui ini, sayang. Tidak Lebih!
“Sudahlah. Cinta yang kita bahas ini bukanlah kekekalan. Semua dibumi ini akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55.26-28)”
Entah aku bicara apa barusan, semua mengalir begitu saja. Mungkin karena sedemikian tak kusangkanya fakkta pahit ini bisa terjadi. Apalagi hanya karena kecerobahan sepele, blackberry.
Hatiku kian bimbang. Hanya karena semata bodohnya akukah atau karena wanita seperti istriku ini memang tak layak disandingkan dengan wanita lain?? Bahkan nuraniku pun tak lagi punya jawaban.
********
Dua kali 24 jam kami tak bertegur sapa. Diam. Dia marah atau mungkin sedang instropeksi. Dua hari sudah aku hanya berdiam dirumah, menemani anak-anakku bermain. Aku tidak bisa kemana-mana, pun tak lagi bisa sharing dengan teman-temanku melalui BBM atau facebook. Dompet dan Blackbarryku entah dimana dan bagaimana. Tak apalah, hanya sebuah konsekwensi kecil dari sebuah kekhilafan besar.
Dini hari berikutnya, kembali ku terbangun dan memohon pada-Nya.
“Ya Allah, segala rasa, segala cipta, segala punya
Aku tersungkur diatas sajadah ini
ingin kutiadakan segala batas yang membelenggu
Ya Allah, hambamu benar-benar membutuhkan pertolonganmu
Ya Allah! Andaikan mungkin……….
Aku ingin agar diriku Engkau lebur saja ke dalam cahaya-Mu
Biar saja aku lenyap……………..”
Usai kuberdoa, ketika mataku tak lagi terpejam, kulihat dihadapanku sesosok perempuan yang sangat kusayangi itu telah bersimpuh, meraih dan mencium tanganku. Alhamdulillah ya Allah, demikian maha penyayangnya Engkau.
Tanpa fikir lagi, segera kudekapnya………
“Ucapkan seluruh sesak dadamu, sayang! Lafaz itu penting!”
“Aku minta maaf, Pa! Asal kamu tahu saja, detik ketika kita menikah 13 tahun lalu, aku sudah bersumpah untuk menyerahkan keseluruhanku untuk kau miliki sepenuhnya, seutuhnya”
“Disitulah kelirunya kamu memaknai cinta, sayangku. Aku bukanlah milikmu dan kamu juga bukan milikku. Kita adalah Milik-Nya. Dialah satu-satunya yang memiliki hak apa saja atas kita”
Ucapan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulutku, seperti ada yang membimbing.
Kuseka tetes-tetes bening dimatanya dengan mukena yang dipakainya, kutatap lekat, kutelusuri terus labirin matanya, kurasakan betapa rindu sedang menggulung disana. Rindu yang laksana ombak berkejaran-kejaran menuju pantai.
Kubimbing dia menuju kamar, kunyalakan lampu remang, kusetel music Kenny G, sayup-sayup symfoninya mengalun, mendayu seperti dayu jerit tertahan perawan suci dimalam pertamanya.
Dan seperti seorang pengembara yang melihat telaga di gurun pasir, kutenggelamkan seluruh tubuhku. Menyelam-nyelam hingga ke dasarnya.
“Oh, kemarilah sayang. Kau milikku dan aku memang milikmu………….”
Keesokan paginya, kulihat sesungging senyum sumringah terbersit diwajahnya. Senyum kemenangan, senyum kebahagiaan.
Tanganku masih melingkar ditubuhnya, kukecup pelan daun telinganya, kubisikikkan sebuah kalimat
“Maa..Pinjam BlackBarry dong”
Secepat kilat dia menepis tanganku. Berdiri dan memasang dasternya.
“Maaf , sejak hari ini aku tak percaya lagi padamu” Tegas sekali kalimatnya.
Ponrewaru, 21 January 2014 | 21:2634 00
Hari pertama, suasana rumahku masih diliputi kerinduan satu sama lain. Malamnya, ketika anak-anak telah tidur, dengan bangga kuperlihatkan foto-foto reuni pada istriku. Dia pun terlihat ceria menikmatinya. Foto-foto yang kusimpan dalam sebuah file laptop itu memang semuanya bernuansa ceria. Bagaimana tidak, pertemuan kembali dengan teman-teman pesantrenku baru pertama kalinya setelah lebih dari 20 tahun.
Hari kedua, seharian penuh belum ada kegiatan kecuali menemani anak-anakku bermain di rumah. Usai makan malam, kembali aku dan istriku bercengkerama diberanda rumah.
“Ma, sebentar malam bangunin ya, aku mau sholat lail”
“Hehe, tumben, apa tidak salah dengar nih, Pa? Sholat lail??”
“Ya, ini berkah reuni kali, Ma” Dengan senang kujawab sembari mengecup keningnya.
Soal sholat lail, istriku pasti memang heran. Wajarlah, karena selama ini memang hampir tak pernah kulakukan. Jangankan sholat lail, sholat 5 waktu saja sudah syukur kalau bisa tepat waktu.
Lalu kenapa tiba-tiba aku mulai suka bangun malam, sholat dan mengaji?? Ceritanya sedikit panjang, setidaknya berproses puluhan hari, sebulanlah kira-kira. Kisahnya pun agak unik dan sedikit dialektis.
Sekadar prolog kecil, kebiasaan bangun malam dan mengaji itu kulakukan atas nasihat seseorang yang kukenal saat reuni kemarin itu. Dia seorang ibu rumah tangga yang kebetulan pernah mondok juga walau tidak lama. Mirip-miriplah diriku yang juga meninggalkan pondok sebelum tamat.
Suatu hari via telepon, entah kenapa tiba-tiba saja ku percayainya dan menjadikannya tumpahan segala keluh kesahku. Anehnya, dia pun meresponnya dengan sangat baik. Padahal sejak di pondok dulu, baru kali itulah kami bertemu. Memang, pondok kami terpisah antara santri putra dan santri putri.
Perempuan lettingku itu sungguh berkesan bagiku. Hal paling berkesan adalah support dan motivasinya yang luar biasa. Dia membalikkan nalarku, memapah kepercayaanku, bahwa jalan yang menurutku tak bisa kulalui, menurutnya justru amat layak dan sangat pantas kulalui. Dia meyakinkanku, bahwa dengan rajin membaca Qur’an serta sholat malam, semua masalah akan bisa teratasi. Aku pun seperti menemukan cahaya kebenaranku kembali. Cahaya yang sesungguhnya telah hampir redup dalam gelegak darahku. Gairah yang dulu pernah meledak-ledak dalam diriku. Gairah yang dulu kuyakini sebagai spirit orang-orang-orang besar. Spirit para pemimpin.Gairah Originalku.
*******
Pukul 3.00, aku terbangun.
“Jam berapa, Ma? Sudah jam berapa??” Istriku hanya diam tak menjawab.
“Jam berapa, Ma?”
Sambil mengucek-ngucek mataku, kembali kubertanya. Istriku tetap membisu. Matanya menelusuriku tajam, seperti memendam selidik.
“Ada gerangan apa??” Batinku mulai bertanya-tanya.
Aku segera bangun, sekali lagi aku bertanya. Kali ini nada suaraku agak tinggi.
“Ma! Ini sudah jam berapa??
Tiba-tiba kedua matanya telah berada tepat didepan kedua bola mataku.
“Papa masih mimpi??”
Suaranya seperti sedang menahan beban yang sangat berat.
“Mimpi gimana? Aku tidak sedang mimpi, Ma!”
Sungguh ku tercengang dengan perubahan sikap istriku yang tiba-tiba ini. Sebelum tidur tadi, semua biasa-biasa saja, tak ada masalah sedikitpun.
“Pembohong kamu, Pa!! Kamu telah menyia-nyiakan kepercayaanku! Kamu tidak usah bohong! Kamu tidak bisa membohongiku! Aku ini istrimu. Aku bisa merasakannya. Hatimu tidak disini lagi. Dia hadir dalam tidurku. Hatimu telah ke lain hati”
Bersamaan dengan itu tangisnya pun meledak, Seluruh tubuhnya berguncang. Aku mulai faham apa yang terjadi. Apakah dalam tidurku tadi aku mengigau?
Tiba-tiba wanitaku itu menarik lenganku menuju meja. Sebuah laptop disana telah terbuka.
“Lihat ini!!! Hati dan fikiranmu seluruhnya ke perempuan ini, bukan?? Sungguh tega kamu lakukan itu padaku,Pa?!” Kini dia benar-benar menangis sejadi-jadinya. Tangisan sembilu, tangis yang sungguh menyayat hati.
Subhanallah. Bukankah foto yang ditunjukkannya itu memang benar adalah foto wanita yang telah mencuri hatiku itu? Bagaimana mungkin istriku tahu. Ya Allah, bagaimana mungkin?? Sungguh sebuah ketidakwajaran dan sungguh tak mampu kujangkau dengan nalar.
Aku lalu memeluknya, mendekapnya, kubenamkan wajahnya didadaku.
“Sudah Ma, tenangkan dulu dirimu. Itu semua tidak benar. Kamu hanya mimpi. Apa bijaksana jika secepat itu kau buat kesimpulan? Sudah ya! Kamu harus rasional dong. Itu cemburu buta namanya. Masa sama mimpi cemburu? Sudah ya, biar aku sholat dulu, mumpung belum subuh”
Aku terus membujuknya. Masih saja dia terisak. Kupeluk lebih erat lagi. Kucium keningnya tak henti-henti.
Seusai aku sholat. Meski masih dalam isaknya, istriku terlihat mulai tenang. Mungkin kemarahannya benar-benar habis. Mungkin juga sedang insropeksi diri. Bukankah memang tidak bijak jika membangun kesimpulan hanya dengan rasa?
Disisi lain, hatiku terus dan tak henti bertanya, mimpikah perempuanku ini, atau aku yang mimpi lalu mengigau? Setajam itukah firasat seorang istri?
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dinihari. Aku kembali menyempurnakan sholat malamku dengan witir Dalam doaku kutumpahkan semua sesak dadaku pada-Nya. Kutepis semua rasa malu-maluku lantaran selama ini jarang aku berdoa.
Ya Rabb, begitu banyak sudah dosaku selama ini. Ampunkan ya Allah. Bimbinglah, berikan petunjuk-Mu ….. Sungguh hatiku nestapa, ya Rabb……
Ya Allah, jika hati ini tiba-tiba saja tercolek oleh keanggunan perempuan lain, berdosakah aku?? Bukankah aku telah berusaha untuk melawan rasa itu? Bukankah rasa itu datangnya dari-Mu jua? Ya Allah beri aku petunjuk, kumohon padamu, jangan jadikan reuniku ini bencana! Jadikan ia berkah!!
Aku berdoa penuh khusyuk, mataku basah oleh tetes-tetes air yang tiba-tiba saja mengalir tak terbendung. Tumpahlah. Mengalir sajalah. Sungguh memang sudah lama baru kurasakan lagi kehangatan tetes-tetes seperti ini.
Azan subuh berkumandang. Kulihat istriku juga telah siap untuk sholat. Kami lalu melaksanakan sholat berdua, berdoa cukup lama, kemudian berpelukan penuh rindu.
*******
Keesokan harinya, suasana dalam rumah kembali normal seperti hari-hari biasanya. Bahkan hubungan kami semakin mesra rasanya. Tetapi sekali lagi diluar dugaanku, saat aku terbangun hendak melaksanakan sholat lail malam berikutnya, kejadian malam sebelumnya terulang lagi. Kudapati kembali istriku sedang menagis hebat. Lidahku kini kelu, logikaku buntu, dan sepertinya nuraniku sedang didebat oleh nurani yang lain. Dualisme nurani sedang melandaku. Semua benar dalam persepsi dan perspektifnya masing-masing. Aku mungkin bersalah. Ya! Tetapi sesungguhnya belumlah sejauh itu ku terjatuh. Semua masih dalam batas qodrat dan manusiawiku. Tapi istriku, masyaa Allah?? Hatiku sungguh menjerit.
Aku hanyalah lelaki lelah yang sesaat ingin bersantai di ketiak waktu. Tidak lebih. Karena aku tahu.
Aku hanyalah lelaki yang kau pilih dan memilihmu. Pengantin kita pengantin pilihan……
“Sayang!! Apa yang membuatmu begitu pilu?”
“Benarbenar pembohong kamu, Pa!! Tiba-tiba suaranya menggelegar pecahkan malam.
“Katamu Novel padahal tulisan itu adalah luapan emosi hatimu. Aku telah membaca semuanya. Terus terang saja. Hatimu memang tak dirumah ini lagi. Pergiii!! Pergi!!”
Astaghfirullah. Tersadar aku kini dengan kejadian tadi siang. Inilah kenapa istriku begitu mesra dan terus membujuk-bujukku mengajarinya menggunakan blackberry. Sungguh tak ada kecurigaanku sama sekali. Bukankah selama ini istriku tak pernah peduli dengan dunia sosmed?
Yang kutahu, istriku seorang guru, setiap hari ke sekolah, mengajar, dan setelah itu mengurusi segala tetek bengek anak-anaknya. Tak pernah lebih dari itu. Istriku gaptek. Begitulah kesimpulanku. Sungguh diluar kalkulasiku akan rencananya. Kubiarkan saja semua dokumen tetap tersaving disana. Apa boleh buat, malapetaka terjadi sudah.
Semalaman pasti dia tidak tidur dan telah melihat semua isi dokumen smartphone itu. Obrolan bbm, foto, puisi, cerpen, percakapan, bahkan beberapa rekaman suara perempuan itu. Aku menyerah. Tak bisa kumengelak lagi.
Dan diatas dari seluruh kebodohan yang pernah ada dalam sejarah laki-laki, aku mengakuinya. Aku berterus terang bahwa aku memang merindukan wanita lain itu. Aku berfikir, bahwa dengan keterus teranganku tentangnya, istriku bisa memaafkanku. Tetapi??
“Tidak!! Aku tak lagi percaya padamu. Kau telah menghianati keagungan ikrar suci kita, sumpah kesetiaan aqad nikah kita. Berani kau bersumpah atas nama Allah?? Berani?? Kamu tidak berani, kan?? Istriku terus berteriak-teriak. Matanya menyala-nyala.
Sumpah atas nama Allah??
Ya ampun, tentu saja aku tak berani kalau sumpah itu mengenai pembelotan rasaku saat ini. Bukankah wanita lain itu memang sedang ada mengisi bagian lain sisi hatiku. Benar, aku merindukanya. Demikian batinku.
“Brruaak!!” Sebuah kursi melayang nyaris menimpa wajahku. Tanganku sempat tergores.
“Urusi anak-anakmu!! Ceraikan Aku besok!!”
Mendengar kalimat itu, nafasku seolah berhenti. Aku tahu betul karakter perempuan minang yang telah bersamaku belasan tahun itu. Dia tidak main-main.
Kini aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ternyata hidup berumah tangga belasan tahun tak juga membuatku faham sejatinya wanita. Wanita memang tidak layak dijujuri.
Ku akui aku bersalah, tetapi didasar hatiku juga tersimpan kecewa. Benarkah kejujuran tidak lagi punya arti? Benarkah sejatinya wanita memang harus dibohongi??
“Duhai perempuanku! Tidakkah kau yakini lagi apa yang sejak dulu telah kau yakini dan kau buktikan?
Cintaku bukanlah kau melihat fatamorgana, sayang. Cintaku adalah kau sedang berenang di telaga bening nan dalam itu. Cintaku adalah awan putih yang sedang kau terbangi. Kamu hanya lelah seperti aku lelah”
Bukan kita yang menghapus dan menetapkan apa yang Dia Kehendaki. Cinta kita tak mampu menjangkau Lauhun Mahfuzh.
Kaukah yang memilih dilahirkan sebagai perempuan?? Bukan. Sebagaimana juga tak pernah aku memilih dilahirkan sebagai laki-laki.
Saat kau melihatku dan kau jatuh hati padaku, kaukah yang memilih?? Begitulah pulalah denganku”
“Aku tak pernah merekayasa hatiku untuk jatuh. Tenangkan dululah hatimu, sayang…” Sekali lagi berusaha ku membujuknya.
“Tetapi kau suamiku. Bahwa ragamu, bahwa kau milikku..bahwa kau menafkahiku lahir batin, itu tak kupungkiri. Tetapi seharusnyalah aku juga memiliki hatimu. Karena kaulah aku ada disini. Karena kaulah semua keindahanku kutinggalkan. Aku tak rela kau bebagi” Nada suaranya kembali tinggi. Tetapi dibalik itu, kurasakan betapa terpukul hatinya. Ribuan duka telah kami lewati bersama, tetapi aku belum pernah melihatnnya berduka seduka sekarang ini. Nampak sekali kesesdihan itu diwajahnya. Memelas seperti perempuan muda yang baru saja ditinggal mati suaminya.
Duhai istriku……
Dan langit telah di tinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan agar kamu tidak merubah keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kau merubah keseimbangan itu (55.7-9)
Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar dilautan bagai gunung-gunung. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55.24-25)
Ketahuilah, sayang…………….
Cinta itu langit. Dan kita hanyalah seperti kapal-kapal itu.
Bukankah Tuhan telah membiarkan dua laut yang mengalir yang keduannya lalu bertemu sedang
diantara keduanya ada batas-batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing??
Begitulah sepenggal kisah yang sedang kau cemburui ini, sayang. Tidak Lebih!
“Sudahlah. Cinta yang kita bahas ini bukanlah kekekalan. Semua dibumi ini akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55.26-28)”
Entah aku bicara apa barusan, semua mengalir begitu saja. Mungkin karena sedemikian tak kusangkanya fakkta pahit ini bisa terjadi. Apalagi hanya karena kecerobahan sepele, blackberry.
Hatiku kian bimbang. Hanya karena semata bodohnya akukah atau karena wanita seperti istriku ini memang tak layak disandingkan dengan wanita lain?? Bahkan nuraniku pun tak lagi punya jawaban.
********
Dua kali 24 jam kami tak bertegur sapa. Diam. Dia marah atau mungkin sedang instropeksi. Dua hari sudah aku hanya berdiam dirumah, menemani anak-anakku bermain. Aku tidak bisa kemana-mana, pun tak lagi bisa sharing dengan teman-temanku melalui BBM atau facebook. Dompet dan Blackbarryku entah dimana dan bagaimana. Tak apalah, hanya sebuah konsekwensi kecil dari sebuah kekhilafan besar.
Dini hari berikutnya, kembali ku terbangun dan memohon pada-Nya.
“Ya Allah, segala rasa, segala cipta, segala punya
Aku tersungkur diatas sajadah ini
ingin kutiadakan segala batas yang membelenggu
Ya Allah, hambamu benar-benar membutuhkan pertolonganmu
Ya Allah! Andaikan mungkin……….
Aku ingin agar diriku Engkau lebur saja ke dalam cahaya-Mu
Biar saja aku lenyap……………..”
Usai kuberdoa, ketika mataku tak lagi terpejam, kulihat dihadapanku sesosok perempuan yang sangat kusayangi itu telah bersimpuh, meraih dan mencium tanganku. Alhamdulillah ya Allah, demikian maha penyayangnya Engkau.
Tanpa fikir lagi, segera kudekapnya………
“Ucapkan seluruh sesak dadamu, sayang! Lafaz itu penting!”
“Aku minta maaf, Pa! Asal kamu tahu saja, detik ketika kita menikah 13 tahun lalu, aku sudah bersumpah untuk menyerahkan keseluruhanku untuk kau miliki sepenuhnya, seutuhnya”
“Disitulah kelirunya kamu memaknai cinta, sayangku. Aku bukanlah milikmu dan kamu juga bukan milikku. Kita adalah Milik-Nya. Dialah satu-satunya yang memiliki hak apa saja atas kita”
Ucapan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulutku, seperti ada yang membimbing.
Kuseka tetes-tetes bening dimatanya dengan mukena yang dipakainya, kutatap lekat, kutelusuri terus labirin matanya, kurasakan betapa rindu sedang menggulung disana. Rindu yang laksana ombak berkejaran-kejaran menuju pantai.
Kubimbing dia menuju kamar, kunyalakan lampu remang, kusetel music Kenny G, sayup-sayup symfoninya mengalun, mendayu seperti dayu jerit tertahan perawan suci dimalam pertamanya.
Dan seperti seorang pengembara yang melihat telaga di gurun pasir, kutenggelamkan seluruh tubuhku. Menyelam-nyelam hingga ke dasarnya.
“Oh, kemarilah sayang. Kau milikku dan aku memang milikmu………….”
Keesokan paginya, kulihat sesungging senyum sumringah terbersit diwajahnya. Senyum kemenangan, senyum kebahagiaan.
Tanganku masih melingkar ditubuhnya, kukecup pelan daun telinganya, kubisikikkan sebuah kalimat
“Maa..Pinjam BlackBarry dong”
Secepat kilat dia menepis tanganku. Berdiri dan memasang dasternya.
“Maaf , sejak hari ini aku tak percaya lagi padamu” Tegas sekali kalimatnya.
Ponrewaru, 21 January 2014 | 21:2634 00
Senin, 02 Desember 2013
Makassar 2024
"Wahai dunia, ingin aku sampaikan kepadamu sebuah berita gembira: sebuah peradaban agung, institusi moral, benteng kokoh yang telah melindungi dunia dari depresi kemanusiaan, lampu mercusuar yang telah menerangi dua pertiga dunia selama belasan abad, yang tiba-tiba lenyap oleh konspirasi Negara-Negara Anti Muhammad, hari ini, Ahad, 3 Maret 2024, bertepatan dengan hari keruntuhan khilafah Turki tanggal 03 Maret 1924, 100 tahun lalu, Daulah khilafah Islamiyah itu kini telah tegak kembali di tanah yang di berkati, Mesir.
Oleh karena itu, pada hari ini juga, saya sebagai Khalifah dan pemimpin kaum muslimin seluruh dunia, dengan ini mengambil langkah-langkah revolusioner sebagai berikut:
1. Memutuskan hubungan diplomatic dengan Amerika Serikat.
2. Segera merebut dan menyatukan kembali seluruh wilayah negeri-negeri muslim bekas kekhilafahan Turki.
3. Negara Khilafah menerima dan membuka pintu hijrah seluas-luasnya bagi kaum muslimin yang ingin meninggalkan tanah-tanah nasionalnya di seluruh dunia, untuk menjadi warga negara Khilafah.
4. Negara Khilafah menjamin keamanan kaum Muslimin yang berada dalam wilayah kekhalifahan Mesir.
Pidata politik Khalifah Kaum Muslimin yang disiarkan langsung dari Mesir oleh berbagai media diseluruh dunia itu bagaikan angin puting beliung mengguncang musuh-musuh Islam. Dunia terhentak. Amerika Serikat, Israel dan negara sekutu-sekutunya murka, namun tak mampu berbuat apa-apa. Revolusi senyap itu sungguh diluar dari perkiraan lembaga-lembaga intelejen terbaik dunia sekalipun. Tanggal 03 Maret 2024, Negara Khilafah kembali tegak. Suriah, Turki, Palestina, Irak, Yaman, Pakistan, Afganistan dan Al-Jazair, kini telah kembali menyatu dalam satu naungan Negara Khilafah Mesir. Muhammad Mursi Annabhany telah dibaiat menjadi khalifah kaum muslimin seluruh dunia.
Konstelasi politik dunia kalang kabut. Israel dan Amerika serikat beserta negara-negara sekutunya langsung menekan PBB untuk segera bersidang. Akan tetapi setiap hari negeri-negeri muslim yang sebelumnya tercera-berai menjadi lebih dari 50 negara nation State, satu per satu kembali meleburkan kembali wilayah kedaulatannya ke dalam wilayah kekhilafahan. Dalam seketika khilafah telah menjelma menjadi Negara Adidaya baru.
Amerika Serikat, Israel dan negara-negara barat sekutunya yang lain, benar-benar dalam kegalauan. Invasi militer tidak mungkin mereka lakukan. Perang dan kekacauan yang mereka ciptakan sendiri di Irak, Afganistan, Suriah, Mesir dan beberapa negeri muslim di Timur Tengah lainnya serta kampanye issu teroris yang mereka danai di seluruh dunia, telah menggiring negara-negara kapitalis itu menggali kuburannya sendiri. AS dan Eropa sedang dilanda krisis moneter terparah sepanjang abad ini.
Tidak hanya itu, masyarakat didalam negeri mereka sendiri, juga semakin berbondong-bondong beralih memeluk Islam. Hampir setiap hari unjuk rasa menggugat sistim kapitalisme demokrasi terjadi di negara-negara anti Islam itu. Disisi lain, ribuan ilmuwan-ilmuwan muslim, termasuk beberapa pakar nuklir, ahli astronomi, ahli medical, kimiawan, fisikawan, yang sebelumnya tersebar di seluruh belahan bumi dan bekerja perusahaan-perusahaan Amerika Asia dan Eropa, kini berlomba-lomba meninggalkan pekerjaannya dan memilih hijrah ke Negara khilafah untuk mendermakan keilmuan mereka demi kejayaan Islam.
Demikianlah, janji Allah memang benar. “Apa bila telah datang pertolongan Allah dan telah tiba waktunya kemenangan, maka telah kau lihat manusia berbodong-bondong masuk ke dalam Agama Allah”.
*****************
Sembilan bulan pasca tegaknya Khilafah Mesir, tuntutan mayoritas kaum muslimin Indonesia agar pemerintah Republik Indonesia segera meleburkan wilayahnya kedalam wilayah ke Khilafahan tidak mendapatkan respon yang positif dari pemerintah, bahkan militer cenderung mulai menggunakan pendekatan refresif. Unjuk Rasa di Aceh, Medan, Padang, Yogyakarta dan Bandung semua berakhir dengan kekerasan militer. Beberapa aktivis gerakan Islam di siksa dan di penjarakan. Kini para pejuang syariah berharap banyak pada gerakan pro Khilafah Sulawesi Selatan.
Rabu itu adalah minggu ketiga Zubaedah meliburkan halaqoh. Kondisi tidak lagi memungkinkan untuk mengadakan kajian kitab kebangkitan itu. Pertemuan dan koordinasi dengan teman-teman yang lain dilakukan ekstra hati-hati demi menjaga kerahasiaan agenda.
Rencana telah matang. Tepat pada tanggal 20 Desember nanti, setelah sholat Jum’at akan diadakan unjuk rasa besar-besaran menentang penolakan Presiden Republik Indonesia, Hartawan Dibyo terhadap wacana referendum penggabungan wilayah bekas kesultanan-kesultanan nusantara ke dalam Negara Khilafah Mesir. Tuntutan tersebut saat ini semakin menggelora di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Rakyat sudah muak dengan kehancuran yang dihasilkan oleh sistim kapitalisme secular yang selama ini diterapkan.
Zubaedah sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai menghubungi para muslimah di rumah mereka satu demi satu karena ketatnya pengawasan terhadap adanya kerumunan, hingga membantu menyebarkan bendera Khilafah. Bendera dengan dasar hitam dan putih bertuliskan kalimat syahadat inilah nanti yang akan mereka bawa, bukan merah putih, bendera Indonesia yang menandakan nasionalisme itu.
“Zubaedah, ada telpon dari Zainudding” Lapor Aisyah, teman Zubaedah yang kebetulan ada di maktab membantu menyiapkan perlengkapan demonstrasi. Zainudding adalah Koordinator Lapangan bagi pelaksanaan unjuk rasa. Teman-teman Zubaedah juga sudah mengetahui bahwa Zubaedah telah dipinang oleh Zainudding dan tinggal menunggu hari untuk akad nikah dan walimahnya.
Diambilnya gagang telepon itu setelah sebelumnya mengucap terima kasih.
“Ketahuilah Ukhti, semenjak aku meminangmu, kerinduanku padamu semakin lebur dalam kerinduaanku pada-Nya. Aku ingin segera berjumpa denganmu, tetapi aku lebih ingin lagi segera berjumpa dengan-Nya. Demi Allah, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya. maafkan atas segala khilafku, jaga dirimu baik-baik, Ukhti. Allahu Akbar!! Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Demikian kalimat Zainudding mengakhiri tetelponnya.
“Wa alaikummussaalam warahmatullahi wabarakatuh” Zubaedah meletakkan gagang telepon. Hanya sesaat Zubaedah berbicara dengan Zainuddding. Lelaki itu nampak tak punya waktu banyak dan hanya menyampaikan apa yang dianggapnya penting.
Tiba-tiba hatinya dilanda rindu. Rindu pada lelaki yang cukup lama diselaminya lewat tulisan-tulisannya di media sosial, lelaki yang ketika mengutarakan isi hatinya lewat inboks facebook setahun lalu membuatnya istikharah berulang-ulang. Bagaimana mungkin Zubaedah lembut dan alim itu begitu saja bisa yakin pada lelaki berambut gonrong dengan syair-syairnya yang kadang-kadang liar??
“Unjuk Rasa dipindah ke Karebosi, tidak jadi di Bandara,” Zubaedah memberitahu Aisyah.
“Kenapa?”
“Entahlah, begitu instruksi dari Korlap barusan. Mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apabila pelaksanaan di bandara. Gombara telah diduduki militer. Jika dipaksakan di bandara, militer akan leluasa melumpuhkan kita dengan cepat.”
“Baiklah, aku pamit dulu. Perubahan ini harus segera kuberitahukan kepada yang lainnya” Aisyah segera beranjak. Mereka berpelukan sebelum berpisah.
“Hati-hati, ya ukhti. Jaga kerahasiaan, meski sudah beberapa Jenderal mendukung kita, intel militer nasionalis ada di mana-mana,” Zubaedah mengingatkan Aisyah. Aisyah mengangguk terharu.
“Allah pasti akan memenangkan perjuangan ini. Allahu Akbar. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”
****
Karebosi, pagi hari 20 Desember 2024. Langit mendung memayungi sebagian wilayah Makassar. Orang-orang beraktifitas seperti biasa. Pegawai kantor tetap berangkat kerja ke kantor, yang guru tetap mengajar, yang dokter tetap mengobati pasien, yang pedagang pun juga tetap berjualan.
Suasana mulai berubah menjelang siang. Masjid Al-Markaz penuh sesak oleh jamaah untuk menghadiri sholat Jum’at. Muhammad Nasir Bugis, Syabab Hizbuttahrir yang bermukim di Jeddah pulang kampung dan hari itu akan membawakan khutbah. Seluruh masjid di Makassar dan kota-kota sekelilingnya berisi tema yang sama. Kewajiban Hijrah. Betapa azab Allah akan menghampiri mereka yang tak mau menerapkan hukum Allah dalam segenap aspek kehidupannya. Sudah waktunya rakyat bangkit. Perubahan tak akan terjadi tanpa mereka punya semangat dan kemauan untuk berjuang ke arah yang lebih baik.
Wajah-wajah jamaah terlihat penuh semangat dalam mendengarkan khutbah Jum’at. Mereka semua teraliri semangat para Khatib yang berkhutbah bahwa satu-satunya solusi atas keterpurukan Indonesia adalah Khilafah. Dalam sujud mereka kali itu, Jum’at di siang mendung itu, mereka merasakan kekuatan maha dahsyat untuk bergerak. Wangi minyak kesturi, yang biasa hadir menyambut jasad para syuhada, dengan pelan dan lembut menyelinap dalam shof-shof sholat itu.
Usai munajat panjang para jamaah sholat, diumumkan akan ada demonstrasi besar di Karebosi. Diharapkan segenap masyarakat hadir dan mendukung tuntutan agar pemerintah Republik Indonesia segera menggabungkan diri dengan kekhalifahan di Mesir.
Tepat pukul 14.00 Waktu Indonesia Bagian Timur, lapangan kerebosi telah sesak dengan manusia. Tak diduga, Zainudding, yang di media facebook selama ini hanya dikenal dengan tulisan-tulisannya yang melulu tentang cinta dan nyaris tak pernah bicara revolusi, hari itu berhasil mengkoordinir sekitar 50.000 lebih massa pengunjuk rasa. Terlihat juga barisan muslimah yang ikut hadir dan mendukung demonstrasi. Semua lebur dalam satu agenda, menuntut penggabungan wilayah Republik Indonesia kedalam Daulah khilafah Islamiyah Mesir.
“Ya ukhti, jaga barisan. Tetap di posisi masing-masing, intel militer mudah sekali menyusup bila kita tak hati-hati,”
Zubaedah sibuk mengatur barisan dan menjaganya agar tak ada pihak perusuh yang menyelinap. Tangannya sibuk menyebarkan ikat kepala putih dengan tulisan syahadat bertinta hitam. Lautan manusia terus berdatangan memberi dukungan pada aktifitas siang itu. Pusat-pusat perbelanjaan yang berada di sekitar lapangan tutup lebih awal dan membiarkan para karyawannya bergabung.. Masyarakat terlihat sudah memberi dukungan penuh agar Indonesia segera bergabung dengan Kekhilafahan Mesir. Unjuk rasa ini memang yang lebih difokuskan pada orasi membuka kedok bobrok pemerintahan secular dan agenda referendum.
Orasi dilakukan bergantian oleh para ikhwan. Hinggalah pembicara ketiga, Zainudding, lelaki yang sudah mengkhitbah Zubaedah, seorang penyair tanggung yang diam-diam ternyata merindukan khilafah, berdiri diatas sebuah mobil Pickup dengan sebuah kitab dan megaphone tergenggam ditangan. Setelah mengucap salam, tahmid dan sholawat, ia pun mulai berbicara.
“Revolusi adalah sebuah kepastian, saudaraku. Revolusi yang saya maksud adalah revolusi damai tanpa kekerasan. Rakyat sendirilah yang harus menuntut rezim sekuler agar segera mundur. Pemerintah sekuler dan antek-anteknya tak akan pernah mampu membawa umat ini pada kebangkitan. Hanya Islam saja yang mempunyai solusi atas semua masalah-masalah yang dihadapi negeri ini. Jangan bersedih saudaraku, kita mempunyai banyak saudara lain di belahan bumi sana, di jengkal mana pun ada tanah untuk berpijak di sanalah dakwah Islam digemakan” Begitulah prolog singkat dari Zainudding sebelum melanjutkannya.
“Saya tak akan berorasi kali ini, saya hanya akan membacakan sebuah puisi indah dari Syekh Mahmud Ali, Aktivis senior Ikhwanul Muslimin yang saat ini bergerak diwilayah Amerika dan Eropa.
Zainudding mengambil kertas dari sakunya. Sebelum ia membacakan puisinya, ia menyampaikan salam perjuangan yang disambut dengan gemuruh Allahu Akbar dari para hadirin. Dengan suara lantang dan mata berkaca-kaca, ia mulai membacakan puisinya.
Kepada siapapun penerap hukum selain hukum Allah……
Jangan salahkan matahari jika engkau terpanggang
Jangan salahkan laut jika engkau tenggelam
Dan jangan salahkan bulan jika engkau membusuk
Bagaimana aku tahu itu??
Karena peringatan telah dikitabkan
Bahwa ketika saatnya telah tiba, maka kebatilan memang akan terpanggang, tenggelam, dan membusuk dan kalian pun menjadi ulat-ulat menjijikkan
Hari ini, janji itu benar-benar telah tiba
Kebenaran telah menjadi cahaya benderang di bumi khilafah
Dan didalam kuburan sejarah sana……..
Kapitalisme, sekularisme dan nasionalisme sedang menangisi nasibnya
Tiada kemuliaan tanpa Islam
Tiada Islam tanpa syariah
Tiada Syariah yang kaffah tanpa khilafah
Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!
Tegakkan Khilafah!!!
Campakkan Nasionalisme!!
Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!
Pemuda itu terus membakar semangat massa dan disambut dengan pekik Allahu Akbar oleh para pengunjuk rasa. Langit Makassar dipenuhi gemuruh takbir menggelegar. Tank-tank militer semakin mendekat, awan pun mulai menggosong oleh asap-asap mesiu dan gas air mata. Sekali lagi tanpa gentar sekalipun, pemuda itu kembali menantang penguasa.
Maka wahai presiden Dibyo!!
Kini pilihanmu hanya dua; Menjadi terhormat dengan tetap memimpin kami sebagai gubernur dalam wilayah kekhilafahan, atau bergabung dengan khila…………
Allaaaaaaaahu Akbar!!!!!!!!!!!!
Tretettetetetet..tet..tet..tet..tet..belum lagi pemuda itu menyelesaikan orasinya, tiba-tiba suara tembakan beruntun menerjang para pengunjuk rasa. Timah-timah panas bagaikan hujan deras yang datang tiba-tiba menyapu seluruh lapangan yang sesak dengan manusia. Gemuruh takbir perlahan berganti desing senjata-senjata otomatis. Darah berceceran disana-sini, ribuan demonstran tumbang bersimbah darah, karebosi terbakar, Makassar berguncang, kehidupan sekali lagi berduka.
“Lari kearah timur! Isthy, Hana, Inayah, Habibah, bawa ibu-ibu itu berlindung ke masjid raya!”
Zubaedah memberi petunjuk kepada beberapa akhwat untuk menuntun ibu-ibu yang lain yang sedang ketakutan dan bingung hendak kemana. Suara tembakan semakin dekat dan beruntun. Seorang ibu yang berusaha mengangkat tubuh anaknya yang terluka, terjungkal terkena peluru dari jarak dekat.
“Hartini, lari ke sebelah sini” teriak Zubaedah pada Hartini yang sedang menggendong bayinya yang baru berumur 9 bulan.
Sambil berlari merangkak dengan sebuah tas jinjing ditangannya, Zubaedah kini teringat pada lelaki yang membawakan puisi tadi.
“Zainudding masih di podium meneriakkan takbir ketika tembakan terdengar” Batinnya.
Tanpa fikir panjang, Zubaedah pun segera berbelok arah. Ia tak peduli lagi dengan peluru-peluru yang terus berluncuran membabi buta.
“Zubaedah, berlindung Ukhti!! Jangan ke arah podium, di situ pusat tembakan terjadi,” Akhi Abdul Rahim berteriak mengingatkanya. Zubaedah hanya melambaikan tangannya dan bergegas menuju arah yang dilarang itu.
Zubaedah, gadis lincah bermental baja dan pantang menyerah, berjalan dengan mengendap-endap. Ditahannya nafas dan juga sesak yang membuncah di dadanya. Bukan sesak karena tak ada udara, tapi sesak karena kemarahan yang menggelora. Tubuh-tubuh para mujahid dakwah itu bergelimpangan di tanah. Akhi Arifuddin, Ismail, ihsan , dan ribuan ikhwan lain yang ia tahu sebagai teman-teman Zainudding di group facebook, syahid.
Unjuk rasa di Karebosi menjadi ladang pembantaian rezim Dibyo kepada para pengemban dakwah yang berusaha mengkhilafahkan Indonesia. Tak pernah Zubaedah melihat mayat sebanyak ini.
“Presiden Hartawan Dibyo laknatullah!!” Zubaedah begitu geram hingga hampir-hampir ia tak mendengar suara laras sepatu militer berjalan ke arahnya.
Allah bersamanya. Ia segera melompat dan bersembunyi di dalam bak sampah besar yang ada di dekatnya. Rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Dengan hati-hati, berusaha diintipnya pemandangan didepannya lewat celah kecil bak sampah.
“Apa yang akan mereka lakukan?” batin Zubaedah geram. Disaksikannya dengan jelas bagaimana tentara-tentara Nasionalis Sekuler itu meletakkan senapan di tangan para Ikhwan. Sebuah kitab karya Assyahid Hasan Al Banna di letakkan di atas kubangan darah dada mayat Zainudding.
Dengan sigap, dipasangnya kamera digital untuk menangkap momen itu. Tak henti bibir dan batin Zubaedah terus mengumandangkan asma Allah, ayat kursi dan doa mohon perlindungan dari dajjal-dajjal berbentuk manusia ini.
Beberapa kali diambilnya adegan para tentara yang berusaha memfitnah para ikhwan itu dengan kameranya. Dizoomnya sehingga tampak begitu jelas. Ya Allah, bantu aku menyampaikan kebenaran ini pada dunia. Zubaedah terus berdoa.
Terngiang kembali kalimat Zainudding sebelum meminangnya…
“Ketahuilah Ukhti, aku bukanlah terburu-buru untuk melamarmu, tetapi kerinduanku padamu selama ini telah menjelma menjadi kerinduanku pada-Nya. Aku telah banyak melakukan dosa, aku ingin menebusnya lewat kematian dijalan-Nya”
Begitulah kalimat Zainudding sebelum waktunya habis mempersiapkan unjuk rasa itu. Pemuda yang masa remajanya kelam itu, penyair yang puisi-puisinya sebelum aktif halaqoh kadang-kadang terkesan liar dimata Zubaedah, dan itu pula yang membuatnya tidak segera merespon cinta pemuda itu, kini benar-benar telah menemukan cita-citanya, kembali kepada-Nya membawa kerinduannya pada gadis idamannya itu.
Air mata Zubaedah terus menetes, air mata cinta, air mata revolusi. Tak henti bibirnya bergetar bermunajab.
“Ya Allah, jika kematian belum menjemputku hari ini, perkenankanlah aku suatu hari nanti untuk syahid sebagaimana lelaki itu. Perkenankanlah sebuah pertemuan untuk kami di Sorgamu kelak. Ya Allah, hamba ikhlas, hamba ridha. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Selamat jalan, sayang”
Bibir Zubaedah bergetar, dadanya berguncang. Air matanya kini mengering oleh kemarahannya menyaksikan para wartawan mengambil foto Zainudding dan beberapa syuhada lain sebelum mereka dievakuasi oleh alat-alat berat untuk diangkut entah kemana.
****************
Pada belahan bumi lain, di Jakarta, Presiden Hartawan Dibyo, dalam konfrensi persnya menyebut peristiwa itu sebagai kerusuhan yang disebabkan oleh para teroris. Dengan pongah, Hartawan Dibyo menunjukkan foto para ikhwan yang syahid memegang senjata rekayasa yang diletakkan oleh tentara-tentara suruhannya dan menuduh mereka adalah para teroris. Kelompok Islam tertentu menjadi kambing hitam dari sang Presiden yang juga seorang muslim itu.
Zubaedah selamat. Dunia boleh tertipu oleh ulah Hartawan Dibyo. Tapi rekaman video kecil dan sejumlah foto yang diabadikannya akan menjadi saksi tak terbantah bahwa pernyataan pemerintah palsu. Dengan mata nanar, Zubaedah menatap foto Presiden negerinya itu dengan penuh kemarahan. Kemenangan Islam tak lama lagi, Dibyo!! Batin Zubaedah geram. Tunggu saat pembalasan dari semua kekejian yang telah kamu lakukan terhadap kaum muslimin.
Pada saat yang bersamaan, video dan rekaman amatiran dari kamera digital Zubaedah terus digandakan. Terus dan terus. Tanpa ada hak cipta kecuali kebenaran itu sendirilah yang bakal tercipta.
Sementara itu, bumi Makassar masih basah oleh darah. Belahan bumi yang lain masih terus menggelorakan semangat perubahan dan kebangkitan hakiki. Tiran terus menghantam, pengemban dakwah terus maju berjuang. Hingga saat yang dijanjikan-Nya kembali tiba. Presiden Hartawan Dibyo terjungkal dalam pemilihan presiden. Ahmad Anis yang juga Presiden Partai Kebangkitan Sejati (PKS) menang mutlak. Sejarah Indonesia baru dimulai, dan setahun kemudian Indonesia resmi menjadi bagian dari Daulah Khilafah Islamiyah.
(Teiring cinta berbalut duka untuk Mesir dan Suriah).
Langganan:
Postingan (Atom)




