Jumat, 20 Februari 2015

JURNAL CINTA JANUARI

Aku menerawang. Kau tahu apa yang sedang kuingat??

Malam tahun baru Januari 1998, kuucap cinta pertama kali padamu.

“Selamat tahun baru, dan aku mau bilang, AKU CINTA PADAMU”

Sekilas kau menatapku lekat, tanpa kata, tanpa ekspresi. Aku tak peduli, tetapi sejak itu kita dekat, dan hatiku terus berbunga-bunga.

Mei 1998, disela gempita demonstrasi reformasi, aku bertanya padamu. Ingin kudengar kata tegasmu.

“Bagaimana dengan kata cinta yang pernah kuucap??”.

“Cinta apa, kepada siapa?” Kau justru balik bertanya.

“Lho?? Aku cinta padamu, bukankah dengan tegas kukatakan itu di malam tahun baru??”

“Demi Allah, aku tak mendengarnya. Suara terompet dan petasan terlalu bingar malam itu”

“Lalu kedekatan ini kau anggap apa selama ini??”

“Seperti saudara. Tak lebih”. Katamu.

Alamak!! Aku kaget bukan main. Rupanya kau tak mendengar kalimat sakralku malam itu.

……..Aku terdiam, udara Jogja tiba-tiba terasa gerah bukan main……..

“Ya sudah kalau begitu. Terima kasih kau telah baik padaku”. Egoku serasa kau tampar.

Sebagai laki-laki Bugis, serindu-rinduku padamu, pantang diriku terlihat rapuh. Aku hendak beranjak, tetapi kau menahanku. Air matamu pun mulai mengalir. Tahukah kau rasaku waktu itu?? Ibarat pengembara tersesat, air matamu kulihat laksana mata air di tengah terik gurun.

“Kenapa kau menangis??” Kau diam cukup lama, dadamu berguncang, dan kurasa kau sedang bertarung dengan rindu yang menggulungmu.

“Sungguh aku pun inginkanmu, berharap kau selalu ada bersamaku, tetapi…..”

“Tetapi apa??”

“Aku takut sungguh aku takut”

“Kenapa??”

“Semua bilang kamu adalah lelaki bajingan”

“Itu urusan mereka. Menurutmu sendiri!?”

“Bajingan juga manusia, dan setiap manusia punya hati. Benar begitu, bukan??” Tatapmu menembus sukmaku.

“Pasti, dan itu yang ingin kubilang padamu. Tahukah kau bahwa kerinduanku pada wanita kali ini membuatku pula terseret pada kerinduan yang pada-Nya, dan wanita itu adalah kamu??”

Terpaksa kupaksa kau meyakiniku. Dan kau memang mengangguk lalu tengadah.

“Aku pegang kata-katamu, pegang pula kata-kataku. Kutunggu kuliahmu selesai, aku janji akan mendampingi hidupmu sepanjang hayat”.

Waktu terus berjalan, liku nasib tak ada yang tahu. Januari 1999, hubungan kita putus. Kau pulang ke tanah Minang kampungmu, aku pulang ke tanah Bugis, kampungku. Selamat tinggal Yogyakarta. Kota yang manisnya tak terlukis oleh kata.

Hari berganti, bulan berlalu, tak lagi ada kabar darimu, pun dariku. Hatiku gundah, hari-hariku hanyalah sepi dan kehampaan. Benar, rezeki, jodoh dan ajal, Allah yang atur. Mimpi itu tinggal kenangan.

Tetapi atas kehendak siapa pulakah ketika tiba-tiba kembali terjalin warta antara kita dijelang abad millennium itu??

Januari Tahun 2000. Didepan penghulu dan mereka yang dicinta dan mencintai kita, bersaksi langit-langit Al-Markaz, kuucaplah hakikinya aksara cinta, Ijab Kabul.

Aku sepenuhnya, kau sepenuhnya, telah hilang lalu lebur menjadi KITA. Sejak itu, persetubuhan jiwa, pun persejiwaan tubuh kita dimulai. Hari-hari kita pun menjadi suka, tawa dan bahagia. Kita memang telah sepakat untuk tidak menangis, bukan??

Tetapi kenapa masih juga kerap kudapati kau menagis, sayang??

********

Januari 2013, kembali kau bertanya padaku.

“Cinta apa, kenapa, cinta pada siapa??”

“Aku cinta padamu. Bukankah dengan tegas telah kukatakan itu 13 tahun lalu??”

“Tidak!! Kini kembali kuragukanmu, nyatanya kau memang seorang bajingan………..” Makimu disela isak tangismu.

Berhari-hari, berbulan-bulan tak pernah kujawabnya. Dan memang tak perlu kujawab. Bukankah kata cukup sekali terlafaz, dan aku telah melafazkannya???

******

Dinihari, Januari 2014, sesaat ketika Desember baru saja pergi, aku ingin mengatakannya. Ingin kujawab pertanyaan tentang cinta tahun lalumu itu.

“Sssttt….” Tetapi tiba-tiba kau letakkan telunjukmu dibibirku. Kau kedipkan sebelah matamu, dan tentu saja kufaham maksudmu.

“Matikan saja lampu itu biarkan gelap, biar hanya bunyi nafas kita yang terdengar, biar saja tetes embun pagi cemburu”.

“Ssssst, jangan disini sayang, nanti anak-anak kita terbangun”.

Hawa dingin menyusup menembus pori-pori. Lantunan ayat-ayat suci dari masjid di sekeliling rumah kita pun mulai berdendang bertalu-talu. Waktu shubuh sebentar lagi akan tiba.

Dan…………Tubuhku tubuhmu, nafasku nafasmu, masih saja lebur jadi satu. Lenyap, senyap………

Amboi, indah nian hidup ini.

“Ya Allah, Tuhan pemilik segala cinta. Lindungi dan ridhoi cinta kami selalu”

*********

Ah, istriku, sungguh aku sedang rindu!!
Selamat, untuk 14 Tahun kesabaranmu.



Pangkep, 20 January 2014


Nestapa BlackBarry

Seusai melakukan safari reuni Makasar-Jogja, aku kembali ke rumah. Berangkat tanggal 15 Desember dan kembali Tanggal 15 Januari. Tepat sebulan.

Hari pertama, suasana rumahku masih diliputi kerinduan satu sama lain. Malamnya, ketika anak-anak telah tidur, dengan bangga kuperlihatkan foto-foto reuni pada istriku. Dia pun terlihat ceria menikmatinya. Foto-foto yang kusimpan dalam sebuah file laptop itu memang semuanya bernuansa ceria. Bagaimana tidak, pertemuan kembali dengan teman-teman pesantrenku baru pertama kalinya setelah lebih dari 20 tahun.

Hari kedua, seharian penuh belum ada kegiatan kecuali menemani anak-anakku bermain di rumah. Usai makan malam, kembali aku dan istriku bercengkerama diberanda rumah.

“Ma, sebentar malam bangunin ya, aku mau sholat lail”

“Hehe, tumben, apa tidak salah dengar nih, Pa? Sholat lail??”

“Ya, ini berkah reuni kali, Ma” Dengan senang kujawab sembari mengecup keningnya.

Soal sholat lail, istriku pasti memang heran. Wajarlah, karena selama ini memang hampir tak pernah kulakukan. Jangankan sholat lail, sholat 5 waktu saja sudah syukur kalau bisa tepat waktu.

Lalu kenapa tiba-tiba aku mulai suka bangun malam, sholat dan mengaji?? Ceritanya sedikit panjang, setidaknya berproses puluhan hari, sebulanlah kira-kira. Kisahnya pun agak unik dan sedikit dialektis.

Sekadar prolog kecil, kebiasaan bangun malam dan mengaji itu kulakukan atas nasihat seseorang yang kukenal saat reuni kemarin itu. Dia seorang ibu rumah tangga yang kebetulan pernah mondok juga walau tidak lama. Mirip-miriplah diriku yang juga meninggalkan pondok sebelum tamat.

Suatu hari via telepon, entah kenapa tiba-tiba saja ku percayainya dan menjadikannya tumpahan segala keluh kesahku. Anehnya, dia pun meresponnya dengan sangat baik. Padahal sejak di pondok dulu, baru kali itulah kami bertemu. Memang, pondok kami terpisah antara santri putra dan santri putri.

Perempuan lettingku itu sungguh berkesan bagiku. Hal paling berkesan adalah support dan motivasinya yang luar biasa. Dia membalikkan nalarku, memapah kepercayaanku, bahwa jalan yang menurutku tak bisa kulalui, menurutnya justru amat layak dan sangat pantas kulalui. Dia meyakinkanku, bahwa dengan rajin membaca Qur’an serta sholat malam, semua masalah akan bisa teratasi. Aku pun seperti menemukan cahaya kebenaranku kembali. Cahaya yang sesungguhnya telah hampir redup dalam gelegak darahku. Gairah yang dulu pernah meledak-ledak dalam diriku. Gairah yang dulu kuyakini sebagai spirit orang-orang-orang besar. Spirit para pemimpin.Gairah Originalku.


*******

Pukul 3.00, aku terbangun.

“Jam berapa, Ma? Sudah jam berapa??” Istriku hanya diam tak menjawab.

“Jam berapa, Ma?”

Sambil mengucek-ngucek mataku, kembali kubertanya. Istriku tetap membisu. Matanya menelusuriku tajam, seperti memendam selidik.

“Ada gerangan apa??” Batinku mulai bertanya-tanya.

Aku segera bangun, sekali lagi aku bertanya. Kali ini nada suaraku agak tinggi.

“Ma! Ini sudah jam berapa??

Tiba-tiba kedua matanya telah berada tepat didepan kedua bola mataku.

“Papa masih mimpi??”

Suaranya seperti sedang menahan beban yang sangat berat.

“Mimpi gimana? Aku tidak sedang mimpi, Ma!”

Sungguh ku tercengang dengan perubahan sikap istriku yang tiba-tiba ini. Sebelum tidur tadi, semua biasa-biasa saja, tak ada masalah sedikitpun.

“Pembohong kamu, Pa!! Kamu telah menyia-nyiakan kepercayaanku! Kamu tidak usah bohong! Kamu tidak bisa membohongiku! Aku ini istrimu. Aku bisa merasakannya. Hatimu tidak disini lagi. Dia hadir dalam tidurku. Hatimu telah ke lain hati”

Bersamaan dengan itu tangisnya pun meledak, Seluruh tubuhnya berguncang. Aku mulai faham apa yang terjadi. Apakah dalam tidurku tadi aku mengigau?

Tiba-tiba wanitaku itu menarik lenganku menuju meja. Sebuah laptop disana telah terbuka.

“Lihat ini!!! Hati dan fikiranmu seluruhnya ke perempuan ini, bukan?? Sungguh tega kamu lakukan itu padaku,Pa?!” Kini dia benar-benar menangis sejadi-jadinya. Tangisan sembilu, tangis yang sungguh menyayat hati.

Subhanallah. Bukankah foto yang ditunjukkannya itu memang benar adalah foto wanita yang telah mencuri hatiku itu? Bagaimana mungkin istriku tahu. Ya Allah, bagaimana mungkin?? Sungguh sebuah ketidakwajaran dan sungguh tak mampu kujangkau dengan nalar.

Aku lalu memeluknya, mendekapnya, kubenamkan wajahnya didadaku.

“Sudah Ma, tenangkan dulu dirimu. Itu semua tidak benar. Kamu hanya mimpi. Apa bijaksana jika secepat itu kau buat kesimpulan? Sudah ya! Kamu harus rasional dong. Itu cemburu buta namanya. Masa sama mimpi cemburu? Sudah ya, biar aku sholat dulu, mumpung belum subuh”
Aku terus membujuknya. Masih saja dia terisak. Kupeluk lebih erat lagi. Kucium keningnya tak henti-henti.

Seusai aku sholat. Meski masih dalam isaknya, istriku terlihat mulai tenang. Mungkin kemarahannya benar-benar habis. Mungkin juga sedang insropeksi diri. Bukankah memang tidak bijak jika membangun kesimpulan hanya dengan rasa?

Disisi lain, hatiku terus dan tak henti bertanya, mimpikah perempuanku ini, atau aku yang mimpi lalu mengigau? Setajam itukah firasat seorang istri?

Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dinihari. Aku kembali menyempurnakan sholat malamku dengan witir Dalam doaku kutumpahkan semua sesak dadaku pada-Nya. Kutepis semua rasa malu-maluku lantaran selama ini jarang aku berdoa.

Ya Rabb, begitu banyak sudah dosaku selama ini. Ampunkan ya Allah. Bimbinglah, berikan petunjuk-Mu ….. Sungguh hatiku nestapa, ya Rabb……

Ya Allah, jika hati ini tiba-tiba saja tercolek oleh keanggunan perempuan lain, berdosakah aku?? Bukankah aku telah berusaha untuk melawan rasa itu? Bukankah rasa itu datangnya dari-Mu jua? Ya Allah beri aku petunjuk, kumohon padamu, jangan jadikan reuniku ini bencana! Jadikan ia berkah!!

Aku berdoa penuh khusyuk, mataku basah oleh tetes-tetes air yang tiba-tiba saja mengalir tak terbendung. Tumpahlah. Mengalir sajalah. Sungguh memang sudah lama baru kurasakan lagi kehangatan tetes-tetes seperti ini.

Azan subuh berkumandang. Kulihat istriku juga telah siap untuk sholat. Kami lalu melaksanakan sholat berdua, berdoa cukup lama, kemudian berpelukan penuh rindu.

*******

Keesokan harinya, suasana dalam rumah kembali normal seperti hari-hari biasanya. Bahkan hubungan kami semakin mesra rasanya. Tetapi sekali lagi diluar dugaanku, saat aku terbangun hendak melaksanakan sholat lail malam berikutnya, kejadian malam sebelumnya terulang lagi. Kudapati kembali istriku sedang menagis hebat. Lidahku kini kelu, logikaku buntu, dan sepertinya nuraniku sedang didebat oleh nurani yang lain. Dualisme nurani sedang melandaku. Semua benar dalam persepsi dan perspektifnya masing-masing. Aku mungkin bersalah. Ya! Tetapi sesungguhnya belumlah sejauh itu ku terjatuh. Semua masih dalam batas qodrat dan manusiawiku. Tapi istriku, masyaa Allah?? Hatiku sungguh menjerit.

Aku hanyalah lelaki lelah yang sesaat ingin bersantai di ketiak waktu. Tidak lebih. Karena aku tahu.

Aku hanyalah lelaki yang kau pilih dan memilihmu. Pengantin kita pengantin pilihan……

“Sayang!! Apa yang membuatmu begitu pilu?”

“Benarbenar pembohong kamu, Pa!! Tiba-tiba suaranya menggelegar pecahkan malam.
“Katamu Novel padahal tulisan itu adalah luapan emosi hatimu. Aku telah membaca semuanya. Terus terang saja. Hatimu memang tak dirumah ini lagi. Pergiii!! Pergi!!”

Astaghfirullah. Tersadar aku kini dengan kejadian tadi siang. Inilah kenapa istriku begitu mesra dan terus membujuk-bujukku mengajarinya menggunakan blackberry. Sungguh tak ada kecurigaanku sama sekali. Bukankah selama ini istriku tak pernah peduli dengan dunia sosmed?

Yang kutahu, istriku seorang guru, setiap hari ke sekolah, mengajar, dan setelah itu mengurusi segala tetek bengek anak-anaknya. Tak pernah lebih dari itu. Istriku gaptek. Begitulah kesimpulanku. Sungguh diluar kalkulasiku akan rencananya. Kubiarkan saja semua dokumen tetap tersaving disana. Apa boleh buat, malapetaka terjadi sudah.

Semalaman pasti dia tidak tidur dan telah melihat semua isi dokumen smartphone itu. Obrolan bbm, foto, puisi, cerpen, percakapan, bahkan beberapa rekaman suara perempuan itu. Aku menyerah. Tak bisa kumengelak lagi.

Dan diatas dari seluruh kebodohan yang pernah ada dalam sejarah laki-laki, aku mengakuinya. Aku berterus terang bahwa aku memang merindukan wanita lain itu. Aku berfikir, bahwa dengan keterus teranganku tentangnya, istriku bisa memaafkanku. Tetapi??

“Tidak!! Aku tak lagi percaya padamu. Kau telah menghianati keagungan ikrar suci kita, sumpah kesetiaan aqad nikah kita. Berani kau bersumpah atas nama Allah?? Berani?? Kamu tidak berani, kan?? Istriku terus berteriak-teriak. Matanya menyala-nyala.

Sumpah atas nama Allah??

Ya ampun, tentu saja aku tak berani kalau sumpah itu mengenai pembelotan rasaku saat ini. Bukankah wanita lain itu memang sedang ada mengisi bagian lain sisi hatiku. Benar, aku merindukanya. Demikian batinku.

“Brruaak!!” Sebuah kursi melayang nyaris menimpa wajahku. Tanganku sempat tergores.

“Urusi anak-anakmu!! Ceraikan Aku besok!!”

Mendengar kalimat itu, nafasku seolah berhenti. Aku tahu betul karakter perempuan minang yang telah bersamaku belasan tahun itu. Dia tidak main-main.

Kini aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ternyata hidup berumah tangga belasan tahun tak juga membuatku faham sejatinya wanita. Wanita memang tidak layak dijujuri.

Ku akui aku bersalah, tetapi didasar hatiku juga tersimpan kecewa. Benarkah kejujuran tidak lagi punya arti? Benarkah sejatinya wanita memang harus dibohongi??

“Duhai perempuanku! Tidakkah kau yakini lagi apa yang sejak dulu telah kau yakini dan kau buktikan?

Cintaku bukanlah kau melihat fatamorgana, sayang. Cintaku adalah kau sedang berenang di telaga bening nan dalam itu. Cintaku adalah awan putih yang sedang kau terbangi. Kamu hanya lelah seperti aku lelah”

Bukan kita yang menghapus dan menetapkan apa yang Dia Kehendaki. Cinta kita tak mampu menjangkau Lauhun Mahfuzh.

Kaukah yang memilih dilahirkan sebagai perempuan?? Bukan. Sebagaimana juga tak pernah aku memilih dilahirkan sebagai laki-laki.

Saat kau melihatku dan kau jatuh hati padaku, kaukah yang memilih?? Begitulah pulalah denganku”

“Aku tak pernah merekayasa hatiku untuk jatuh. Tenangkan dululah hatimu, sayang…” Sekali lagi berusaha ku membujuknya.

“Tetapi kau suamiku. Bahwa ragamu, bahwa kau milikku..bahwa kau menafkahiku lahir batin, itu tak kupungkiri. Tetapi seharusnyalah aku juga memiliki hatimu. Karena kaulah aku ada disini. Karena kaulah semua keindahanku kutinggalkan. Aku tak rela kau bebagi” Nada suaranya kembali tinggi. Tetapi dibalik itu, kurasakan betapa terpukul hatinya. Ribuan duka telah kami lewati bersama, tetapi aku belum pernah melihatnnya berduka seduka sekarang ini. Nampak sekali kesesdihan itu diwajahnya. Memelas seperti perempuan muda yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Duhai istriku……

Dan langit telah di tinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan agar kamu tidak merubah keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kau merubah keseimbangan itu (55.7-9)

Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar dilautan bagai gunung-gunung. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55.24-25)

Ketahuilah, sayang…………….

Cinta itu langit. Dan kita hanyalah seperti kapal-kapal itu.

Bukankah Tuhan telah membiarkan dua laut yang mengalir yang keduannya lalu bertemu sedang

diantara keduanya ada batas-batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing??

Begitulah sepenggal kisah yang sedang kau cemburui ini, sayang. Tidak Lebih!

“Sudahlah. Cinta yang kita bahas ini bukanlah kekekalan. Semua dibumi ini akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (55.26-28)”

Entah aku bicara apa barusan, semua mengalir begitu saja. Mungkin karena sedemikian tak kusangkanya fakkta pahit ini bisa terjadi. Apalagi hanya karena kecerobahan sepele, blackberry.

Hatiku kian bimbang. Hanya karena semata bodohnya akukah atau karena wanita seperti istriku ini memang tak layak disandingkan dengan wanita lain?? Bahkan nuraniku pun tak lagi punya jawaban.

********

Dua kali 24 jam kami tak bertegur sapa. Diam. Dia marah atau mungkin sedang instropeksi. Dua hari sudah aku hanya berdiam dirumah, menemani anak-anakku bermain. Aku tidak bisa kemana-mana, pun tak lagi bisa sharing dengan teman-temanku melalui BBM atau facebook. Dompet dan Blackbarryku entah dimana dan bagaimana. Tak apalah, hanya sebuah konsekwensi kecil dari sebuah kekhilafan besar.

Dini hari berikutnya, kembali ku terbangun dan memohon pada-Nya.

“Ya Allah, segala rasa, segala cipta, segala punya

Aku tersungkur diatas sajadah ini

ingin kutiadakan segala batas yang membelenggu

Ya Allah, hambamu benar-benar membutuhkan pertolonganmu

Ya Allah! Andaikan mungkin……….

Aku ingin agar diriku Engkau lebur saja ke dalam cahaya-Mu

Biar saja aku lenyap……………..”

Usai kuberdoa, ketika mataku tak lagi terpejam, kulihat dihadapanku sesosok perempuan yang sangat kusayangi itu telah bersimpuh, meraih dan mencium tanganku. Alhamdulillah ya Allah, demikian maha penyayangnya Engkau.

Tanpa fikir lagi, segera kudekapnya………

“Ucapkan seluruh sesak dadamu, sayang! Lafaz itu penting!”

“Aku minta maaf, Pa! Asal kamu tahu saja, detik ketika kita menikah 13 tahun lalu, aku sudah bersumpah untuk menyerahkan keseluruhanku untuk kau miliki sepenuhnya, seutuhnya”

“Disitulah kelirunya kamu memaknai cinta, sayangku. Aku bukanlah milikmu dan kamu juga bukan milikku. Kita adalah Milik-Nya. Dialah satu-satunya yang memiliki hak apa saja atas kita”

Ucapan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulutku, seperti ada yang membimbing.

Kuseka tetes-tetes bening dimatanya dengan mukena yang dipakainya, kutatap lekat, kutelusuri terus labirin matanya, kurasakan betapa rindu sedang menggulung disana. Rindu yang laksana ombak berkejaran-kejaran menuju pantai.

Kubimbing dia menuju kamar, kunyalakan lampu remang, kusetel music Kenny G, sayup-sayup symfoninya mengalun, mendayu seperti dayu jerit tertahan perawan suci dimalam pertamanya.

Dan seperti seorang pengembara yang melihat telaga di gurun pasir, kutenggelamkan seluruh tubuhku. Menyelam-nyelam hingga ke dasarnya.

“Oh, kemarilah sayang. Kau milikku dan aku memang milikmu………….”

Keesokan paginya, kulihat sesungging senyum sumringah terbersit diwajahnya. Senyum kemenangan, senyum kebahagiaan.

Tanganku masih melingkar ditubuhnya, kukecup pelan daun telinganya, kubisikikkan sebuah kalimat

“Maa..Pinjam BlackBarry dong”

Secepat kilat dia menepis tanganku. Berdiri dan memasang dasternya.

“Maaf , sejak hari ini aku tak percaya lagi padamu” Tegas sekali kalimatnya.


Ponrewaru, 21 January 2014 | 21:2634 00

Rabu, 18 Februari 2015

Demi Bangsa, Katanya


Di negeri ini sebenarnya cukup banyak tokoh-tokoh bangsa yang bisa membawa negeri ini lebih baik. Ada Amin Rais, ada Mahfud, ada JK, Dahlan Iskan, Anis Baswedan, Anis Matta dan seabrek nama besar lainnya.

Satu hal yang jadi tanda tanya besar adalah tidak satu pun diantara tokoh-tokoh ini yang tidak tergoda dengan kursi kekuasaan. Alasannya juga seragam, "Demi Bangsa! Demi Rakyat".

Bahkan ketika pemilu kacau ini telah menggiring dua nama besar Prabowo dan Jokowi sebagai Capres 2014, mereka masih saja kasak krusuk tidak karu-karuan mengejar posisi wakil.

Padahal mestinya kalau mereka benar-benar mau memperbaiki bangsa ini tidak perlu ngototlah untuk masuk menjadi bagian dari eksekutif.
Soal Cawapres, tenang-tenang sajalah. Biarkanlah Prabowo dan Jokowi yang memilih wakilnya. Adapun setelah kedua pasangan nantinya bertarung lalu muncul presiden dan wakil presiden baru, bersatulah.

Bayangkan kalau mereka para tokoh-tokoh hebat itu bersatu menjadi oposisi atau mitra kritis pemerintah, bukankah pemerintahan menjadi stabil lantaran ada poros besar yang menjadi kontrol dan penyeimbang?

Tetapi faktanya apa? Boro-boro oposisi pada pemerintahan kedepan, baru soal calon presiden saja, tokoh-tokoh ini sudah pada mengantri tengadah tangan dibawah kaki Rajawali atau Moncong Putih.


Pangkep, 16 Mei 2014

Kepada seratus delapan puluh satu ribu CALEG yang hari ini gagal menjadi WAKIL RAKYAT.

Pleno KPU belum juga usai, tetapi baca dan lihatlah di berbagai media, betapa banyak caleg atau pendukungnya yang sudah stress, gila, bahkan di Tangerang sudah ada yang melakukan upaya bunuh diri. Subhanallah.


Saya mau bilang pada caleg-caleg yang kalah, intropeksi dirilah, sadarlah, apakah trik-trik yang kalian lakukan kemarin itu benar? Malulah karena sudah ngasih-ngasih uang ke orang untuk memilihmu, bukan harus malu karena tidak terpilih.

Kalian juga para pemilih, malulah karena harga kepalamu sudah dihargai dengan harga 2 ekor ayam potong, 100 ribu. Begitu murahnya harga dirimu. Harga bangsamu. Indonesia benar-benar dititik paling memalukan.

Adapun kalian yang terpilih, bolehlah kalian sementara waktu berbangga atau besar kepala. Tapi ingat, selain dosa-dosa kemenanganmu yang sudah terlalu besar, beban dan pertanggungjawaban akhiratmu lebih-lebih lagi teramat besarnya. Renung-renungkanlah sedikit!!
Intinya mari kita semua sama-sama bertaubat, sama-sama malu pada diri sendiri kita, dan malu pada Tuhan.

Sebagai sesama rakyat yang butuh aktualisasi dan eksistensi ke-anaknegeri-an, sungguh kumengerti perasaanmu malam ini. Sedih, kecewa, sakit hati, bahkan mungkin melihat kehidupan ini tak lagi berputar.

Tetapi ketahuilah, kawan...
Jika orientasi pencaleganmu adalah mencari rejeki, maka setiap jengkal tanah negeri ini, kau punya hak untuk mendapatkan rejeki itu. Tinggal bagaimana kau mengutak-atik otot dan otakmu.

Jika orientasi pencaleganmu adalah ingin berjuang bagi kepentingan rakyat, maka ada jutaan ruang di luar parlemen yang siap menyedot semangat dan darah juangmu. Tinggal bagaimana kau memilih ruang mana yg cocok dan nyaman buatmu.

Dan jika orientasi pencaleganmu adalah sekadar mencari status, maka kau bisa mendapatkan status apa saja dengan rajin2 menulis status di Facebook.

Bersyukurlah!!

Tersenyumlah!!

Kegagalanmu boleh jadi karena Tuhan menyayangimu dan tidak tega melihatmu berkubang dalam lumpur busuk...
bernama DEMOKRASI.

Sekali lagi buat caleg yang kalah, lebih baik perbaiki niat dan perbaiki ibadah dari sekarang. Insya Allah kalian akan bertemu kembali mereka yang menang di akhirat kelak. Disitulah nanti kita akan tahu siapa yang LOLOS atau TIDAK LOLOS dari api neraka.

TATTO REVOLUSI MENTAL SUSI

Banyak sekali yang ribut tentang ibu ini. Ibu Susi, ibu Menteri. Ada yg protes, menteri kok cuma lulusan SMP, punya tato dibetisnya, suaminya tiga orang sekaligus dan suka tidak pakai BH. Hehe, tentang kebenaran semua itu ya wallahu a'lamlah. Toh counter opini dari pendukung ibu menteri ini untuk semua nada miring itu logis juga. Anggelina Sondakh, Putri Indonesia yang sarjana dan tidak perokok itu ternyata masuk bui juga. Ratu Atut yang berjilbab, tidak bertato dan hanya bersuami satu itu juga nyatanya ngemplang duit rakyat. Jadi sama saja.

Menurut saya sih tidak ada yang perlu diributkan. Biarkan saja Jokowi-JK buat semau yang mereka suka. Toh Rakyat Indonesia lebih banyak memilih mereka sebagai pemimpin, bukan? Artinya, jika persoalan ibu Susi ini memang sedikit janggal atau agak bertentangan dengan pendidikan moral pancasila atau iklan anti rokok, ya mari percayakan pada Jokowi-JK untuk merevolusi mentalnya.

Adapun bagi yang memang tidak memilih Jokowi-JK kemarin, ya ngapain juga ribut-ribut. Toh tidak harus bertanggung jawab secara moral karena telah salah memilih Jokowi yang salah pilih menteri itu, bukan?

Tapi begitulah. Sebahagian anak-anak bangsa ini kelihatannya memang punya kelainan. Doyan sekali mendewa-dewakan seseorang yang Calon Presiden tetapi begitu sudah jadi Presiden, malah kembali setengah mati dihujat-hujatnya sendiri.

Jadi sudahlah. Kasihan ibu-ibu dirumah yang hati nuraninya sudah pasti tidak pernah memimpikan putri-putrinya berprofil seperti ibu Susi tetapi kini harus membela matian-matian ibu Susi lantaran tidak enak hati karena terlanjur terlalu memuja-muja Pak Joko atau Pak JK pada pilpres kemarin.



Makassar, 28 Oktober 2014 •

SAMA SAJA

Untuk malam, angin, rintik hujan, suara kendaraan, sofa, lemari, lukisan rumah kuno, kusri putar, syrup, kalkulator dan kertas-kertas terserak.
Untuk politisi, pengusaha, ulama, perempuan, lelaki dan segala bisikan halus yang sedang mengajakmu ingkar dari komitmen-komitmen yang telah terbangun.

Tengoklah keatas kini. Kekiri dan kekanan. Balikkan badanmu kebelakang. Rasakan sesuatu sampai reaksi bulu-bulu dibadanmu menyadarkanmu bahwa dibalik yang tidak kau lihat, ada dua bola mata yang sedang mengawasimu dengan tajam. Mata yang tak pernah berkedip agar tak sedikitpun momen gerak-gerakmu lepas. Tangannya terus menulis.

Mata siapakah itu? Tangan siapakah itu. Untuk apa dia menulismu?
Pejamkan matamu, perhatikan suara-suara itu. Dengarkan suara apa saja yang ditangkap oleh gendang telingamu. Selaraskan hembus nafasmu dengannya. Amati seksama.

Suara apa dan suara siapakah itu?
Maka ketika kau memandang kaukah yang memandang. Ketika kau menulis kaukah pemilik tinta-tinta itu. Ketika kau rindu, kau benci, kepada siapakah kau rindu dan benci?

Lampu-lampu benderang. Pun televisi dan handphonemu terus menyala. Listrik telah menjadi kebutuhan vitalmu melebihi kebutuhanmu pada ibu dan bapak. Pada anak dan istri. Pada persahabatan. Pada sesama manusia.
Berapa harga nyawamu, Senilai uang berapa harga dirimu?
Ah kawan, sepertinya kau sama saja dengan mereka. Difikiranmu hanya benda-benda………..



Makassar, 04 September 2014

Indonesia, Aku Rindu Lagu itu


“Kau tidak lagi mencintaiku?”
“Kenapa kau tanya begitu??”
“Kau tidak suka dengan nasionalisme, bukan??” Tanyamu lagi
“Iya, jika itu berarti bahwa harus negaralah sebagai puncak dari loyalitasku”

Kau diam, lalu kita tidak lagi pernah bertegur sapa.
Bertahun-tahun sudah….
Tetapi malam ini
Ah, sungguh aku rindu….
Bagaimana kabarmu?

Maafkan jika belakangan ini tak lagi kuijinkanmu membuka dan membaca catatan-catatan sunyi hatiku…
Bukan karena ku tidak merindumu lagi, tetapi karena aku tak mau seredup doa yang tak pernah padam untukmu ini, terlihat olehmu.
Bagaimana mungkin kubisa melihatmu menangis??

Jika senja mulai memerah dan malam pun tiba, kau tahu??
Aku berdiri memandang langitmu yang penuh bintang-bintang.
Kulihat merahmu dan putihmu berkibar disana.

Kubiarkan seluruh tubuhku menggigil oleh hembus anginmu yang entah kenapa semakin dingin rasanya…
Kerap kali kudengar suaramu seperti memanggil-manggil
Tetapi siapa yang kau panggil?

Suaramu suara tertahan
Suaramu suara yang mistis…
Sedang terlukakah kau, sayang??

Jika malam hendak ke pagi, kau tahu?
Aku selalu gelisah memikirkanmu
Tak pernah kutertidur sebelum sempurna senyummu sarungiku.

Dan jika sudah begitu sayup-sayuplah kudengar lagi kidung kecil kita dulu..
Ya, Tanah Airku Indonesia.

Aku tak pernah lupa lagu itu
Syair yang penyala gelegak darah kita
Yang penabuh gendang kebebasan kita
Yang pengalir damba kemerdekaan hakiki kita

Ah, Indonesiaku
Sungguh mulai ku tak tahan..
Bergetar bibirku kini lafazkannya….

(Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta, tanah tumpah darahku yang mulia, kan kupuja sepanjang masa…..)

Makassar, 28 Agustus 2014